Sandra Diana Sari
Sandra Diana Sari, lahir pada 4 Mei 1995 di Payakumbuh, adalah potret seorang atlet yang berjuang melawan keterbatasan untuk meraih prestasi tertinggi. Dengan tekad baja dan semangat pantang menyerah, ia berhasil menorehkan namanya sebagai juara angkat berat Asia pada tahun 2017. Sandra mengkhususkan diri dalam tiga nomor lomba angkat berat: squat, bench press, dan deadlift. Di Kejuaraan Angkat Berat Asia di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ia menunjukkan dominasinya dengan meraih empat medali emas di kelas 52 kg yunior putri. Prestasinya yang gemilang ini mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Namun, di balik gemerlap medali emas, Sandra menyimpan kisah perjuangan yang mengharukan. Menjelang Kejuaraan Nasional Angkat Berat 2017, ia dan teman-temannya dari Klub Family Barbell harus turun ke jalan untuk menggalang dana karena keterbatasan biaya. Tindakan ini sempat menuai kontroversi dan teguran dari KONI Sumatera Barat. Sandra, yang berlatih di klub sederhana di Padang Selatan, juga tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah daerah. Ia tidak menerima hadiah atau bonus atas prestasinya yang membanggakan. Kisahnya ini kemudian viral di media sosial, memicu gelombang simpati dan dukungan dari masyarakat. Sandra adalah sosok yang tangguh dan mandiri. Ia adalah tulang punggung keluarga, bekerja di warung makan untuk membiayai kehidupan kedua adiknya. Meskipun hidup dalam keterbatasan, ia tidak pernah menyerah pada mimpinya untuk menjadi atlet berprestasi. Kisah Sandra ini menarik perhatian Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, yang kemudian mengunjunginya di Padang. Kunjungan ini diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi Sandra dan atlet-atlet berprestasi lainnya yang menghadapi kesulitan.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh