Kecamatan Pangkalan Koto Baru: Legenda, Tambo, Sejarah, Embarkasi Haji Zaman Dulu, Masa Hindia Belanda, Jalur Transportasi, Zaman Kemerdekaan
Dalam Legenda
Cerita rakyat tentang nama Pangkalan Koto Baru bermula dari sebuah legenda rakyat mengenai seorang raja bernama Ongku Mudo yang memiliki putri cantik bernama Si Upiak Gadih Ancak. Berdasarkan ramalan seorang tukang ramal, putri tersebut diprediksi akan menghancurkan negara di masa depan, sehingga raja dengan berat hati mengusirnya dari rumah. Setelah sebulan mengembara, putri tersebut berhenti di sebuah bukit dan bertemu dengan seorang nenek yang tinggal di tempat yang kemudian diberi nama "Pangkalan Koto Baruak". Nama ini konon merujuk pada banyaknya hewan baruak (monyet) yang menghuni wilayah ter-sebut bersama nenek itu.
Legenda berlanjut dengan kisah baruak yang membantu Si Upiak Gadih Ancak saat ia kelaparan. Baruak tersebut mengambil nasi dari rumah nenek yang kemudian dibagikan kepada putri tersebut. Melalui serangkaian kejadian mistis, termasuk upaya nenek tersebut untuk meracuni baruak yang berakhir dengan kematian nenek itu sendiri, Si Upiak Gadih Ancak akhirnya menetap di rumah sang nenek. Seiring berjalannya waktu, istilah "Koto Baruak" berubah menjadi "Koto Baru", dan tempat ini menjadi pangkalan penting bagi kapal-kapal yang menuju Riau, yang memperkuat nama "Pangkalan".
Dalam Tambo
Dalam struktur adat Minangkabau, Pangkalan dikenal dengan sebutan "Kambuik Baniah Tampang Pusako" dari Luak Limo Puluah. Sistem adatnya sangat terstruktur dengan adanya lima suku yang dipimpin oleh dua belas penghulu, dua belas malin, dan dua belas hulu balang. Para penghulu ini memiliki peran spesifik, seperti Dt. Sibijayo dari suku Pitopang yang menangani masalah adat dan pusaka, serta Dt. Basa yang mengurus masalah undang-undang dalam nagari. Struktur kepemimpinan kolektif ini menjaga keseim-bangan sosial dan hukum di tengah masyarakat.
Filosofi "Kambuik Baniah Tampang Pusako" yang melekat pada Pangkalan dalam Tambo Luak Limo Puluah bukanlah sekadar kiasan. Istilah ini menegaskan posisi Pangkalan sebagai wadah penyimpanan "benih" atau nilai-nilai murni adat Minangkabau yang dijaga ketat agar tidak punah. Sebagai gerbang timur Luak Limo Puluah, Pangkalan memikul beban sejarah untuk melestarikan struktur sosial yang sangat terperinci, yang terdiri dari lima suku serta kelengkapan kepemimpinan "Nan Duo Baleh" (Penghulu, Malin, dan Hulubalang).
Struktur kepemimpinan di Pangkalan sangat unik karena didasarkan pada pembagian tugas yang presisi. Puncak kepemim-pinan adat ini berada di tangan Dt. Sibijayo dari Suku Pitopang. Beliau adalah personifikasi dari "Kambuik Baniah" itu sendiri. Jika terjadi sengketa atau kebuntuan terkait urusan adat dan harta pusaka, Dt. Sibijayo bertindak sebagai pemegang otoritas tertinggi untuk memberikan keputusan, memastikan bahwa warisan leluhur tetap berada pada jalurnya yang benar.
Pendamping utama dalam menjaga ketertiban hukum adalah Dt. Basa (Pitopang), yang dijuluki sebagai "Talago Undang Kebulatan Cupak". Jika Dt. Sibijayo menjaga substansi pusaka, maka Dt. Basa menjaga mekanisme hukumnya. Hubungan keduanya digambarkan sebagai "Kayu Panjang Bakarek Duo". Filosofi ini menunjukkan fleksibilitas sekaligus soliditas kepemimpinan; jika salah satu berhalangan, yang lain dapat mengambil alih peran tanpa mengurangi keabsahan keputusan, demi menjamin keberlang-sungan roda pemerintahan adat.
