ORDINAL
Di pinggiran Kota Payakumbuh, berdiri kokoh sebuah rumah makan yang namanya telah melambung tinggi di kalangan pecinta kuliner yaitu Rumah Makan Pongek OR Situjuah. Kisah di baliknya adalah narasi tentang ketekunan, pelestarian tradisi, dan cita rasa autentik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ordinal, pria kelahiran Situjuah, Lima Puluh Kota, pada tahun 1977, adalah sosok di balik kesuksesan rumah makan ini. Perjalanannya merintis usaha sejak tahun 2002 dari sebuah kedai kaki lima di pasar Payakumbuh hingga memiliki bangunan megah di Limbukan pada tahun 2009, adalah cerminan dari dedikasinya terhadap warisan kuliner kampung halamannya.
Motivasi Ordinal untuk membuka usaha ini berakar kuat pada keinginan untuk melestarikan makanan khas Situjuah, terutama Pongek, dan melanjutkan jejak ibunya, Yusniar, yang telah memulai usaha serupa sejak tahun 1980-an. Pongek, hidangan tradisional berbahan dasar nangka muda yang dimasak dengan santan hingga kering, bukan sekadar makanan bagi masyarakat Situjuah. Ia adalah hidangan wajib dalam berbagai acara adat dan menjadi simbol kekayaan kuliner nagari tersebut. Ordinal melihat potensi Pongek untuk tidak hanya menjadi kebanggaan lokal tetapi juga daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Luhak Limo Puluah.
Perjalanan Ordinal tidaklah instan. Dimulai dari skala kecil, sebuah kedai kaki lima yang sederhana, ia membangun fondasi usahanya dengan kerja keras dan mempertahankan kualitas rasa yang diwariskan dari neneknya. Kepindahannya ke Limbukan pada tahun 2009 menjadi tonggak penting. Bangunan awal yang hanya berukuran 4x6 meter lambat laun terasa sempit seiring dengan meningkatnya popularitas Pongek OR Situjuah. Keberhasilannya mengakuisisi lahan di belakang rumah makan dan membangun bangunan yang lebih luas, mampu menampung hingga 200 pengunjung, adalah bukti nyata dari perkembangan usahanya yang pesat. Dan keistimewaan Pongek OR Situjuah terletak pada keautentikan rasa dan proses pembuatannya yang masih dipertahankan secara tradisional. Bahan-bahan alami seperti daun kunyit, daun limau, serai, daun salam, kunyit, jahe, bawang, laos, kemiri, dan cabe diracik dengan cermat dan dimasak bersama santan menggunakan tungku dan kayu bakar di dalam belanga tanah liat. Metode memasak tradisional ini membutuhkan waktu yang sangat lama, hingga 24 jam, sebuah kesabaran dan ketelitian yang menghasilkan cita rasa yang mendalam dan khas. Penggunaan belanga tanah liat dan kayu bakar diyakini memberikan aroma dan rasa yang berbeda, yang sulit ditandingi oleh metode memasak modern.
Dampak dari dedikasi Ordinal terhadap Pongek Situjuah sangat signifikan. Rumah makannya kini menjadi destinasi kuliner favorit, tidak hanya bagi masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya, tetapi juga bagi pengunjung dari berbagai daerah, termasuk rombongan pejabat, artis ibukota, hingga wisatawan mancanegara. Kehadiran 30 orang pegawai yang melayani setiap hari menunjukkan betapa besar skala usaha yang telah dibangun Ordinal. Lebih dari sekadar bisnis, Pongek OR Situjuah telah menjadi ikon kuliner yang mengangkat nama Situjuah dan Payakumbuh di peta kuliner Indonesia. Selain Pongek sebagai menu andalan, Rumah Makan Pongek OR Situjuah juga menawarkan beragam hidangan khas Minangkabau lainnya, seperti dendeng batokok, balado jariang yang tidak berbau, jariang batokok cabai hijau, rendang, dan cincang kambing. Pilihan camilan tradisional seperti bongko dan ketan sari kaya semakin melengkapi pengalaman kuliner di tempat ini. Keberagaman menu ini menunjukkan komitmen Ordinal untuk tidak hanya fokus pada satu hidangan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan kuliner Minangkabau secara keseluruhan.