Muchlis Sulin Datuak Marajo Basa
Muchlis Sulin Datuak Marajo Basa, seorang tokoh pers yang lahir di Nagari Aie Tabik, Payakumbuh, pada 23 April 1943, adalah sosok wartawan yang sangat dihormati karena karya dan integritasnya. Reputasinya yang gemilang bahkan menarik perhatian Majalah Tempo, yang mempercayainya sebagai koresponden untuk wilayah Sumatera Tengah. Perjalanan kariernya yang panjang dan dedikasinya terhadap dunia jurnalistik telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah pers Indonesia.
Perjalanan pendidikan Muchlis Sulin dimulai di Payakumbuh, tempat ia menempuh pendidikan dasar dan menengah. Kecintaannya pada dunia jurnalistik tumbuh sejak usia muda, dan ia memulai kariernya sebagai wartawan di usia 20-an. Pengalaman terlamanya adalah ketika ia dipercaya menjadi koresponden Majalah Tempo untuk Sumatera Tengah, sebuah bukti pengakuan atas kemampuannya dalam menyampaikan berita secara akurat dan berimbang. Selain itu, Muchlis Sulin juga memiliki peran penting dalam perkembangan Harian Singgalang di Padang. Ia menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi, dan bersama dengan Nasrul Sidik, Chairul Harun, dan M. Joesfik Helmi, mereka dikenal sebagai "empat serangkai" yang mengemudikan redaksi Mingguan Singgalang. Keempatnya berhasil mengubah mingguan tersebut menjadi surat kabar harian dengan delapan halaman pada awal 1980, sebuah pencapaian yang menandai kemajuan signifikan bagi media tersebut.
Muchlis Sulin, yang juga dikenal dengan gelar adat Datuak Marajo Basa, menghembuskan napas terakhir pada 13 September 1991 di usia 48 tahun. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia jurnalistik Indonesia. Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya, Aie Tabik, Payakumbuh, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Muchlis Sulin dikenang sebagai wartawan yang memiliki integritas tinggi, berdedikasi, dan profesional. Karya-karyanya mencerminkan komitmennya terhadap jurnalisme yang berkualitas dan berimbang. Ia adalah sosok yang dihormati oleh rekan-rekan seprofesinya dan menjadi inspirasi bagi generasi wartawan muda. Kontribusinya terhadap dunia pers, khususnya di Sumatera Barat, sangatlah besar. Ia tidak hanya berperan dalam perkembangan media cetak, tetapi juga memberikan contoh bagaimana seorang wartawan harus menjunjung tinggi etika dan profesionalisme. Kepergian Muchlis Sulin meninggalkan duka mendalam, tetapi warisannya akan terus hidup dalam dunia jurnalistik Indonesia. Ia adalah sosok yang patut dikenang dan dihormati atas dedikasi dan integritasnya dalam menyampaikan kebenaran.