Masmega

 

Kabupaten Lima Puluh Kota, tepatnya di Tanjung Pati, tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai tanah kelahiran talenta luar biasa. Salah satu nama yang harum dalam jagat musik adalah Masmega. Beliau bukan sekadar pemain musik biasa, melainkan seorang penata musik atau music arranger bertangan dingin yang mampu mengubah deretan nada menjadi mahakarya yang menyentuh jiwa bagi siapa saja yang mendengarkannya. Sebagai seorang musisi dari Suku Piliang, Masmega membawa identitas kultural yang kuat dalam setiap karyanya. Meski beliau merupakan seorang musisi tunanetra, keterbatasan penglihatan fisik sama sekali tidak menghalangi ketajaman pendengaran dan kepekaan rasa seninya. Justru melalui "mata hati," beliau mampu melihat spektrum nada yang lebih luas, menyusun harmoni yang begitu kaya dan emosional, melampaui kemampuan musisi dengan fisik yang sempurna sekalipun.

Karya-karya aransemen beliau telah melintasi batas negara dan melegenda. Salah satu bukti kejeniusannya adalah lagu "Bayang Kasiah di Malaysia" yang dibawakan oleh Madi Gubarsa. Sentuhan tangan Masmega dalam lagu tersebut berhasil menciptakan atmosfer kerinduan yang mendalam, menjadikannya salah satu lagu yang sangat populer dan berkesan di hati para pendengar, baik di ranah Minang maupun di negeri jiran. Tak hanya itu, Masmega juga merupakan sosok di balik megahnya aransemen lagu "Pulanglah Uda" yang dinyanyikan oleh Yen Rustam. Lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan sebuah "himne" bagi perantau Minangkabau. Melalui aransemen Masmega yang syahdu dan penuh perasaan, pesan kerinduan seorang istri kepada suaminya yang merantau tersampaikan dengan sangat kuat, hingga lagu ini tetap abadi dan terus diputar lintas generasi.

Sepanjang karier dan masa tuanya, Masmega memilih menetap dan menjalani hari-harinya di Pekanbaru. Di kota inilah beliau terus berkarya dan memberikan inspirasi bagi musisi-musisi muda. Kehadiran beliau di Pekanbaru menjadi bukti bahwa dedikasi terhadap seni tidak mengenal batas wilayah; di mana pun beliau berada, harmoni musiknya tetap mampu menyatukan hati banyak orang yang mendengarnya. Kini, sosok bersahaja dari Suku Piliang itu telah tiada. Masmega telah meninggal dunia, meninggalkan warisan berupa aransemen-aransemen indah yang akan terus hidup di telinga kita. Meskipun raga beliau sudah tidak ada di tengah-tengah kita, namun denyut nadi karyanya masih terasa setiap kali lagu-lagu legendaris itu berkumandang. Beliau telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan meninggalkan keindahan bagi sesama manusia. Sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sang maestro yang telah memberikan begitu banyak warna bagi musik Indonesia, khususnya musik Minang, mari kita kirimkan doa-doa terbaik. Semoga segala amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya dan setiap nada indah yang beliau ciptakan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url