Hari Raya
Balomang di Hari Raya. Foto: netralnews.com
Pada zaman dulu, di akhir puasa bulan ramadhan, malam harinya diadakan acara malam takbiran. Takbiran itu dilakukan dengan mobil berkeliling dengan sebuah truk atau mobil L300. Biasanya setiap masjid akan mencari dua atau tiga buah mobil untuk pergi malam takbiran. Anak-anak juga boleh ikut tetapi tidak boleh ditepi karena takut nanti bisa jatuh.
Acara takbir keliling dengan mobil itu dengan menurunkan toa masjid dan membawa amplifiernya. Mobil akan berputar-putar keliling kampung dan keliling kota. Namanya di bulan puasa, entah kenapa buah-buahan musim pula. Ketika mobil berjalan melewati pohon rambutan yang dahannya merunduk ke jalan maka si sopir pun dengan penuh pengertian melambat-lambatkan mobilnya di situ. Tentu saling berebutanlah orang-orang di dalam mobil untuk menjangkau rambutan itu. Dan di zaman itu merupakan hal yang biasa.
|
|
Ada juga pada zaman dahulu sekali orang-orang takbiran dengan membawa obor yang telah dipersiapkan sejak siang. Anak-anak dan orang dewasa keliling kampung takbiran sambil membawa obor di sepanjang kampung. Dan tentu orang-orang keluar rumah termasuk anak-anak untuk melihat rombongan yang membawa obor itu.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau