O.R. Mandank
O.R. Mandank atau Oemar Datoek Radjo Mandank, adalah salah satu tokoh penting dalam khazanah sastra Indonesia, khususnya pada era 1930-an. Lahir di Kota Panjang, Suliki, Lima Puluh Kota, pada 1 Januari 1913, ia menorehkan jejaknya sebagai penyair, cerpenis, dan novelis yang karya-karyanya mencerminkan pergolakan pemikiran dan sosial pada zamannya. Mandank menempuh pendidikan di Sekolah Guru Normal, Padang Panjang, dan lulus pada tahun 1932. Setelah itu, ia mengabdikan dirinya sebagai guru di berbagai tempat di Sumatra Barat dan Medan. Pengalaman mengajar ini memberikan wawasan luas tentang kehidupan masyarakat, yang kemudian ia tuangkan dalam karya-karyanya.p
Kumpulan puisi "Sebab Aku Terdiam" (1939) adalah salah satu karya Mandank yang paling terkenal. Di dalamnya, termuat 33 sajak yang sarat dengan kritik sosial dan refleksi keagamaan. Semboyan yang ia cantumkan, yang berasal dari firman Tuhan, menunjukkan kepeduliannya terhadap keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Selain puisi, Mandank juga menulis cerpen dan novel. "Narumalina" (1932) dan "Pantun Orang Muda" (1939) adalah contoh karya fiksi yang ia hasilkan. Karya-karyanya sering dimuat di majalah-majalah sastra terkemuka pada masa itu, seperti Pandji Poestaka, Poedjangga Baroe, Penindjauan, dan Pedoman Masjarakat. Meskipun beragama Islam, karya-karya Mandank tidak selalu mencerminkan corak keislaman yang eksplisit. Beberapa sajaknya bahkan dianggap mengkritik para ulama. Namun, H.B. Jassin memasukkannya ke dalam barisan pujangga sastra Islam, mengindikasikan bahwa nilai-nilai keislaman tetap mewarnai pemikiran dan karyanya.
Mandank juga dikenal dengan penggunaan nama samaran, seperti Ketjoeboeng, Kris Yogi, dan Lalanang. Melalui nama-nama ini, ia menulis berbagai puisi dengan tema yang beragam, dari renungan religius hingga potret kehidupan masyarakat. O.R. Mandank meninggal dunia pada 26 Desember 1995 di Jakarta, meninggalkan warisan sastra yang berharga. Karya-karyanya menjadi saksi bisu dari pergolakan pemikiran dan sosial pada masa peralihan menuju kemerdekaan Indonesia. Ia adalah salah satu suara yang turut membentuk khazanah sastra Indonesia modern. Melalui karya-karyanya, ia tidak hanya mengungkapkan keindahan bahasa, tetapi juga menyampaikan kritik sosial dan refleksi keagamaan yang mendalam. Ia adalah sosok yang patut dikenang dan dihargai atas kontribusinya bagi dunia sastra Indonesia.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh