Pasni Sata

 

Pasni Sata, seorang tokoh pers yang dikenal dengan kesederhanaan dan dedikasinya, meninggalkan jejak yang mendalam dalam dunia jurnalistik Indonesia. Lahir pada 9 September 1942 dan wafat pada 8 April 2017, perjalanan hidupnya adalah cerminan dari seorang wartawan sejati yang menjunjung tinggi etika dan profesionalisme. Lahir dan dibesarkan di Payakumbuh, Pasni Sata menempuh pendidikan formalnya di kota tersebut, mulai dari Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), hingga Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Kecintaannya pada ilmu pengetahuan terus berlanjut hingga ia meraih gelar Sarjana (S1) dari jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Terbuka pada tahun 1992.

Selain pendidikan formal, Pasni Sata juga memperkaya diri dengan berbagai pendidikan kewartawanan, seperti kursus jurnalistik "Anton Press" di Yogyakarta, pendidikan kewartawanan Mabes ABRI pada tahun 1965/1966, dan pendidikan kewartawanan Departemen Penerangan RI pada tahun 1971. Pendidikan-pendidikan ini menjadi landasan kuat bagi kariernya di dunia jurnalistik. Karier jurnalistik Pasni Sata dimulai pada usia 22 tahun, ketika ia merantau ke Padang dan bergabung dengan harian Aman Makmur. Perjalanan kariernya diwarnai dengan berbagai pengalaman di media massa, termasuk harian Angkatan Bersenjata edisi Padang, Kantor Berita Antara, dan majalah Aneka Minang. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Haluan, salah satu media massa terkemuka di Sumatera Barat.

Selama berkarier, Pasni Sata dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan sederhana. Ia tidak suka menonjolkan diri dan lebih memilih untuk bekerja di balik layar. Namun, karya-karyanya, terutama tulisan tajuk rencana di Harian Haluan, dikenal tajam dan bernas, mencerminkan pemikiran kritis dan keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran. Dedikasi Pasni Sata terhadap dunia jurnalistik tidak diragukan lagi. Ia aktif dalam berbagai organisasi kewartawanan, termasuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan pernah menjabat sebagai ketua Yayasan Kesejahteraan Wartawan. Pada tahun 2006, ia menerima penghargaan "40 Tahun Setia Profesi" dari PWI Pusat, sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya yang panjang dan tulus.

Pasni Sata wafat pada 8 April 2017 di RSUP M. Djamil Padang, meninggalkan warisan berharga bagi dunia jurnalistik Indonesia. Kesederhanaan, integritas, dan dedikasinya menjadi teladan bagi para wartawan muda. Ia adalah sosok yang tidak hanya menulis berita, tetapi juga menginspirasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kenangan akan Pasni Sata akan terus hidup dalam ingatan rekan-rekan seprofesi, keluarga, dan masyarakat luas. Ia adalah bukti bahwa seorang wartawan sejati adalah mereka yang tidak hanya mencari berita, tetapi juga memberikan makna dan dampak positif bagi kehidupan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url