Asrul Datuak Kodo
Asrul Datuak Kodo lahir di Nagari Sungai Talang, Lima Puluh Kota, pada tahun 1952 adalah maestro seni tradisi Sijobang. Takdir membawanya kepada denyut nadi seni tradisi Minangkabau, khususnya Sijobang. Lebih dari sekadar dendang lagu, Sijobang adalah representasi kekayaan budaya Luhak Limo Puluah yang kini menemukan kembali cahayanya melalui dedikasi seorang maestro. Pengakuan nasional yang diraih Asrul melalui Apresiasi Kebudayaan Indonesia (AKI) 2022 dan penetapan Sijobang sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) adalah penanda penting dalam upaya pelestarian identitas budaya bangsa, di mana Asrul Datuak Kodo berdiri tegak sebagai pilar utamanya. Sijobang yang menggunakan kotak korek api merupakan dendang yang khas dengan lirik yang sarat makna, bukanlah sekadar hiburan. Sijobang berisi narasi kehidupan masyarakat Minangkabau, untaian kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kemampuannya untuk diiringi dengan alat musik seperti kecapi dan rebab menambah dimensi artistik yang memperkaya pengalaman mendengarkannya. Namun, pada dekade 70-an, di kampung halaman Asrul Datuak Kodo, gaung Sijobang mulai meredup. Kepergian Tukang Sijobang terakhir meninggalkan kekosongan yang mengancam keberlangsungan tradisi lisan ini. Di sinilah panggilan jiwa Asrul muncul. Dorongan dari masyarakat untuk menghidupkan kembali Sijobang di kampung halamannya menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai seorang penjaga warisan.
Perjalanan Asrul Datuak Kodo mempelajari Sijobang tidaklah mudah. Ia harus menempuh jalan berguru kepada seorang Tukang Sijobang di Nagari Kuranji, membawa bersamanya sejumlah persyaratan simbolis yang mencerminkan nilai-nilai luhur dalam menuntut ilmu. Di antaranya kain putih yang melambangkan ketulusan, pisau tajam harapan ilmu yang bermanfaat, beras sebagai simbol perkembangan ilmu, ayam sebagai semangat berlatih, serta cabe dan garam sebagai metafora rasa dalam dendang. Lebih dari sekadar ritual, persyaratan ini membentuk etika dan mental seorang pewaris tradisi. Metode pembelajaran yang mengandalkan hafalan, di mana guru berdendang dan murid menyimak dengan saksama, menuntut fokus dan ketelitian yang tinggi. Ketiadaan catatan tertulis menjadikan setiap pertemuan dengan guru sebagai kesempatan emas yang tak boleh terlewatkan.
Debut pertama Asrul Datuak Kodo pada tahun 1973 di Tiakar Payobasung menjadi penanda kebangkitan seorang maestro. Kepercayaan yang diberikan sang guru menjadi modal keberaniannya, dan penampilannya semalam suntuk membuktikan bakat dan dedikasinya. Sejak saat itu, undangan untuk membawakan Sijobang terus mengalir, semakin deras ketika sang guru memutuskan untuk pensiun dan akhirnya berpulang pada tahun 1976. Asrul Datuak Kodo, di usia muda, kini memikul tanggung jawab besar sebagai satu-satunya Tukang Sijobang di wilayahnya. Masa keemasannya sebagai pendendang Sijobang membawa berkah materiil dan pengakuan dari masyarakat. Penghasilan yang diterimanya tidak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga memungkinkannya untuk berinvestasi dan meningkatkan taraf hidup.
Pengakuan nasional melalui AKI 2022 dan sertifikasi WBTB bagi Sijobang adalah buah dari ketekunan Asrul dan dukungan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Upaya sistematis dalam pembinaan dan pengusulan, yang dimulai sejak Februari, menunjukkan komitmen untuk melestarikan adat dan budaya Luak Limopuluah. Penghargaan ini bukan hanya milik Asrul semata, tetapi juga milik seluruh masyarakat Limapuluh Kota yang bangga akan warisan budayanya. Sertifikat WBTB menjadi payung hukum untuk melindungi dan memberdayakan Sijobang sebagai identitas unik yang melekat pada komunitas dan wilayahnya.