dr. Mohamad Anas
dr. Mohamad Anas, seorang dokter senior kelahiran Payakumbuh pada 10 September 1899, adalah sosok yang menarik dalam sejarah Minangkabau. Kiprahnya sebagai dokter di zaman Hindia Belanda, keterlibatannya dalam Konferensi Meja Bundar (KMB), dan afiliasi politiknya yang lebih condong ke pro-Belanda menjadikannya figur yang patut ditelusuri lebih dalam. M. Anas lahir dari pasangan Jamilah dan Atmo Wisastro, seorang pria berdarah Jawa yang konon merupakan keturunan Sultan Hamengku Buwono I, dr. Anas memiliki latar belakang keluarga yang unik. Ia menikah dengan seorang wanita dari Koto Gadang Agam, Djoeasa Anas, dan memiliki seorang anak angkat bernama Nadia Anas. Nadia kemudian menikah dengan R. Budi Hartono di Den Haag pada tahun 1966.
Keterkaitan dr. Anas dengan dunia sastra juga menarik. Ia adalah ipar dari Abdul Muis, pengarang roman terkenal "Salah Asuhan", yang menikahi kakaknya yang bernama Nuriah. Sebagai seorang dokter, dr. Anas pernah menempuh pelatihan kesehatan di Belanda. Pengalamannya ini, ditambah dengan latar belakang pendidikannya, tentu membentuk pandangan dan pemikirannya. Salah satu momen penting dalam hidup dr. Anas adalah keikutsertaannya dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada tahun 1949. Merujuk pada afiliasi politiknya, kemungkinan besar dr. Anas merupakan anggota rombongan Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), sebuah kelompok yang menginginkan Indonesia tetap berada di bawah naungan Kerajaan Belanda.
Afiliasi politik dr. Anas yang pro-Belanda ini menimbulkan pertanyaan dan spekulasi. Sayangnya, belum banyak informasi yang terungkap mengenai alasan di balik pilihannya tersebut. Keberadaan testamen yang ditinggalkannya di Belanda mungkin dapat memberikan jawaban atas misteri ini. Namun, upaya untuk menemukan testamen tersebut menemui jalan buntu setelah meninggalnya Dr. Johar, keponakan dr. Anas yang ditugaskan untuk mengambilnya. Kisah hidup dr. Mohamad Anas mencerminkan kompleksitas sejarah Minangkabau di masa transisi dari kolonialisme menuju kemerdekaan. Ia adalah salah satu dari sekian banyak tokoh Minangkabau yang memiliki pandangan dan pilihan politik yang berbeda-beda. Pengungkapan lebih lanjut mengenai kisah hidupnya, terutama melalui penemuan testamennya, akan memberikan kontribusi yang berharga bagi pemahaman kita tentang sejarah Minangkabau dan Indonesia secara keseluruhan.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh