Hj. Ida Farida
Hj. Ida Farida, lahir pada 5 Mei 1938 di Rangkasbitung, Lebak, Banten, adalah sosok penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Ia lahir berasal dari keluarga perantau Minangkabau dan Banten. Ayahnya bernama Ayun Sabiran (Minangkabau) yang berasal dari Dangung-dangung, Lima Puluh Kota. Kiprahnya sebagai sutradara dan penulis skenario telah menorehkan tinta emas, terutama dengan keberhasilannya meraih Piala Citra untuk kategori penulis skenario terbaik pada tahun 1989 melalui film "Semua Sayang Kamu." Perjalanan karier Ida Farida di dunia film dimulai dari bawah. Ia mengawali langkahnya sebagai pencatat skrip, kemudian secara bertahap menanjak menjadi asisten sutradara, sutradara, dan akhirnya penulis skenario. Film "Guruku Cantik Sekali" (1979) menjadi debutnya sebagai penulis skenario, sebuah karya yang ditulisnya dalam waktu singkat, hanya semalam.
Keahliannya dalam menulis skenario terbukti dengan lahirnya karya-karya populer seperti "Busana dalam Mimpi" (1980), "Perawan-perawan" (1981), "Merenda Hari Esok" (1981), "Tirai Malam Pengantin" (1983), "Tante Garang" (1983), "Asmara Di Balik Pintu" (1984), dan "Tak Ingin Sendiri" (1985). Pada pertengahan dekade 1980-an, Ida Farida melebarkan sayapnya ke Malaysia dan sukses menghasilkan film-film yang laris di pasaran, salah satunya "Suara Kekasih." Kembali ke Indonesia, Ida Farida terus berkarya, baik di layar lebar maupun layar kaca. Salah satu kontribusinya yang tak terlupakan adalah keterlibatannya dalam sinetron legendaris "Si Doel Anak Sekolahan" untuk 12 episode pertama.
Puncak karier Ida Farida sebagai penulis skenario diraihnya pada Festival Film Indonesia 1989. Melalui film "Semua Sayang Kamu," ia berhasil membawa pulang Piala Citra untuk kategori penulis skenario terbaik. Film ini juga mengantarkannya pada nominasi sutradara terbaik dan penulis cerita asli terbaik. Pada tahun 1992, ia kembali dinominasikan untuk kategori penulis cerita asli terbaik melalui film "Kuberikan Segalanya." Ida Farida adalah sosok perempuan tangguh yang mampu menembus dominasi laki-laki di dunia perfilman Indonesia. Ia adalah pelopor yang membuka jalan bagi generasi perempuan selanjutnya untuk berkarya di belakang layar. Dedikasinya terhadap dunia film patut diacungi jempol, dan karya-karyanya akan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah perfilman Indonesia.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh