Socrates
Socrates lahir di Payakumbuh pada 20 Mei 1967 dengan nama yang memikul beban intelektual besar warisan filsuf Yunani. Meski namanya kental dengan nuansa klasik Barat, ia adalah putra asli Minangkabau yang tumbuh dengan akar budaya lokal yang kuat. Uniknya, di masa kecil, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjadi seorang kuli disket. Walaupun gemar membaca, Socrates bukanlah tipe anak yang rajin mencatat harian apalagi merangkai puisi romantik; dunia literasi saat itu hanyalah jendela baginya untuk melihat dunia, belum menjadi jalan hidup.
Lulus dari INS Kayutanam, ia melanjutkan studi ke Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Andalas. Di bangku kuliah, kemandiriannya benar-benar diuji oleh badai ekonomi keluarga. Saat baru saja menapakkan kaki di dunia kampus, sang ayah jatuh sakit akibat stroke, sementara ibunya hanya seorang bidan kampung dengan penghasilan yang pas-pasan. Kondisi ini memaksa Socrates untuk membuang rasa gengsinya jauh-jauh demi bisa bertahan hidup dan melanjutkan kuliah.
Demi menyambung napas pendidikan, Socrates melakoni berbagai pekerjaan kasar tanpa mengeluh. Mulai dari menjaga toko obat di Pasaraya Padang, beternak ayam, hingga menjajakan stiker di lingkungan kampus ia jalani dengan kepala tegak. Tekanan ekonomi yang menghimpit tidak membuatnya layu; sebaliknya, kesulitan tersebut justru memaksanya untuk terus kreatif mencari celah rezeki agar impian meraih gelar sarjana tidak kandas di tengah jalan.
Titik balik kariernya di dunia tulis-menulis justru dipicu oleh sebuah tantangan yang melukai harga dirinya. Seorang kawan sempat menyindirnya sebagai orang yang hanya punya banyak ide tapi tumpul dalam eksekusi tulisan. Tersinggung dengan ucapan tersebut, ia mulai belajar mengetik menggunakan mesin tik tua pemberian tantenya. Melalui proses yang melelahkan—di mana kertas berkali-kali dibuang karena salah ketik—Socrates akhirnya berhasil menembus berbagai surat kabar di Sumatra Barat hingga dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi majalah kampus.
Setelah lulus, meski sempat goyah karena honor menulis yang kecil, dorongan sang ibu menjadi kompas moral baginya. Ibunya berpesan agar ia tidak menjadikan uang sebagai tujuan utama, melainkan kemanfaatan ilmu bagi sesama. Meski keluarga besarnya berharap ia menjadi dosen karena kecerdasannya, Socrates memilih mengikuti kata hatinya. Pada Maret 1996, ia resmi bergabung dengan Harian Riau Pos, menandai langkah awalnya sebagai wartawan profesional. Karier jurnalistiknya segera diuji dengan berbagai konflik kepentingan yang menuntut integritas. Saat bertugas di Perawang, ia dengan berani berdebat dengan petinggi perusahaan besar demi mempertahankan akurasi beritanya. Keberanian dan kecakapannya ini membuat manajemen memberikan kepercayaan besar. Dalam waktu singkat, ia dikirim ke Bukittinggi untuk merintis kantor perwakilan dan hanya butuh delapan bulan bagi Socrates untuk diangkat menjadi Kepala Perwakilan, posisi yang mulai mengasah naluri bisnisnya.
Tantangan yang lebih besar menanti ketika ia dipindahkan ke Batam pada tahun 1997. Di kota industri ini, Socrates memulai dari titik nol sebagai redaktur yang bekerja dengan intensitas tinggi layaknya reporter lapangan, bahkan hingga harus tidur di kantor selama tujuh bulan. Integritasnya diuji secara ekstrem saat ia membongkar kasus mobil bodong. Meski sempat ditawari suap oleh importir besar dan difitnah melalui surat kaleng yang menyedihkan hati istrinya, Socrates tetap kokoh pada prinsipnya: kebenaran tidak bisa dibeli.
Puncak ketegasan Socrates terlihat saat ia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Batam Pos dan berhadapan dengan otoritas militer terkait pemberitaan penyelundupan mobil. Ia pernah diintimidasi selama lima jam oleh Letkol Edy Rahmayadi yang saat itu menjabat sebagai Dandim Batam. Namun, konflik tersebut justru berakhir unik; setelah melalui proses panjang hingga ke DPR RI, keduanya justru menjalin persahabatan erat yang bertahan hingga sang perwira menjadi jenderal bintang tiga.
Kini, setelah hampir dua puluh tahun mengabdi di dunia pers, Socrates menjabat sebagai Deputy COO Batam Pos Group. Perjalanan yang diawali dari keterpaksaan ekonomi telah membawanya berkeliling dunia dan mengubahnya menjadi seorang pemimpin media yang disegani. Kisah hidup Socrates adalah sebuah otobiografi tentang bagaimana kejujuran dan dedikasi pada profesi mampu mengubah tantangan menjadi tangga kesuksesan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.