Azkarmin Zaini

 

Bagi Azkarmin Zaini, menjadi wartawan bukanlah cita-cita masa kecilnya, melainkan sebuah jalan yang dibukakan oleh keadaan. Lahir pada 13 Juni 1946 di Payakumbuh, Azkarmin dibawa merantau ke Jakarta oleh orang tuanya sejak usia empat tahun demi mengubah nasib. Namun, harapan besar keluarganya agar ia menjadi seorang dokter harus berbenturan dengan minat pribadinya yang lebih condong ke dunia teknik. Azkarmin muda sebenarnya memiliki ambisi untuk menjadi seorang insinyur, sebuah gelar yang menurutnya sangat gagah meski ia sendiri belum paham benar spesialisasi apa yang ingin ditekuni. Pendidikan dasar hingga menengahnya ia selesaikan di Jakarta, termasuk di SMP 1 Cikini Raya. Namun, badai kehidupan menerjang ketika ia duduk di kelas 2 SMA; sang ayah, Abbas Zaini, meninggal dunia. Kehilangan tulang punggung keluarga membuatnya harus berpikir keras untuk membantu ibunya, Norbaidah, dalam membesarkan lima bersaudara.

Masa sulit di SMA 3 Teladan Setia Budi hampir membuatnya putus sekolah atau dropout. Beruntung, ia memiliki sahabat karib bernama Aburizal Bakrie, yang akrab disapa Ical. Prihatin melihat kondisi Azkarmin, Ical menceritakan hal tersebut kepada ayahnya, pengusaha Haji Achmad Bakrie. Keluarga Bakrie kemudian mengangkat Azkarmin menjadi bagian dari keluarga mereka, sehingga ia mampu menyelesaikan pendidikan menengahnya dengan baik. Bantuan ini menjadi tonggak penting yang menyelamatkan masa depannya.

Upayanya mengejar gelar insinyur sempat berlanjut di Fakultas Teknik Elektro Universitas Bung Karno, namun takdir berkata lain. Pergolakan politik saat jatuhnya Presiden Soekarno mengakibatkan kampusnya ditutup, dan Azkarmin pun menganggur selama tiga tahun. Titik balik terjadi ketika ia melihat iklan lowongan wartawan di koran Warta Harian milik Yayasan Kosgoro. Tawaran uang saku selama masa pendidikan enam bulan menjadi daya tarik utama baginya demi meringankan beban ekonomi keluarga.

Tak disangka, keterpaksaan itu justru menumbuhkan rasa cinta yang mendalam pada profesi jurnalistik. Karier Azkarmin di Warta Harian melesat sangat cepat; dari reporter lepas hingga menjadi wartawan Istana. Keuletannya membuahkan hasil luar biasa ketika ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi di usia yang sangat muda, yakni 23 tahun. Di bawah komandonya, oplah koran tersebut melonjak berkat keberanian redaksional, termasuk memuat foto-foto sejarah Bung Karno yang sangat diminati pasar.

Keberanian Azkarmin sempat membentur tembok kekuasaan Orde Baru. Pihak Istana dan Kopkamtib merasa terusik dengan rubrik "Lintas Sejarah Soekarno" yang dianggap menghidupkan kembali ruh sang proklamator. Meskipun sempat ditekan oleh Jenderal Soemitro, Azkarmin tetap bergeming hingga akhirnya pemilik koran, Mas Isman, memutuskan untuk menghentikan penerbitan secara mendiri pada tahun 1971. Kejadian ini sempat memukul semangatnya, namun pintu baru segera terbuka di tempat lain.

Selepas dari Warta Harian, Azkarmin bergabung dengan Harian Kompas atas tawaran Jacob Oetama. Menarik-nya, ia bersedia memulai kembali dari bawah sebagai reporter meskipun sebelumnya sudah menjabat sebagai pemimpin redaksi. Di Kompas, kariernya kembali menanjak hingga ia pensiun pada 1990 dengan jabatan Sekretaris Redaksi. Pengalaman jurnalistiknya pun semakin kaya, termasuk keberhasilannya menembus markas PLO di Damaskus untuk mewawancarai Farouk al Kaddoumi pada tahun 1975.

Profesi wartawan membawanya melanglang buana ke 74 negara, mulai dari wilayah Asia, Eropa, hingga Afrika dan Amerika Latin. Salah satu momen paling mengharukan dalam hidupnya adalah ketika ia berkesempatan masuk ke dalam Ka’bah dan menunaikan salat sunat di setiap sudutnya saat mengikuti rombongan Presiden Soeharto. Catatan perjalanan hajinya bahkan dibukukan dan menjadi referensi penting bagi masyarakat, membuktikan bahwa ketajaman penanya diakui secara luas.

Memasuki era 1990-an, Azkarmin merambah dunia penyiaran dengan bergabung ke Antv milik sahabatnya, Aburizal Bakrie. Sebagai Direktur News dan Sport, ia membuktikan bahwa kompetensi jurnalistiknya bersifat adaptif. Ia ikut membidani lahirnya Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan dipercaya sebagai Ketua Dewan Kehormatan yang pertama. Transisinya dari media cetak ke broadcasting justru membuat namanya semakin berkibar di kancah nasional.

Di usia senjanya, Azkarmin tetap berkontribusi bagi dunia pers nasional, termasuk menjadi anggota Dewan Pers pada tahun 2010 dan menjadi perumus revisi UU Pers. Meskipun cita-cita awalnya menjadi insinyur gagal dan harapan orang tuanya menjadi dokter tak kesampaian, ia tidak pernah menyesal. Baginya, menjadi wartawan adalah jalan keberuntungan yang memberinya kearifan hidup. Azkarmin Zaini membuktikan bahwa dengan kecerdikan dan kelihaian membaca situasi, seorang wartawan mampu mengukir sejarahnya sendiri.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url