Sigit A. Yazid
Sigit A. Yazid (lahir dengan nama Oktoberinaldi Yazid) lahir pada 18 Oktober 1969 di Payakumbuh adalah sosok penyair yang mungkin tidak terlalu gemerlap dalam hiruk-pikuk dunia sastra Indonesia, namun karyanya menyimpan keindahan dan kedalaman yang patut diapresiasi. Dalam kesunyian Payakumbuh, ia merangkai kata demi kata, membentuk puisi-puisi yang mencerminkan gejolak batin dan pengamatannya terhadap kehidupan. Sigit termasuk salah satu pendiri Komunitas Seni Intro di kota kelahirannya.
Meskipun informasi mengenai kehidupan pribadinya terbilang minim, jejak karyanya dapat ditemukan dalam beberapa antologi puisi yang telah diterbitkan. Antologi-antologi seperti Taraju '93, Antologi Penyair Sumatra Barat 1993, Sahayun, dan Kumpulan Puisi Penyair Sumatra Gelanggang menjadi saksi bisu dari perjalanan kreatifnya. Melalui karya-karya tersebut, kita dapat merasakan bagaimana Sigit A. Yazid merespons realitas di sekitarnya, mengekspresikan perasaan, dan merenungkan makna eksistensi.
Karya-karya Sigit A. Yazid seringkali diwarnai dengan nuansa lokal Sumatra Barat, namun tetap relevan dalam konteks yang lebih luas. Ia mampu menangkap esensi kehidupan masyarakat Minangkabau, dengan segala tradisi dan budayanya, dan mengolahnya menjadi puisi-puisi yang menggugah. Dalam setiap baitnya, kita dapat merasakan kepekaan penyair terhadap lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Salah satu ciri khas dari puisi-puisi Sigit A. Yazid adalah penggunaan bahasa yang sederhana namun kaya makna. Ia tidak terjebak dalam diksi yang rumit, melainkan memilih kata-kata yang lugas dan mudah dipahami. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, tersembunyi kedalaman pemikiran dan kehalusan perasaan. Ia mampu menghadirkan gambaran-gambaran yang hidup dan membangkitkan imajinasi pembaca.
Dalam antologi-antologi yang memuat karyanya, Sigit A. Yazid bersanding dengan penyair-penyair lain dari Sumatra Barat. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari komunitas sastra yang dinamis di daerahnya. Ia turut berkontribusi dalam memperkaya khazanah puisi Indonesia, khususnya puisi yang lahir dari rahim budaya Minangkabau. Meskipun mungkin tidak banyak yang mengenal sosoknya, Sigit A. Yazid adalah salah satu penyair yang patut diperhitungkan dalam peta sastra Indonesia. Karyanya adalah bukti bahwa keindahan puisi tidak selalu lahir dari hiruk-pikuk kota besar, melainkan juga dari kesunyian tempat-tempat seperti Payakumbuh. Ia adalah suara sunyi yang merdu, yang terus bergema dalam lembaran-lembaran puisi.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh