Nakhoda Intan atau Haji Mohamad Saleh

 

Nakhoda Intan atau Haji Mohamad Saleh, adalah sosok penting dalam sejarah Pulau Pinang. Lahir di Payakumbuh, Luhak Limopuluah, beliau adalah seorang saudagar Minangkabau yang aktif dalam perdagangan lintas Selat Malaka pada paruh pertama abad ke-18. Bersama dua saudaranya, Nakhoda Bayan dan Nakhoda Kecil, ia dikenal sebagai peneroka awal pemukiman perantau Minangkabau di Pulau Pinang, Semenanjung Malaya.

Tiga orang saudagar dari Payakumbuh dikenal sebagai peneroka awal Pulau Penang, Malaysia, pada paruh abad ke-18. Nama ketiga nahkoda itu adalah Nahkoda Bayan, Nahkoda Intan, dan Nahkoda Kociak. Kabarnya mereka bertiga suku bodi, dari Nagari Air Tabit, Payakumbuh, dan masih berkerabat dengan Kerajaan Pagaruyung. Ketiga nahkoda itu mendapat izin dari Sultan Ahmad Tajuddin, Sultan Kedah, untuk menetap dan membuka pemukiman di Pulau Penang. Mereka meneroka pemukiman di wilayah pesisir Bayan Lepas, Balik Pulau serta Gelugor dan Tanjung. Mereka pedagang lintas selat Malaka. Mereka tiga bersaudara dianggap sebagai peneroka atau perintis pemukiman di wilayah itu sebelum kedatangan Francis Light, seorang berkebangsaan Inggris yang kemudian hari membangun benteng Fort Cornwallis, dan juga membangun wilayah tersebut sebagai koloni Inggris.

Atas izin Sultan Ahmad Tajuddin, Sultan Kedah, Nakhoda Intan dan para pengikutnya menetap dan membuka pemukiman di Pulau Pinang. Mereka bertiga meneroka wilayah pesisir Bayan Lepas, Balik Pulau, Gelugor, dan Tanjung. Nakhoda Intan sendiri membuka pemukiman di wilayah Batu Uban, di mana ia juga mendirikan Masjid Batu Uban, salah satu masjid tertua di wilayah tersebut yang masih banyak dikunjungi hingga kini. Kehadiran Nakhoda Intan dan saudara-saudaranya memiliki arti penting dalam sejarah Pulau Pinang. Mereka adalah perintis pemukiman di wilayah tersebut sebelum kedatangan Francis Light, yang kemudian membangun benteng Fort Cornwallis dan menjadikan Pulau Pinang sebagai koloni Inggris. Hingga kini, jejak sejarah Nakhoda Intan masih dapat ditemukan di Pulau Pinang. Masjid Batu Uban, yang didirikannya, menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah pemukiman Minangkabau di wilayah tersebut. Selain itu, nama-nama tempat seperti Bayan Lepas, Balik Pulau, Gelugor, dan Tanjung juga menjadi pengingat akan peran penting mereka dalam membuka wilayah-wilayah tersebut. Keberadaan Nakhoda Intan dan para perantau Minangkabau lainnya telah memberikan warna tersendiri bagi budaya Pulau Pinang. Warisan budaya Minangkabau, seperti adat istiadat, bahasa, dan kuliner, masih dapat ditemukan di tengah masyarakat Pulau Pinang hingga saat ini.

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url