Limbak Tjahaja (Rangkayo Hj. Limbak Tjahaja)
Limbak Tjahaja (dibaca: Limbak Cahaya)—lengkapnya Rangkayo Hj. Limbak Tjahaja—adalah sastrawan dan penulis cerita anak dari Payakumbuh. Ia lahir di Kubu Gadang, Koto Nan Empat, Payakumbuh, tahun 1890-an, dan meninggal dunia di Jakarta tahun 1985. Ibunya benrnama Hj. Siti Kadijah bersuku Pitopang dan ayahnya bernama H. Sampono Kayo. Ia memiliki saudara 2 saudara yaitu Hj. Halimah dan Munir Dt. Rangkayo Bosa di Ateh yang pernah menjadi birokrat di Palembang.
Ia menikah dengan Prof. Dr. Sutan Assin Dt. Mangkuto (1899—1962) yang dikaruniai tiga orang anak yaitu Mansyur Sutan Assin, Siti Dewi Suryo Sutan Assin, dan Nusjirwan Sutan Assin. Anaknya yang bernama Siti Dewi Suryo Sutan Assin atau Siti Dewi Gando Nilai (5 Oktober 1926—20 Desember 2000) adalah salah satu dari lima orang anggota Paskibraka pertama yang mengibarkan Bendera Sang Saka Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 1946 di Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta yang dipimpin oleh Soekarno—Hatta. Dan salah satu cucunya yang bernama Juananda Sutan Assin (anak Mansyur Sutan Assin) adalah seorang pengusaha Indonesia.
Sebagai sastrawan, Limbak Tjahaja menguasai Bahasa Jepang, Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Bahasa Minang, dan Bahasa Indonesia. Adapun karya-karyanya adalah Tjerita Si Upik Hitam (Balai Pustaka, 1971), Tjerita-tjerita Nenek Putih Rabiah (Pradnya Paramita, Jakarta 1975), Kerbau Jalang Beranak Puteri dan Cerita Lain (Pradnya Paramita, Jakarta 1973), Minangkabau Tanah Adat (Ganaco, Djakarta 1955).
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh