Masjid Jami’ Air Tiris: Cagar Budaya Tahan Gempa dan Saksi Bisu Peradaban Sungai Kampar

 


KAMPAR,  — Bangunan bersejarah Masjid Jami’ Air Tiris yang terletak di Desa Tanjung Berulak, Dusun Pasar Usang, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, terus berdiri kokoh sebagai salah satu simbol kebudayaan dan arsitektur Islam tertua di kawasan tersebut. Berjarak sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Pekanbaru, masjid ini menjadi bukti mahakarya konstruksi kayu tradisional Nusantara yang dibangun tanpa menggunakan paku besi.

Masjid ini dibangun secara bergotong royong oleh masyarakat setempat pada tahun 1901 di bawah pimpinan ulama Engku Mudo Songkal dan kepala tukang H. Burhanuddin.

Konstruksi fisik masjid memanfaatkan teknik sambungan pasak kayu yang presisi. Teknik struktur fleksibel ini terbukti tahan terhadap guncangan gempa bumi serta mampu bertahan melintasi waktu lebih dari satu abad.

Arsitektur Masjid Jami’ Air Tiris menampilkan perpaduan ornamen Melayu dan Tionghoa dengan atap tumpang tingkat tiga yang menyerupai karakter Masjid Agung Demak. Berdasarkan arsip foto KILTV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) tahun 1930, atap masjid pada awalnya menggunakan bahan ijuk sebelum kemudian diganti dengan seng demi perawatan struktur.

Pemerintah Provinsi Riau secara resmi menetapkan Masjid Jami’ Air Tiris sebagai Cagar Budaya tingkat provinsi pada tahun 2017. Bangunan ini disangga oleh 40 tiang kayu, dengan empat tiang utama (soko guru) yang menjulang setinggi 26 meter.

Posisinya yang berada persis di tepi Sungai Kampar merekam sejarah kawasan Pasar Usang yang pada masa lalu menjadi dermaga dan pusat aktivitas perdagangan air penting, yang menghubungkan wilayah Sumatra Barat dan Riau.

Petugas masjid, Udin, mengemukakan bahwa keberadaan masjid ini diwarnai berbagai peristiwa penting dan ingatan kolektif warga. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan masjid sempat diupayakan untuk dibakar, namun struktur kayunya tetap utuh.

Selain itu, saat banjir besar melanda dan meluapnya Sungai Kampar pada tahun 2016, area dalam masjid tetap luput dari genangan air sehingga difungsikan sebagai tempat pengungsian warga setempat.

Hingga kini, Masjid Jami’ Air Tiris tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah rutin, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah dan riset arsitektur tradisional bagi peneliti serta peziarah dari berbagai daerah. 

Foto: Beni Setiadi 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url