Tabuik, Tradisi Unik yang telah Mengakar Kuat di Masyarakat Pariaman

 

Tabuik. Foto: indonesiakaya.com

     Tabuik merupakan tradisi unik yang telah mengakar kuat di masyarakat Pariaman. Perayaan ini tidak hanya menjadi bagian dari kalender budaya lokal tetapi juga memiliki makna religius yang mendalam. Tabuik diperi-ngati setiap tahun pada bulan Muharram, bertepatan de-ngan hari wafatnya Imam Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.

     Tabuik sendiri berasal dari kata "tabut" yang dalam bahasa Arab berarti peti atau keranda. Dalam konteks Tabuik, tabuik ini melambangkan keranda Imam Hussein. Tradisi ini merupakan perpaduan unik antara Islam, budaya lokal Minangkabau, dan pengaruh luar seperti India dan Persia. Dan perayaan Tabuik melibatkan serang-kaian acara yang penuh makna di antaranya mengambil tanah. Prosesi diawali dengan mengambil tanah suci di tempat-tempat tertentu sebagai simbol kesucian.

     Selanjutnya membuat Tabuik dan masyarakat bergotong royong membuat tabuik dari bambu dan kertas. Proses pembuatan ini melibatkan seni ukir dan dekorasi yang rumit. Berikutnya arak-arakan di mana tabuik yang telah selesai dibuat kemudian diarak keliling kota dengan diiringi musik tradisional. Dan puncak acara adalah hoyak tabuik, yaitu mengayun-ayunkan tabuik secara bersama-sama. Setelah diarak, tabuik kemudian dibuang ke laut sebagai simbol pelepasan duka cita.

     Tabuik telah menjadi sarana untuk memperdalam iman dan menjalin tali persaudaraan antar umat Islam. Dan perayaan ini mempererat hubungan antar masyarakat dan melestarikan nilai gotong royong. Tabuik merupakan bentuk ekspresi seni yang tinggi, memadukan seni ukir, seni tari, dan musik. Tradisi ini menjadi saksi bisu perja-lanan sejarah dan budaya masyarakat Pariaman.

     Meskipun memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, tradisi Tabuik juga menghadapi berbagai ancaman seperti modernisasi dan perubahan gaya hidup. Oleh karena itu, upaya pelestarian terus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat karena tabuik adalah warisan budaya yang sarat makna, menyatukan agama, seni, dan masya-rakat. Dengan melestarikan tradisi ini, kita tidak hanya menjaga identitas budaya Pariaman, tetapi juga memper-kaya khazanah budaya Indonesia.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url