Aspek pencerahan dan pengawasan dalam nagari diemban oleh Dt. Tumangguang (Madahiliang) dan Dt. Mangkuto (Piliang). Sebagai "Suluh Sigi" dan "Suluah Bendang", keduanya berfungsi sebagai penerang di tengah kegelapan atau keraguan sosial. Mereka bertugas memberikan arahan dan edukasi kepada masyarakat agar tidak tersesat dalam memahami norma-norma yang berlaku, sehingga kehidupan komunal di Pangkalan tetap harmonis dan terbimbing secara moral. Keadilan sosial dan objektivitas hukum dipersonifikasikan melalui peran Dt. Perpatiah (Caniago) dan Dt. Majo Indo (Piliang). Dt. Perpatiah bertindak sebagai "Neraca Adat", memastikan timbangan keadilan tidak berat sebelah. Sementara itu, Dt. Majo Indo berfungsi sebagai "Cermin Terus", yang memberikan visi jernih dalam mufakat. Dengan prinsip "bulat boleh digolongkan, picak boleh dilayangkan", mereka memastikan setiap keputusan yang diambil melalui musyawarah adalah hasil yang paling optimal bagi seluruh anggota suku.
Dalam aspek perlindungan dan pengayoman, hadir Dt. Penghulu Basa (Domo). Perannya sebagai "Payung Panji" membe-rikan rasa aman bagi masyarakat. Beliau adalah tempat mengadu saat "hujan" masalah melanda dan tempat berlindung saat "panas" tantangan menghantam. Keberadaan figur ini krusial untuk menjaga stabilitas psikologis dan sosial warga Nagari Pangkalan, memas-tikan bahwa tidak ada anggota masyarakat yang merasa diting-galkan dalam kesulitan.
Urusan diplomasi dan hubungan luar dikelola oleh Dt. Bandaro (Pitopang) sebagai "Pucuak Gadang Karantau". Mengingat posisi Pangkalan sebagai daerah perbatasan yang strategis, peran Dt. Bandaro sangat penting dalam menyaring informasi dan men-jalin komunikasi dengan pihak luar. Beliau adalah pengolah kata dalam sidang, memastikan bahwa setiap interaksi keluar tetap menjunjung tinggi martabat adat Luak Limo Puluah.
Keharmonisan dalam kegiatan sosial dan seremonial diatur oleh Dt. Domoanso (Pitopang). Beliau bertanggung jawab penuh dalam perhelatan adat atau "Alek Jamu". Sebagai "Penyigi Segala Makanan", tanggung jawabnya bukan hanya soal hidangan secara fisik, melainkan juga memastikan bahwa protokol dan tata krama dalam menjamu tamu dijalankan dengan sempurna, yang mencer-minkan kemuliaan budi pekerti masyarakat setempat. Adapun fungsi administratif dan simbolis kelengkapan balai adat dijalankan oleh Dt. Marajo (Domo) sebagai "Kunci Balai", Dt. Rajo Malayu (Melayu) sebagai "Pangua Tabuah", dan Dt. Panduko Indo (Caniago) sebagai "Antiko Adat". Ketiganya memastikan bahwa institusi Balai Adat sebagai pusat pengambilan keputusan tetap sakral, teratur, dan terjaga tradisinya. Tabuah (bedug) yang dipukul oleh Dt. Rajo Malayu adalah sinyal persatuan yang memanggil seluruh elemen masyarakat untuk berhimpun.
Secara keseluruhan, struktur Mamak Nan Duo Baleh di Pangkalan merupakan ekosistem kepemimpinan yang lengkap dan saling melengkapi. Dengan dukungan dari Malin Nan Duo Baleh di bidang agama dan Hulubalang Nan Duo Baleh di bidang keamanan, Pangkalan benar-benar menjadi "Kambuik Baniah" yang tangguh. Pelestarian struktur ini adalah kunci bagi Pangkalan untuk tetap menjadi benteng budaya dan identitas bagi Luak Limopuluah Kota di tengah derasnya arus modernisasi.
