Merawat Kebudayaan di Ruang Publik, Komunitas Tanah Rawa Gelar Diskusi Sastra di Perpustakaan Daerah Payakumbuh

 

PAYAKUMBUH — Dunia sastra dan kebudayaan tidak selamanya harus terkurung dalam sekat-sekat akademis atau forum formal. Berangkat dari gagasan untuk mendekatkan literasi dengan dinamika keseharian masyarakat, komunitas Tanah Rawa menggelar program perdana bertajuk "ORI" (Ota Ringan Tanah Rawa) di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Payakumbuh, Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Lantai 3 Ruang Audio Visual Perpustakaan Daerah Kota Payakumbuh tersebut mempertemukan puluhan seniman, budayawan, penulis, serta pegiat literasi lokal. Program ORI menghadirkan dua sastrawan terkemuka, Gus tf Sakai dan Ilham Yusardi, dengan dipandu oleh moderator Ayu K Ardi.

Melalui format dialog yang cair dan dialogis, para narasumber mendiskusikan proses kreatif pembuatan karya, tantangan kebudayaan di era digital, hingga pentingnya keberanian dalam menyampaikan gagasan. Selain ruang diskusi, perhelatan ini dimeriahkan dengan penampilan musikalisasi puisi, deklamasi, temu ramah anggota baru komunitas, serta penyerahan hadiah teka-teki silang (TTS) Tanah Rawa.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, menyambut hangat kolaborasi kreatif ini. Menurutnya, kehadiran komunitas adalah energi utama yang menghidupkan fungsi perpustakaan sebagai pusat interaksi sosial dan kebudayaan masyarakat.

"Perpustakaan tidak boleh lagi dipandang sekadar tempat menyimpan buku yang hening. Kami ingin Perpusda Payakumbuh menjadi ruang publik yang terbuka dan hidup bagi siapa saja untuk bertemu, berdiskusi, dan melahirkan gagasan-gagasan baru. Kolaborasi bersama komunitas seperti Komi=unitas Tanah Rawa membuktikan bahwa literasi bisa dirawat dengan cara yang sangat akrab dan inklusif," ujar Erwan. 

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah siap mendukung penuh berbagai inisiatif komunitas yang menjadikan perpustakaan sebagai laboratorium ide dan ekspresi seni.

Sinergi antara komunitas kreatif dan Pemko Payakumbuh ini mempertegas arah transformasi perpustakaan daerah. Ketika perpustakaan membuka diri menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan dan pengalaman, literasi tidak lagi sekadar dipahami sebagai kemampuan membaca teks, tetapi menjadi sebuah pengalaman budaya yang dialami, dirasakan, dan dirawat bersama.

 


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url