Kolonel (Purn) Dr. Drs. Hikmat Israr, MM St. Chaniago
Kolonel (Purn) Dr. Drs. Hikmat Israr, MM St. Chaniago lahir di Payakumbuh pada tanggal 2 Mei 1963 adalah seorang perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Lebih dari sekadar seorang prajurit, Hikmat Israr adalah seorang intelektual, penulis biografi yang gigih, dan seorang pemerhati sejarah yang memiliki akar kuat pada tanah kelahirannya. Jejak hidupnya adalah perpaduan menarik antara dedikasi pada negara melalui jalur militer dan kecintaan pada ilmu pengetahuan serta pelestarian memori kolektif bangsa.
Hikmat Israr lahir dari keluarga yang memiliki kontribusi signifikan bagi perkembangan Payakumbuh, dengan sang ayah, H.C. Israr, menjadi tokoh sentral sebagai Ketua Panitia Realisasi Kotamadya Payakumbuh tahun 1970. Hikmat Israr tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menanamkan nilai-nilai pengabdian, agama, budaya dan kepedulian terhadap masyarakat. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya, mulai dari studi Ushuluddin di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga Magister MSDM di STIEPAS Bandung dan Doktor Kebijakan Publik di Universitas Pasundan Bandung, menunjukkan keluasan minat intelektual dan komitmennya terhadap pengembangan diri. Latar belakang pendidikan yang beragam ini tentu memberikan perspektif yang kaya dalam menjalankan tugas-tugasnya di militer maupun dalam karya-karyanya sebagai penulis.
Karier militernya yang beragam, mulai dari satuan tempur lintas udara Kostrad hingga staf di berbagai komando dan departemen, mencerminkan dedikasinya pada institusi TNI AD. Penugasan di berbagai wilayah, termasuk yang rawan konflik seperti Timor Timur, Maluku, Papua, dan Aceh, memberikan pengalaman langsung tentang dinamika sosial-politik dan tantangan keamanan yang dihadapi bangsa. Pengalaman ini, tanpa diragukan lagi, menjadi sumber inspirasi dan pemahaman yang mendalam dalam karya-karya tulisnya. Namun, dimensi yang paling menonjol dari sosok Hikmat Israr adalah kiprahnya sebagai seorang penulis biografi dan pemerhati sejarah. Daftar karyanya yang panjang dan beragam, mencakup isu-isu kemahasiswaan, retorika dakwah, sejarah satuan militer, panduan pernikahan bagi prajurit, hingga biografi tokoh-tokoh penting militer dan masyarakat, sungguh mengagumkan. Produktivitasnya dalam menulis menunjukkan sebuah hasrat yang kuat untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mewariskan pengetahuan serta nilai-nilai penting kepada generasi mendatang.
Ketertarikannya pada sejarah tercermin jelas dalam sejumlah bukunya yang mengangkat kisah-kisah heroik satuan militer seperti Brigif 15 Kujang Siliwangi dan Kodam XVI/Pattimura, serta peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa seperti Gerakan Operasi Militer (GOM). Melalui karyanya, Hikmat Israr tidak hanya mencatat fakta sejarah, tetapi juga berupaya untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan, nilai-nilai kepemimpinan, dan konteks sosial-politik yang melatari peristiwa tersebut. Lebih jauh lagi, Hikmat Israr juga memberikan perhatian pada tokoh-tokoh penting, baik dari kalangan militer seperti Letjen R. Kartakusuma, Kol AE. Kawilarang, Jendral Djoko Santoso, Letjen Muzani Syukur, Laksamana Agus Suhartono, Mayjen Mulchis Anwar, Jendral Prabowo, hingga tokoh masyarakat seperti Chatib Sulaiman, H. Zainuddin Hamidy dan H.C. Israr, ayahnya sendiri. Melalui biografi-biografi ini, ia tidak hanya merekam jejak kehidupan individu, tetapi juga menggali pelajaran berharga tentang kepemimpinan, pengabdian, dan kontribusi mereka bagi bangsa dan negara.
Keterlibatannya dalam organisasi kemasyarakatan, seperti menjadi Ketua Umum Gonjong Limo Bandung, pendiri Perguruan Pencak Silat Singo Harau, dan Pembina Perhimpunan Keluarga Minang Jawa Barat, menunjukkan bahwa Hikmat Israr tidak hanya terfokus pada dunia militer dan tulis-menulis. Ia juga memiliki kepedulian yang kuat terhadap pelestarian budaya Minangkabau dan pembangunan komunitas. Hal ini semakin memperkaya profilnya sebagai individu yang memiliki akar budaya yang kuat dan jangkauan sosial yang luas. Dan sebagai seorang prajurit yang juga seorang penulis, Hikmat Israr menghadirkan perspektif yang unik. Pengalamannya di lapangan memberikan otentisitas pada tulisannya, terutama ketika membahas isu-isu militer dan keamanan. Sementara itu, ketajaman analisis dan kemampuan merangkai narasi yang baik sebagai seorang penulis memperkaya pemahamannya terhadap sejarah dan biografi. Ia mampu melihat melampaui garis pertempuran dan dokumen-dokumen resmi, untuk menangkap esensi kemanusiaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan lebih dari tiga puluh judul buku yang telah diterbitkan, Kolonel (Purn) Dr. Drs. Hikmat Israr, MM St. Chaniago yang kini menggunakan identitas Da Kimat dalam tulisan tulisan singkat cilotehnya, telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam dunia literasi Indonesia, khususnya dalam bidang sejarah militer, biografi dan budaya. Karya-karyanya tidak hanya menjadi catatan penting bagi generasi sekarang dan mendatang, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran tentang kepemimpinan, pengabdian, dan semangat kebangsaan.