Irsan Arifin
Mochamad Irsan Arifin, M.A. merupakan sosok intelektual sekaligus praktisi olahraga yang memiliki peran krusial dalam sejarah perkembangan atletik dan bulu tangkis di Indonesia. Aktif pada dekade 1960-an, ia bukan sekadar pelatih biasa, melainkan seorang akademisi yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelaraskan ilmu pengetahuan dengan praktik lapangan. Kehadirannya di dunia olahraga Indonesia memberikan warna baru, terutama dalam pendekatan ilmiah terhadap performa atlet.
Pendidikan awal Irsan dimulai di sekolah-sekolah bergengsi pada zamannya, seperti HIS di Jakarta dan Koning Willem III School di Batavia. Latar belakang pendidikan kolonial ini membentuk disiplin dan ketajaman berpikirnya. Ia kemudian melanjutkan studinya di Sekolah Guru Pendidikan Jasmani (SGPD) di Bandung, yang menjadi fondasi utama kariernya sebagai pendidik di bidang olahraga dan kesehatan. Ambisi Irsan untuk memajukan olahraga nasional membawanya melintasi samudra hingga ke Amerika Serikat. Pada tahun 1962, ia berhasil meraih gelar Master of Arts (M.A.) dari Universitas Michigan. Pencapaian ini tergolong sangat langka bagi insan olahraga Indonesia di masa itu. Gelar akademis tersebut tidak hanya menjadi prestise pribadi, tetapi juga menjadi modal besar bagi Indonesia dalam mengadopsi teori-teori modern mengenai penyegaran jasmani dan metodologi kepelatihan.
Sekembalinya ke tanah air, Irsan Arifin memegang peran strategis dalam dunia pendidikan tinggi olahraga. Ia memimpin Lembaga Akademi Pendidikan Jasmani (LAPD) di Bandung, yang di kemudian hari bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Olahraga (STO). Di institusi inilah, Irsan mencetak banyak tenaga pendidik olahraga profesional yang nantinya tersebar ke seluruh pelosok negeri, memperkuat basis fisik generasi muda Indonesia. Di kancah bulu tangkis, Irsan dikenal sebagai pelatih bertangan dingin yang mampu mengasah bakat-bakat mentah menjadi juara dunia. Nama-nama besar seperti Rudy Hartono, Christian Hadinata, Ade Chandra, hingga Minarni Soedaryanto pernah merasakan sentuhan kepelatihannya. Ia bukan hanya mengajarkan teknik memukul kok, tetapi juga menanamkan pemahaman mendalam mengenai taktik dan strategi permainan yang cerdas.
Salah satu testimoni paling berkesan datang dari Christian Hadinata, yang mengenang Irsan sebagai pelatih yang sangat cermat dalam menganalisis titik kemampuan pemain. Irsan memiliki kemampuan langka untuk membedah kelemahan lawan dan memaksimalkan keunggulan atlet asuhannya melalui pendekatan yang terukur. Analisisnya yang tajam sering kali menjadi kunci kemenangan dalam turnamen-turnamen internasional yang diikuti tim Indonesia. Selain karier di lapangan dan akademisi, Irsan Arifin juga merupakan seorang birokrat yang berdedikasi. Ia mengabdi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Pusat Penyegaran Jasmani. Posisi ini memungkinkannya untuk merancang kebijakan yang mengintegrasikan olahraga ke dalam sistem pendidikan nasional, menekankan bahwa kesehatan fisik adalah bagian tak terpisahkan dari kualitas manusia Indonesia.
Kehidupan pribadi Irsan juga mencerminkan nilai-nilai ketekunan. Ia menikah dengan Siti Hanidah dan dikaruniai dua orang anak. Dukungan keluarga menjadi pilar bagi mobilitas Irsan yang tinggi dalam menjalankan tugas negara. Meskipun ia sibuk dengan urusan nasional, istrinya turut membantu perekonomian keluarga melalui kegiatan berdagang, menunjukkan kemandirian dan kesederhanaan hidup seorang tokoh besar. Namun, pengabdian Irsan Arifin harus terhenti secara prematur di usia yang masih sangat produktif. Ia meninggal dunia pada 8 Desember 1970 di Bangkok, Thailand, sesaat sebelum pembukaan Pesta Olahraga Asia (Asian Games) ke-6. Kepergiannya saat menjalankan tugas negara meninggalkan duka mendalam bagi dunia olahraga Indonesia. Jenazahnya diterbangkan kembali ke tanah air dan dimakamkan dengan penghormatan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh