Masferi Kasim
Nama Masferi Kasim mungkin belum menghiasi tajuk utama media nasional setiap hari, namun di tanah kelahirannya, Luhak Limo Puluah, ia adalah representasi dari ketekunan dan kerja keras. Sebagai seorang putra daerah asli Lima Puluh Kota, Masferi telah membuktikan bahwa bakat dari pelosok Sumatra Barat mampu bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Perjalanannya sebagai pemain profesional adalah cerminan dari dedikasi seorang pemuda daerah yang berhasil menembus kerasnya kompetisi nasional.
Sepanjang karier aktifnya sebagai pemain, Masferi Kasim dikenal sebagai sosok yang tangguh di barisan pertahanan. Posisi pemain belakang yang ia tempati menuntut kedisiplinan tinggi dan fisik yang prima, kualitas yang tampaknya melekat erat dalam dirinya. Bermain di jantung pertahanan bukan sekadar menghalau bola, melainkan menjaga martabat tim dari gempuran lawan, sebuah peran yang dijalankan Masferi dengan penuh tanggung jawab di setiap klub yang ia bela.
Rekam jejak karier Masferi di liga Indonesia tergolong cukup mentereng dengan membela klub-klub besar yang memiliki sejarah panjang. Ia pernah berseragam Semen Padang FC, tim kebanggaan masyarakat Minang, serta Sriwijaya FC yang merupakan raksasa dari Sumatra Selatan. Tidak berhenti di sana, ia juga pernah merumput bersama ayam kinantan PSMS Medan dan Persikabo Bogor. Pengalamannya membela klub dengan basis suporter yang fanatik menunjukkan bahwa ia memiliki mentalitas yang teruji di bawah tekanan. Setelah memutuskan untuk gantung sepatu, kecintaan Masferi terhadap dunia si kulit bundar tidak lantas pudar. Ia memilih untuk membagikan ilmu dan pengalaman yang telah ia timba selama bertahun-tahun kepada generasi muda. Saat ini, ia mengabdi sebagai Asisten Pelatih Gasliko, klub kebanggaan Kabupaten Lima Puluh Kota. Perannya di pinggir lapangan sangat krusial untuk membidani lahirnya talenta-talenta baru yang diharapkan dapat mengikuti jejak langkahnya ke kancah nasional.
Satu hal yang menarik dari sosok Masferi Kasim adalah keseimbangan antara karier olahraga dan kehidupan pasca-pensiun. Di luar lapangan hijau, ia adalah seorang wirausahawan yang mandiri. Ia mengelola sebuah mini market dua pintu yang berlokasi tepat di kediamannya di Simpang Piladang. Usaha ini bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan bukti bahwa seorang atlet mampu bertransformasi menjadi pelaku ekonomi yang produktif di lingkungannya sendiri.
Simpang Piladang kini tidak hanya mengenal Masferi sebagai mantan pemain bola yang hebat, tetapi juga sebagai bagian dari denyut nadi ekonomi lokal. Keberadaan mini marketnya menjadi tempat interaksi sehari-hari dengan masyarakat, di mana ia tetap tampil rendah hati meskipun telah mencicipi atmosfer stadion-stadion besar di Indonesia. Sikap ini memberikan teladan bagi para atlet muda bahwa kesuksesan di lapangan harus dibarengi dengan persiapan matang untuk masa depan di luar lapangan. Secara keseluruhan, sosok Masferi Kasim merupakan inspirasi nyata bagi pemuda di Luhak Limo Puluah. Dari lapangan hijau hingga ke meja kasir, ia menunjukkan bahwa integritas dan kerja keras adalah kunci keberhasilan. Meskipun informasi mengenai detail perjalanannya mungkin belum banyak terdokumentasi secara luas, namun kontribusinya bagi sepak bola daerah dan keberhasilannya membangun kemandirian ekonomi adalah narasi yang patut diapresiasi oleh siapa saja.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh