Kecamatan Gunuang Omeh: Mangani pada Zaman Hindia Belanda, PDRI di Koto Tinggi
Mangani pada Zaman Hindia Belanda
Kawasan Manggani yang terletak di hutan suaka Jorong Pua Data, Nagari Koto Tinggi, merupakan salah satu titik kekayaan alam paling fenomenal di Gunuang Omeh. Nama Manggani tidak hanya merujuk pada sebuah koordinat geografis, melainkan sebuah simbol kemakmuran tersembunyi di pedalaman Sumatra Barat. Sebagai daerah penghasil emas, kawasan ini memiliki nilai historis dan geologis yang sangat signifikan, menjadikannya sebagai magnet bagi para pencari keberuntungan sejak berabad-abad silam.
Sejarah mencatat bahwa pada awal abad ke-19, potensi emas di Manggani telah terendus oleh kolonial Belanda. Di bawah manajemen Barat, kawasan yang awalnya hutan belantara ini berubah menjadi pusat industri pertambangan yang sibuk. Pihak Belanda memulai eksploitasi secara sistematis, yang kemudian dilanjutkan oleh perusahaan Amerika Serikat. Transformasi ini membawa teknologi modern pada masanya ke jantung hutan Sumatra, mengubah lanskap hutan menjadi area produktif yang bernilai ekonomi tinggi.
Puncak kejayaan Manggani pada masa itu ditandai dengan pembangunan berbagai fasilitas yang sangat lengkap, hingga menyerupai sebuah kota kecil di tengah hutan. Di sana berdiri infrastruktur pendukung mulai dari pemukiman, perkantoran, hingga sarana logistik yang memadai untuk mendukung aktivitas ribuan pekerja. Namun, gemerlap kota tambang ini tidak bertahan selamanya. Pada tahun 1930-an, aktivitas penambangan besar-besaran secara resmi dihentikan, meninggalkan puing-puing kejayaan yang perlahan ditelan kembali oleh rimbunnya hutan suaka. Meskipun perusahaan besar telah lama angkat kaki, keka-yaan perut bumi Manggani tidak pernah benar-benar habis. Berdasarkan perkiraan geologis, potensi bijih emas yang terkandung di kawasan ini masih mencapai angka yang fantastis, yakni sekitar 900.000 ton dengan kandungan logam murni sekitar 5,85 ton. Angka ini menegaskan bahwa Manggani tetap menjadi salah satu cadangan emas terbesar yang belum tergarap sepenuhnya di Indonesia, menciptakan daya tarik yang terus bertahan meski aksesnya sangat terbatas.
Saat ini, wajah Manggani telah berubah menjadi area yang penuh dengan dilema hukum dan lingkungan. Statusnya yang berada di dalam kawasan hutan suaka membuat aktivitas penam-bangan secara legal mustahil untuk dilakukan tanpa izin khusus yang sangat ketat. Akibatnya, muncul aktivitas penambangan emas ilegal yang dilakukan oleh warga. Penambangan rakyat ini berjalan dengan peralatan seadanya namun dilakukan secara masif, mencip-takan risiko kerusakan ekosistem hutan yang seharusnya dilindungi. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya ancaman keterlibatan pihak luar yang tidak bertanggung jawab. Beberapa waktu lalu, sempat terdeteksi aktivitas penambangan yang melibatkan warga negara asing (WNA), yang menandakan bahwa daya tarik emas Manggani telah merambah hingga ke level internasional secara gelap. Hal ini tentu menjadi alarm bagi kedaulatan sumber daya alam Indonesia, karena eksploitasi tanpa izin tersebut tidak memberikan kontribusi pada negara dan justru merusak lingkungan.
Menanggapi berbagai kompleksitas tersebut, pemerintah kini mulai meningkatkan pengawasan secara intensif terhadap kawasan Manggani. Langkah tegas diambil untuk mencegah meluasnya kerusakan hutan suaka dan menghentikan kebocoran kekayaan negara melalui jalur ilegal. Perlindungan terhadap Manggani bukan hanya soal menjaga emas di bawah tanah, tetapi juga memastikan bahwa paru-paru dunia di Gunuang Omeh tetap terjaga demi keberlangsungan ekologi di masa depan.
