Islamidar
Islamidar lahir di Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, pada 16 Juli 1941. Ia lebih dikenal dengan panggilan akrab "Tuen" oleh masyarakat sekitar. Tuen adalah sosok yang istimewa, seorang penjaga dan pewaris seni tradisi Minangkabau yang hampir punah yaitu sampelong. Tuen berasal dari keluarga yang kental dengan tradisi seni. Ibunya seorang pelantun dendang sampelong dan pemain gendang, ayahnya seorang qari yang mahir melantunkan ayat suci Al-Quran, dan kakeknya seorang pemain gambus. Bakat seni Tuen mengalir deras dalam darahnya.
Sampelong adalah seni musik tradisi yang menggunakan saluang bansi sebagai alat musik utamanya. Irama sampelong dulunya digunakan saat menggampo gambir, tanpa dendang. Sejak 1965, sampelong mulai menggunakan dendang dengan syair-syair yang melankolis, menceritakan kepahitan hidup, kegagalan cinta, dan kesedihan. Tuen meyakini bahwa sampelong telah ada di Minangkabau sebelum Islam masuk. Nada-nada sampelong memiliki kesamaan dengan nada lagu Buddha di Thailand dan Palembang, yang menunjukkan akar budaya yang dalam.
Sejak kecil, Tuen sudah akrab dengan musik tradisi. Di usia enam tahun, ia belajar memainkan talempong dari neneknya. Ia juga mahir memainkan akordeon, pianika, seni musik dikia, dan berdendang basijobang. Pada tahun 1969, Tuen menikah dan memiliki lima orang anak. Ia mulai tampil di acara-acara pernikahan dan berbagai pentas seni budaya, baik di dalam maupun luar negeri. Ia pernah tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Ismail Marzuki (TIM), Surabaya, Malaysia, Belanda, Yunani, Jerman, Spanyol, Brunei, Singapura, dan Jepang. Kesungguhan Tuen dalam melestarikan seni tradisi mendapat perhatian dari pemerintah. Ia diangkat menjadi penjaga sekolah dasar di kampungnya, namun sebenarnya ia berperan sebagai guru kesenian. Ia juga mengajar matematika dan pendidikan agama, bahkan menciptakan lagu-lagu tentang kisah nabi dan rasul, Rukun Islam, dan Rukun Iman.
Tuen menjalani hari-harinya dengan penuh kesibukan. Ia bangun subuh, membuka kedai, mengajar di sekolah, dan mengisi waktu luangnya dengan memeriksa tugas murid, menciptakan lagu, dan berlatih bersama kelompoknya. Setiap Selasa dan Sabtu malam, ia tampil di Bukittinggi. Selain mahir bermain musik dan berdendang, Tuen juga memiliki kemampuan akademis. Ia bisa menciptakan lagu dengan not balok dan memiliki pengetahuan yang luas tentang seni tradisi. Ia sering menjadi narasumber bagi para peneliti seni. Tuen juga kritis terhadap perkembangan seni tradisi di perguruan tinggi seni. Ia menyayangkan minimnya eksplorasi dan inovasi dalam memainkan alat musik tradisi. Ia juga prihatin dengan generasi muda yang kurang tertarik pada seni tradisi.