Dalam Sejarah
Asal-usul nama "Pangkalan" sendiri memiliki akar sejarah yang kuat dalam dunia maritim pedalaman (Merza Gamal, 2022). Nama ini merujuk pada fungsinya di masa lalu sebagai pangkalan atau pelabuhan bagi kapal-kapal yang hendak menuju Riau. Sebelum infrastruktur jalan raya modern membelah hutan dan perbukitan pada abad ke-19, jalur air adalah satu-satunya nadi kehidupan yang menghubungkan perdagangan antara wilayah pegunungan dan pesisir timur. Adapun Nagari Pangkalan pada abad ke-18 dan ke-19 dikenal sebagai pelabuhan sungai yang sangat ramai, terletak di tepian Sungai Maek atau yang sering disebut sebagai Sungai Mahek. Di titik inilah, aktivitas bongkar muat komoditas unggulan terjadi, menjadikan daerah ini sebagai pusat gravitasi ekonomi bagi masyarakat Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Perahu-perahu kayu bersandar, menciptakan pemandangan dermaga yang sibuk dan dinamis.
Peran strategis Pangkalan menjadikannya simpul perda-gangan internasional pada masanya. Para saudagar dari Pangkalan menempuh jalur pelayaran menyusuri Sungai Kampar hingga mencapai muaranya. Dari sana, akses terbuka lebar menuju Selat Malaka, memungkinkan barang-barang lokal sampai ke Malaysia, Singapura, bahkan menjangkau pasar-pasar di mancanegara melalui jaringan perdagangan maritim yang luas (arasynews.com, 2022).
Akses menuju Pekanbaru di masa lalu juga sangat bergantung pada sistem ini, yakni melalui pelabuhan di Taratak Buluah dan kemudian tersambung dengan jalur kereta api. Keterhubungan ini membuktikan bahwa Pangkalan Koto Baru adalah titik sentral dalam mobilitas manusia dan barang jauh sebelum teknologi otomotif mendominasi daratan Sumatera. Hal ini pula yang membentuk mentalitas masyarakatnya menjadi terbuka dan berjiwa dagang.
Di tengah hiruk pikuk perdagangan tersebut, aspek spi-ritualitas tetap menjadi fondasi utama masyarakat. Tidak jauh dari pasar Baru Pangkalan, berdiri sebuah bangunan suci yang menyimpan memori kolektif warga, yakni Masjid Raya Pangkalan Koto Baru. Masjid ini dibangun tepat di dekat bekas pelabuhan kuno, menjadi saksi bisu betapa eratnya kaitan antara aktivitas ekonomi dan nilai-nilai religius bagi masyarakat Minangkabau. Secara arsitektural, Masjid Raya Pangkalan pada awalnya mencerminkan kearifan lokal yang kental. Bangunan aslinya terbuat dari kayu berkualitas dengan atap ijuk yang bersusun. Desain ini bukan sekadar estetika, melainkan representasi dari Kelarasan Bodi Caniago. Bentuk atap yang menyerupai "tungkuih nasi" bersusun menjadi simbol identitas bahwa masyarakat Koto Baru menganut sistem adat yang mengutamakan musyawarah dan mufakat.
Bukti otentik mengenai kemegahan masjid ini di masa lampau terekam dalam sejarah melalui teknik litografi. Seorang fotografer bernama C. Nieuwenhuis mengabadikan sosok masjid ini pada tahun 1900. Foto hitam putih yang kini tersimpan di Algemeen Rijksarchief Den Haag, Belanda, memperlihatkan keanggunan struktur bangunan yang sangat kontras dengan latar alam sekitarnya, sebuah dokumentasi berharga yang dipesan oleh kolektor H.F. Laman Trip-van Andringa de Kampenaer.
Dalam foto tua tersebut, terlihat sebuah bangunan kecil bagonjong di samping masjid yang berfungsi sebagai tempat meletakkan tabuah atau bedug besar. Tabuah ini memegang peranan vital sebagai alat komunikasi massa, memanggil warga nagari untuk segera berkumpul saat waktu salat Jumat telah tiba. Suaranya yang menggema di sepanjang aliran Sungai Maek menjadi penanda waktu bagi para pedagang dan penduduk setempat.
Keunikan lain dari kompleks masjid ini adalah adanya menara dengan konstruksi khas Minangkabau yang sulit ditemukan di daerah lain. Di belakang bangunan utama, terdapat bangunan yang lebih kecil dengan atap serupa, yang kemungkinan besar adalah sebuah surau. Keberadaan surau yang berdampingan dengan masjid menunjukkan pembagian fungsi sosial-keagamaan yang rapi dalam struktur adat Minangkabau di masa lalu (arasynews.com, 2022). Masjid berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan selingkup nagari, sementara surau menjadi pusat pembinaan kaum dalam satu korong atau dusun. Selain itu, terdapat pula bangunan yang digunakan untuk Kerapatan Alek Nagari, tempat para ninik mamak bermusyawarah memutuskan perkara adat. Integrasi antara tempat ibadah, pendidikan, dan balai pertemuan ini menjadikan kawasan masjid sebagai jantung kehidupan sosial Pangkalan.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, wajah Masjid Raya Pangkalan pun berubah. Renovasi besar-besaran telah mengubah arsitektur aslinya yang bergaya tradisional menjadi lebih modern dengan sentuhan gaya Eropa. Meskipun bentuk fisik bangu-nannya telah bersulih rupa, nilai sejarah dan posisinya sebagai titik kumpul masyarakat tidak pernah luntur oleh perubahan musim. Salah satu peninggalan yang sangat bersejarah dan masih terjaga hingga kini adalah mimbar masjid. Mimbar ini memiliki cerita unik sebagai pemberian dari seorang saudagar Pangkalan yang baru kembali dari Kalimantan. Menariknya, terdapat dua mimbar yang dibawa; satu untuk Masjid Raya Pangkalan, dan satunya lagi disumbangkan ke masjid di Pasar Bawah Senapelan, Pekanbaru, sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Siak melalui Nagari Taratak Buluah.
Kisah mimbar tersebut menegaskan betapa luasnya jaringan persaudaraan dan perdagangan yang dijalin oleh masyarakat Pangkalan. Hubungan antara Pangkalan, Siak, dan Kalimantan menunjukkan bahwa masyarakat daerah ini telah memiliki pandangan global sejak abad ke-19. Hal ini juga memperkuat posisi Pangkalan sebagai perantara budaya antara daratan Sumatera Barat dan pesisir Riau. Kini, di atas bekas pelabuhan kuno yang dulu dipenuhi kapal-kapal dagang, telah berdiri jembatan kokoh yang menghubungkan jalan raya Riau-Sumatera Barat. Jembatan ini menjadi simbol transisi peradaban dari jalur air menuju jalur darat. Namun, jika kita berdiri di tepian Sungai Maek hari ini, aura kebesaran masa lalu sebagai pelabuhan besar masih terasa di antara hembusan angin perbukitan.
Masjid Raya Pangkalan Koto Baru pun tetap berdiri megah, berfungsi sebagai tempat perhentian favorit bagi para musafir. Baik mereka yang datang dari arah Riau maupun yang hendak meninggalkan Sumatera Barat, banyak yang memilih singgah untuk beribadah sekaligus beristirahat. Masjid ini menjadi titik temu bagi berbagai latar belakang manusia yang melintasi jalur sibuk tersebut. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini tetap menjalankan perannya sebagai pusat pendidikan bagi generasi muda nagari. Nilai-nilai agama dan adat diajarkan agar tidak tergerus oleh derasnya arus modernisasi yang dibawa oleh jalur lintas Sumatera. Pangkalan Koto Baru berhasil menjaga keseimbangan antara menjadi kota lintasan yang modern dan nagari yang tetap memegang teguh akar sejarahnya.