Akses menuju lokasi tambang bukanlah perkara mudah dan membutuhkan fisik yang kuat. Terdapat dua pintu masuk utama yang sering digunakan oleh para penambang untuk mencapai titik emas tersebut. Jalur pertama dapat ditempuh melalui wilayah Bonjol di Kabupaten Pasaman, sementara jalur kedua melalui Jorong Pua Data, Koto Tinggi, di Kabupaten Lima Puluh Kota. Kedua jalur ini menuntut keberanian karena harus menembus rimbunnya hutan belantara Sumatra. Mayoritas penambang rakyat lebih memilih pintu masuk dari Jorong Pua Data sebagai titik awal perjalanan mereka. Dengan berjalan kaki selama berjam-jam atau menggunakan motor trail yang dimodifikasi khusus, mereka menerobos jalan setapak di tengah hutan rimba. Perjalanan ini bukan sekadar transportasi biasa, melainkan pertarungan melawan medan yang ekstrem dan cuaca yang tidak menentu demi mencapai lubang-lubang tambang yang tersembunyi.
Ketegangan di Manggani sempat memuncak pada akhir tahun 2018 ketika masyarakat setempat dikejutkan oleh kehadiran sembilan penambang berkewarganegaraan Tiongkok. Isu kehadiran tenaga kerja asing di tambang ilegal ini memicu kekhawatiran warga akan hilangnya kedaulatan atas sumber daya lokal. Merespons kegaduhan tersebut, Bupati Lima Puluh Kota mengambil langkah strategis dengan mengusulkan pengalihan status hutan lindung Manggani agar potensinya dapat dimanfaatkan secara legal dan terstruktur oleh daerah.
Sejarah tentang Mangani ditulis lebih lengkap oleh Nalfira di blog pribadinya parintangrintang.wordpress.com yang membahas bagaimana tambang Mangani di zaman Hindia Belanda. Beliau menyampaikan bahwa tambang Emas Manggani merupakan salah satu situs sejarah pertambangan yang paling menarik namun misterius di Sumatra Barat, tepatnya di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota. Terletak jauh di pedalaman hutan khatulistiwa, Manggani pernah menjadi pusat kegiatan ekonomi yang signifikan pada masa kolonial. Meskipun namanya melegenda di kalangan masyarakat lokal, informasi mengenai situs ini tergolong minim dan sering kali dianggap sebagai "kota tambang yang hilang" karena sulitnya menemukan catatan visual atau dokumen resmi di arsip umum.
Keberadaan Manggani mulai terangkat kembali melalui catatan perjalanan para ekspatriat yang bekerja di sana, salah satunya adalah Dr. Walther Rosenstingl. Dokter berkebangsaan Austria ini bekerja untuk perusahaan Mijnbouw Maatschappij Aequator, sebuah perusahaan pertambangan yang mengelola konsesi emas dan perak di lokasi tersebut. Kisah perjalanan Walther dari pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) menuju pedalaman Sumatra memberikan gambaran betapa ambisiusnya proyek pertambangan ini di tengah belantara yang belum terjamah.
Operasional tambang di Manggani tidak lepas dari perkem-bangan infrastruktur transportasi di Sumatera Barat. Untuk menca-pai lokasi terpencil tersebut, para pekerja dan pejabat tambang harus menempuh perjalanan panjang menggunakan kereta api melalui rute Padang, Padang Panjang, hingga berakhir di stasiun Payakumbuh. Perjalanan ini mencerminkan betapa pentingnya komoditas emas Manggani bagi pemerintah Hindia Belanda dan investor asing, sehingga pembangunan jalur kereta api pun diprioritaskan untuk mendukung logistik pertambangan.
Menariknya, kepemilikan tambang Manggani mengalami transisi antar-perusahaan. Sebelum dikelola oleh Mijnbouw Maatschappij Aequator, wilayah ini dikelola oleh Mijnbouw Maatschappij Sumatra. Perpindahan tangan ini menunjukkan bahwa potensi mineral di Manggani dipandang sangat menjanjikan secara ekonomi. Perusahaan-perusahaan ini membawa teknologi pengolahan emas dan perak yang modern pada masanya, membangun fasilitas pemurnian langsung di lokasi yang jauh dari peradaban kota. Salah satu hal yang membuat Manggani unik adalah keterlibatan tenaga ahli dari luar Belanda, khususnya dari Jerman dan Austria. Hal ini memunculkan spekulasi sejarah mengenai pengaruh ekonomi negara-negara Eropa lainnya di Hindia Belanda. Keberadaan para ahli medis dan teknis non-Belanda di Manggani membuktikan bahwa eksploitasi kekayaan alam di Nusantara merupakan daya tarik global yang melibatkan jaringan internasional yang luas, melampaui sekadar administrasi kolonial Belanda.
