Bayu Tullah Vesky
Muhammad Bayu Tullah Vesky lahir pada 27 Oktober 1988 di Situjuah, Kabupaten Lima Puluh Kota, merupakan sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk literasi, informasi, dan kemajuan daerah. Perjalanan hidupnya mencerminkan integritas seorang jurnalis yang tidak hanya piawai merangkai kata, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang mendalam terhadap tanah kelahirannya.
Karir jurnalistik Bayu dimulai sejak usia muda, menunjukkan hasratnya yang besar pada dunia komunikasi. Pada periode 2007 hingga 2009, ia mengasah kemampuannya di radio khusus berita, Pass FM. Pengalaman di media audio ini membentuk karakter Bayu menjadi pribadi yang tanggap dan kritis dalam menyerap aspirasi publik. Bekal inilah yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh ke media cetak yang lebih luas jangkauannya.
Pada tahun 2009, Bayu secara resmi bergabung dengan Harian Singgalang, salah satu media cetak legendaris di Sumatera Barat. Di sana, ia dikenal sebagai wartawan yang memiliki ketajaman analisis dan empati yang tinggi. Dedikasinya terhadap profesi membuatnya dipercaya menjadi bagian dari tim penulis buku bergengsi, 121 Wartawan Hebat dari Ranah Minang & Sejumlah Jubir Rumah Bagonjong, sebuah pengakuan atas eksistensinya di dunia pers nasional dan lokal.
Kepedulian Bayu terhadap isu-isu kemanusiaan tercermin dalam karya-karya feature-nya yang menyentuh. Sebelum berpulang, ia tengah menyusun kumpulan tulisan menjadi dua buah buku. Salah satu fokus utamanya adalah mengangkat kasus-kasus menonjol terkait kejahatan seksual serta kekerasan terhadap anak dan perempuan. Melalui tulisannya, Bayu berupaya menyuarakan keadilan bagi mereka yang lemah dan tak terdengar, menjadikan jurnalisme sebagai alat advokasi sosial.
Tak hanya aktif di balik meja redaksi, Bayu juga terjun langsung dalam pembangunan akar rumput. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Tungkar, Situjuah Limo Nagari, periode 2018-2021. Peran ini membuktikan bahwa ia adalah sosok pemimpin yang dihormati di kampung halamannya. Selain itu, kiprah profesionalnya meluas hingga ke tingkat nasional saat ia diamanahkan tugas sebagai Komisaris Mandalika Grand Prix Association (MGPA).
Namun, takdir berkata lain ketika kabar duka menyelimuti keluarga dan rekan sejawat pada Sabtu sore, 22 Maret 2025. Muhammad Bayu Tullah Vesky menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan duka mendalam bagi seorang istri dan dua orang anak yang dicintainya. Rumah duka di Jorong Sawah Lowe, Situjuh Tongkar, menjadi saksi bisu penghormatan terakhir bagi pria yang dikenal rendah hati dan penuh semangat ini.
Kepergian Bayu Vesky merupakan kehilangan besar bagi dunia literasi dan organisasi di Sumatera Barat. Meski raganya telah tiada, warisan pemikiran melalui tulisan-tulisannya dan jejak pengabdiannya di Nagari Tungkar akan tetap hidup. Ia telah menunjukkan bahwa seorang jurnalis dapat menjadi jembatan perubahan, baik melalui pena maupun tindakan nyata, meninggalkan nama yang harum di hati masyarakat Lima Puluh Kota dan sekitarnya.