Erry Way
Dunia musik tradisi Minang di tanah perantauan, khususnya Jakarta, tidak dapat dilepaskan dari peran besar Erry Way. Sebagai salah satu perintis dan penggerak musik tradisi, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk merawat sekaligus mengem-bangkan kekayaan intelektual seni Minangkabau. Melalui tangan dinginnya, musik tradisi tidak sekadar menjadi pengiring tarian, melainkan sebuah identitas yang kuat bagi masyarakat perantau di ibu kota. Darah seni Erry Way mengalir dari akar budaya yang kuat di Luak Limo Puluah. Ibunya berasal dari Nagari Kurai, Suliki, sementara ayahnya berasal dari Koto Kociak, Nagari VII Koto Talago, Kabupaten Lima Puluh Kota. Perpaduan latar belakang keluarga ini memberikan pengaruh mendalam terhadap karakter bermusiknya. Dari rahim budaya Lima Puluh Kota yang kaya akan tradisi lisan dan melodi yang menyentuh, Erry Way menyerap esensi estetika Minangkabau yang nantinya ia tuangkan dalam karya-karya monumental.
Pendidikan formal seni menjadi landasan kokoh bagi karier profesionalnya. Erry Way menempa bakat dan memperdalam disiplin ilmunya di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Padang, yang kini dikenal sebagai SMK Negeri 7 Padang. Di institusi inilah, ia mengasah teknik dan pemahaman teoritis mengenai instrumen serta komposisi musik tradisional. Bekal pendidikan ini menjadikannya sosok seniman yang tidak hanya mengandalkan insting, tetapi juga memiliki kedalaman akademis dalam bermusik. Setelah menyelesaikan pendidikannya, langkah berani diambil Erry Way dengan merantau ke Jakarta. Di kota metropolitan tersebut, ia segera melebur ke dalam ekosistem seni Minang yang sedang berkembang. Ia bergabung dengan berbagai sanggar ternama milik tokoh-tokoh besar, seperti Sanggar Sanggrina Bunda milik legenda Elly Kasim (Ciak Uniang) dan Sanggar Gumarang asuhan koreografer fenomenal Gusmiati Suid. Kehadirannya di sanggar-sanggar tersebut memberikan warna baru dan memperkuat fondasi musik yang digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan kelas nasional.
Kreativitas Erry Way membuahkan deretan karya yang hingga kini masih sangat populer dan melegenda. Beberapa ciptaannya seperti Simarantang, Arak Iriang, dan Muaro Peti menjadi standar dalam khazanah musik tradisional Minang. Salah satu lagunya yang paling fenomenal adalah Situjuah. Lagu ini tidak hanya sekadar melodi, tetapi telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Minang karena kekuatan lirik dan komposisinya yang menyentuh sanubari. Peran Erry Way dalam sanggar-sanggar di Jakarta menunjukkan kemampuannya dalam berkolaborasi lintas disiplin seni. Musik yang ia ciptakan mampu menyatu dengan gerakan tari (koreografi) secara dinamis, sehingga menciptakan harmoni yang magis di atas panggung. Kemampuannya mengolah bunyi-bunyian tradisional menjadi terdengar elegan dan berwibawa di panggung besar Jakarta telah mengangkat derajat musik Minang di mata publik yang lebih luas. Secara keseluruhan, Erry Way adalah sosok pelopor yang berhasil menjembatani tradisi kampung halaman dengan dinamika kehidupan di perantauan. Melalui dedikasi yang tak terputus, ia telah mewariskan kekayaan intelektual yang tak ternilai bagi generasi penerus. Nama Erry Way akan selalu dikenang sebagai maestro yang memastikan bahwa bunyi talempong, saluang, dan bansi tetap bergema dengan gagah di tengah kebisingan kota Jakarta.