Selain sebagai pusat pertambangan, Manggani juga mencip-takan ekosistem sosial baru di pedalaman Lima Puluh Kota. Di sana dibangun berbagai fasilitas pendukung seperti rumah sakit dan kamp-kamp pekerja. Dr. Walther Rosenstingl sendiri mencatat pengalamannya memberikan layanan medis bagi para pekerja tambang dan keluarga mereka. Fasilitas kesehatan ini kemungkinan besar merupakan salah satu yang pertama dan paling modern di wilayah pedalaman Sumatra pada awal abad ke-20. Hubungan ekonomi antara tambang Manggani dan wilayah sekitarnya juga memicu pertumbuhan jalur kereta api baru, seperti jalur Payakumbuh-Limbanang yang diresmikan pada Juni 1921. Jalur ini tidak hanya digunakan untuk mengangkut hasil tambang emas dan perak, tetapi juga komoditas pertanian seperti tembakau dari daerah Baruah Gunuang dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran tambang emas menjadi motor penggerak pembangunan infrastruktur yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Namun, kejayaan Manggani tidak berlangsung selamanya. Seiring dengan habisnya cadangan mineral yang mudah dijangkau dan perubahan situasi politik dunia menuju Perang Dunia II, aktivitas pertambangan mulai menurun. Perlahan tapi pasti, pemukiman yang tadinya ramai oleh aktivitas industri mulai ditinggalkan. Hutan tropis Sumatra yang ganas dengan cepat mengambil kembali wilayah tersebut, menutupi bekas-bekas bangunan dan lubang tambang dengan vegetasi yang lebat. Saat ini, Manggani menjadi subjek penelitian bagi mereka yang tertarik pada sejarah industri dan petualangan. Minimnya foto-foto resmi di museum-museum besar seperti Tropen Museum atau Perpustakaan Leiden menambah kesan misterius pada tempat ini. Pencarian data tentang Manggani sering kali harus mengandalkan koleksi pribadi keluarga mantan pegawainya di Eropa atau sisa-sisa reruntuhan yang masih tertanam di dalam hutan Gunuang Omeh.
Manggani merupakan simbol dari ambisi besar manusia dalam mengeksploitasi kekayaan bumi di tengah tantangan alam yang berat. Ia merupakan bagian penting dari sejarah Sumatera Barat yang menghubungkan nagari-nagari di Lima Puluh Kota dengan jaringan perdagangan dan teknologi global. Meskipun kini telah menjadi kota yang hilang, jejak sejarahnya tetap hidup dalam ingatan kolektif dan catatan-catatan kecil yang tersisa, menanti untuk dipelajari lebih dalam oleh generasi mendatang. Berikut ini foto-foto tambang Mangani yang kita dapatkan di blog pribadi Nalfira tersebut:
PDRI di Koto Tinggi
Sejarah sering kali mencatat kota-kota besar sebagai pusat pergerakan, namun bagi kemerdekaan Indonesia, sebuah desa terpencil di Sumatera Barat bernama Koto Tinggi memegang peranan yang sangat vital. Ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer II tahun 1948, eksistensi Republik Indonesia berada di ujung tanduk. Di tengah situasi genting tersebut, Koto Tinggi bertransformasi dari sekadar desa di perbukitan menjadi benteng pertahanan terakhir sekaligus pusat komando Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Pemilihan Koto Tinggi sebagai salah satu basis utama PDRI bukanlah tanpa alasan. Secara geografis, wilayah ini dikelilingi oleh perbukitan terjal dan hutan lebat yang memberikan perlindungan alami dari pengintaian udara maupun serangan darat Belanda. Keamanan wilayah ini memungkinkan PDRI untuk terus menyuara-kan keberadaan Indonesia ke dunia internasional, membuktikan bahwa Republik belum mati meskipun para pemimpin utamanya ditawan.
Kehidupan pemerintahan di Koto Tinggi selama masa daru-rat dijalankan dengan kesederhanaan yang luar biasa namun tetap terorganisir. Rumah-rumah penduduk berubah fungsi menjadi kantor-kantor kementerian darurat dan pusat komunikasi radio. Salah satu peninggalan bersejarah yang paling ikonik adalah Monumen Bela Negara, yang didirikan untuk mengenang kegigihan para pejuang dalam mempertahankan kedaulatan dari pelosok desa. Aktivitas pemerintahan yang berpindah-pindah (mobile) ini menjadi kunci mengapa Belanda gagal melumpuhkan perlawanan Indonesia saat itu. Dukungan masyarakat lokal Koto Tinggi juga menjadi pilar keberhasilan PDRI. Warga desa dengan tulus menyediakan logistik, menjaga keamanan jalur gerilya, hingga merahasiakan keberadaan para pemimpin negara dari mata-mata musuh. Hubungan yang harmonis antara militer, pemerintah, dan rakyat di Koto Tinggi mencerminkan semangat kemanunggalan yang menjadi ruh perjuangan kemerdekaan. Tanpa pengorbanan dan kesetiaan warga desa ini, rantai kepemimpinan nasional mungkin saja terputus di tengah jalan. Peristiwa PDRI di nagari ini mengajarkan kita tentang pentingnya kesiapan dalam menghadapi krisis dan nilai strategis wilayah pedalaman. Kini, mengenang Koto Tinggi bukan sekadar urusan sejarah, melainkan upaya untuk terus merawat semangat bela negara agar tetap menyala di hati setiap generasi penerus bangsa.
Jembatan Titian Dalam
Sekitar 4 kilometer sebelum Koto Tinggi terdapat sebuah jembatan yang menjadi saksi sejarah atas kebrutalan Belanda yang menembak 9 orang BPNK pada tanggal 10 Januari 1949. Kesembilan para syuhada itu adalah: Syarif MP, Engku Kayo Zakaria, Dirin, Nuin, Radian, Manus, Nyik Ali, Abas dan Mak Dirin. Kesembilan syuhada itu meninggal ditembak Belanda ketika semuanya berusaha merusak jembatan Titian Dalam agar pasukan Belanda tidak bisa masuk ke Koto Tinggi tempat para pimpinan PDRI.
Ketika pejabat PDRI yang dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara pada tanggal 23 Desember 1948 meninggalkan Halaban menuju Bidar Alam, namun dua orang menteri PDRI yaitu Mr. Sutan Moh. Rasyid dan Ir. Mananti Sitompul memilih Koto Tinggi sebagai basis pemerintahan PDRI dan Gubernur Sumatera Tengah. Karena begitu pentingnya peran Koto Tinggi, sebuah Radio PHB AURI ZZ diikutsertakan melayani kedua menteri PDRI di sini.
Radio itu dipimpin oleh Mohammad Jacoeb. Dan untuk awal keberadaannya di Koto Tinggi ini berada di Puar Datar di rumah Abdul Majid. Rumah ini berupa rumah gadang dan terlihat masih kokoh meski di beberapa bagian membutuhkan pemeliharaan untuk mempertahankan keasliannya (Nurhayati, 2018).
Rumah ini tidak terlalu besar dengan dinding berupa kayu dan berlantai papan sebagaimana rumah gadang pada umumnya. Beratap seng dan ada sebuah rangkiang di halaman. Dan di pintu rumahnya tertulis di sebuah papan kecil tentang lokasi pemancar radio PDRI. Dan di rumah ini sender Radio PHB AURI ZZ pernah dioperasikan sejak tanggal 27 Desember 1948 sampai 10 Januari 1949 sebelum Belanda curiga dan mengeledah sender di rumah ini. Tapi untunglah pejuang PDRI bergerak cepat dan menyembunyikan sender tidak beberapa meter dari sana di sebuah lubang dekat kandang sapi. Sender itu disembunyikan dengan menimbunnya dengan sampah daun-daun dan kotoran sapi sehingga Belanda tidak mengetahuinya meski tidak beberapa langkah lagi (Metrizal, 2018).
Di rumah ini Komandan Muhammad Jacoeb yang menjadi Kepala AURI Datasemen Piobang pernah tinggal di sini. Dan tidak jauh dari sini ada sebuah makam Abdul Azis pada masa PDRI menjabat Camat Militer Suliki di Puar Datar. Dan di Jorong Puar Datar ini banyak Staf Kementrian PDRI tinggal di rumah-rumah penduduk. Di antara pejabat PDRI yang tinggal di Puar Datar sebagaimana yang disampaikan oleh saksi sejarah (Alm) Agustiar Dt. Bandaro Mudo kepada aktivis PDRI Koto Tinggi, Metrizal, bahwa Mr. Syafruddin Prawiranegara menetap di rumah Usman yang berangkat dari Silantai Sumpur Kudus menuju Koto Tinggi. Dan di Lakuang pernah ditempati oleh Mentri Mr. Lukman Hakim serta Mentri Ir. Indratjaja menetap di rumah Kamisah yang dulunya sebagai tempat pemancar Radio PHB ZZ sebelum di pindahkan ke Padang Jungkek Mudiak Dodok. Dan di Puar Datar ini pernah dibangun sebuah pabrik rokok yang bernama Persin.
Setelah Belanda nyaris menemukan Radio PHB AURI ZZ di Puar Datar maka Kol. Sujono menyarankan awak Radio PHB AURI ZZ beserta peralatan radio dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Dengan menggunakan mobil mogok yang bannya kempes maka Radio PHB AURI ZZ dipindahkan ke Mudiak Dodok. Radio ini pernah satu malam di Sungai Dodok dan perjalanan dilanjutkan menuju Padang Jungkek, Mudiak Dodok (Metrizal, 2018).
Jalan menuju Padang Jungkek ini berupa jalan berkerikil dengan penurunan cukup tajam. Jarak Puar Datar ke Mudiak Dodok sekitar 2 kilometer. Dan dari simpang (Mudiak Dodok) hampir satu kilometer ke Padang Jungkek dengan jalan-jalan di lereng perbukitan dengan berbelok-belok dan curam. Kebetulan saat itu sebagian jalan sudah diperbaiki berupa jalan cor semen.
Jembatan pertama dinamakan warga sebagai Jembatan Air Mata Yakub karena ketika membawa radio sender dari Puar Datar ke Padang Jungkek, Muhammad Jacoeb menahan generator radio yang hampir jatuh ke dalam sungai. Karena hari hujan, maka tetesan hujan merembes di mata Muhammad Jacoeb. Warga mengira komandannya sedang menangis. Dan sejak itulah jembatan itu dinamakan Jembatan Air Mata Yakub (Umar Said Noor, 1999).
Jembatan Air Mata Yakub ini terdiri dari material kayu. Lebarnya lebih kurang sekitar 3 meter dengan panjang 5 meter. Tidak ada tanda-tanda khusus yang menunjukkan bahwa jembatan ini sebagai jembatan sejarah: berupa papan nama jembatan, misalnya, ataupun dengan mendirikan sebuah tugu. Dan sepanjang jembatan ini terdapat sawah, perbukitan dan perkebunan jeruk yang subur dan melimpah buahnya.
Setelah melewati jembatan ini, beberapa ratus meter setelah melewati jalan cor semen di perbukitan saya bertemu sebuah jembatan lagi. Dan ketika buku ini ditulis, jembatan itu telah hanyut dibawa arus air. Dan jembatan alternatifnya adalah sebuah jembatan dari beberapa bambu sebagai jalur penyeberangan.
Sesudah jembatan Air Mata Yakub maka akan sampai di Padang Jungkek. Dulunya Padang Jungkek adalah sebuah perkampungan. Dan di sini pula sender dan beberapa pejuang PDRI tinggal untuk mengoperasikan Radio PHB AURI ZZ. Di antara nama itu adalah Muhammad Jacoeb, Jufri, Yuwono, Ismail, Sugianto yang tinggal di rumah Ramani. Dan Padang Jungkek mulai ditinggalkan warga ketika di Mudiak Dodok telah masuk aliran listrik. Dan nyaris tempat ini tidak ada lagi penduduk yang menghuninya (Anasri, 2018).
Lokasi Radio PHB AURI ZZ di Padang Jungkek terletak di rumah Ramani. Dan seorang adiknya yang masih hidup berumur sekitar 70 tahun bernama Anasri, juga menjadi informan, menunjukkan bekas rumah Ramani sebagai tempat tinggal dan dioperasikannya radio bersejarah itu. Menurut Kakek Anasri, dulu masyarakat di sini saling bekerjasama untuk membantu pejuang PDRI. Dan masyarakat menyisakan sebagian hasil panennya untuk kebutuhan pejuang PDRI yang banyak tersebar di Koto Tinggi. Hasil-hasil panen itu akan dikumpulkan oleh wali perang. Dan dari sana akan dibentuk dapur-dapur umum untuk memasak sumbangan warga untuk prajurit yang berjuang. Dari lokasi yang ditunjukkan oleh Kakek Anasri, bekas rumah Ramani masih meninggalkan jejak berupa bak-bak tempat mandi, tangga masuk rumah yang dibuat dari batu. Dan lokasi bekas rumah ini terletak di dalam kebun jeruk. Tidak jauh dari rumah Kakek Anasri se-karang.
Di lokasi PDRI itu yang tinggal hanyalah sebuah tangga untuk naik ke rumah yang kebetulan dari batu bata yang disemen dan sudah tertutup lumut. Saya dan Kakek Anasri membersihan lumut itu dan memfotonya. Selain tangga rumah, ada juga sebuah bak tempat air yang di-buat dari batu-batu yang disemen. Bak air itu sudah ditumbuhi semak dan jika dilihat sepintas hampir tidak bisa dikenali lagi. Sekitar 50 meter dari sana terdapat bak mandi pejuang PDRI yang terletak di dekat tebing. Dan pemancar sender PDRI pada masa itu terletak di perbukitan Pematang Panjang Aie Angek.
Selain lokasi radio PHB AURI ZZ di Padang Jungkek, salah seorang menteri PDRI ada yang menetap di Sungai Sariah yaitu Menteri PU dan Kesehatan yaitu Ir. Mananti Sitompul. Berdasarkan keterangan dari Kakek Barmawi, 84 tahun, tinggal di Sungai Sariah menjelaskan bahwa rumah itu masih ada sampai sekarang dan masih dihuni. Berbentuk rumah papan dengan ukuran sekitar 3 meter x 3 meter. Rumahnya masih terlihat terawat meski sudah tua.
Selain di Sungai Sariah, di Kampung Pitopang juga tinggal Menteri Sosial PDRI yang merangkap sebagai Gubernur Sumatera Tengah yaitu Mr. Sutan Moh. Rasyid. Rumah ini terletak di lereng perbukitan dan sebuah sungai jernih mengalir di bawahnya. Dari Pasar Kampung Melayu perjalanan menuju arah Balairung Adat Koto Tinggi. Di dekat Kantor Wali Nagari ada sebuah gang dan nanti bertemu jembatan kecil yang hanya cukup dilalui motor. Setelah melewati jembatan, di samping kiri adalah sungai dan samping kanan adalah sawah-sawah pertanian. Dan sekitar 100 meter dari sana akan bertemu dengan perkampungan penduduk.
Sebelum menemui perkampungan ada sebuah surau lama. Terbuat dari batu. Beratap seng dan bercat putih. Tidak terlalu besar ukuran surau tersebut. Lebih kurang ukuran 6 x 7 meter. Dan di surau itu Mr. Sutan Moh. Rasyid dan para stafnya shalat. Surau itu bernama Surau Perjuangan.
Tidak jauh dari surau ada sebuah rumah gaduang. Terbuat dari kayu. Berlantaikan papan. Dengan ukuran sekitar 6 x 8 meter. Dan rumah itu tidak dihuni lagi. Ada banyak pelapukan di rumah tersebut. Atapnya dari seng dan di pintu rumah tertulis Rumah KIMA/M. RASYID. Di rumah itulah Mr. Sutan Moh. Rasyid tinggal dan bekerja sebagai Gubernur Sumatera Tengah dan Mentri Sosial PDRI (Metrizal, 2018). Halaman rumah ditanami tanaman palawija seperti cabe dan dipagar supaya hewan ternak tidak masuk. Dan dari keterangan Metrizal, aktivis PDRI dan anak pemilik rumah, mengatakan bahwa rumah bersejarah ini juga belum dijadikan situs cagar budaya yang dirawat oleh pemerintah. Di atas rumah ini juga terdapat rumah gadang yang telah roboh tempat tinggal pejuang PDRI. Dan di dekat itu ada beberapa rumah yang dulu juga dijadikan oleh pejuang PDRI sebagai tempat tinggal. Sekarang kondisinya memperihatinkan dan belum dijadikan situs cagar budaya oleh pemerintah. Dan rumah-rumah ini dulu dimiliki oleh Zuniar dan Zulfiza.