Sebagai Embarkasi Haji Zaman Dulu
Perjalanan haji bagi masyarakat Luhak Limo Puluah di masa lampau bukan sekadar ibadah, melainkan sebuah pertaruhan nyawa yang memadukan keteguhan iman dengan ketangguhan fisik. Sebe-lum teknologi transportasi modern menyentuh pedalaman Minang-kabau, niat suci menuju Baitullah harus ditebus dengan menempuh rute-rute ekstrem yang membelah belantara Sumatra. Bagi mereka, perjalanan ini adalah "hijrah kecil" yang dimulai dari pintu rumah di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota, melintasi sungai-sungai besar, hingga berakhir di hamparan padang pasir Jazirah Arab.
Keberangkatan dimulai dengan langkah kaki yang berat namun mantap. Jemaah dari Payakumbuh dan sekitarnya harus berjalan kaki menembus rute-rute perbukitan menuju timur. Ada yang memilih jalur melewati Mungka hingga tembus ke Pangkalan Koto Baru. Sebagian lainnya mengambil rute yang tak kalah menantang, menyusuri lembah Harau melalui Sungai Data dan Landai, mendaki Bukit Sanggul yang terjal, demi mencapai titik kumpul utama di hulu sungai yang akan membawa mereka ke peradaban luar. Di Pangkalan Koto Baru menjadi saksi bisu air mata perpisahan. Di halaman Masjid Raya Koto Baru, suasana haru biru menyelimuti pelepasan jemaah. Di sana, mereka menaiki sampan kajang, perahu tradisional beratap yang akan menjadi rumah sementara mereka di atas riak Batang Maek. Aliran sungai ini adalah urat nadi utama yang menghubungkan pedalaman pegu-nungan dengan wilayah hilir di pesisir timur Sumatra, membawa harapan dan doa-doa yang dipanjatkan sepanjang kayuhan dayung.
Menyusuri Batang Maek hingga masuk ke aliran Batang Kampar memerlukan keahlian navigasi yang tinggi. Para jemaah harus bersahabat dengan arus sungai yang kadang tenang namun sering kali berjeram. Di sepanjang tepian, hutan lebat dan satwa liar menjadi pemandangan harian. Perjalanan ini merupakan bagian dari sistem perdagangan purba di mana pangkalan-pangkalan seperti Pangkalan Kapeh, Pangkalan Serai, hingga Pangkalan Indaruang menjadi titik penting pertukaran komoditas sekaligus dermaga spiritual bagi kaum muslimin.
Setiba di Taratak Buluah, perjalanan air sejenak berganti menjadi perjalanan darat. Jemaah harus turun dari sampan dan kembali berjalan kaki menuju Senapelan, yang kini kita kenal sebagai Pekanbaru. Di Senapelan, mereka bersiap memasuki tahap perjalanan yang lebih besar di Sungai Siak. Pelabuhan sungai ini merupakan gerbang utama menuju Selat Malaka, tempat bertemunya para pedagang dan musafir dari berbagai penjuru nusantara yang memiliki tujuan serupa: tanah suci Mekkah. Setelah kapal kayu atau kapal uap mulai melaju dari Sungai Siak, jemaah memasuki perairan Selat Malaka yang legendaris. Persinggahan pertama biasanya adalah Singapura, sebuah emporium besar yang menjadi titik pusat birokrasi haji di masa kolonial. Di sini, jemaah mengatur perbekalan tambahan dan menunggu jadwal kapal besar yang akan membawa mereka mengarungi samudra lepas. Singapura kala itu adalah "laboratorium" pertama bagi orang pedalaman untuk melihat dunia yang lebih luas dan kosmopolit.
Dari Singapura, perjalanan berlanjut menuju Pulau Pinang di semenanjung Malaya. Sebagai pelabuhan penting lainnya, Pulau Pinang sering menjadi tempat transit terakhir sebelum kapal benar-benar membuang sauh menuju Samudra Hindia. Kehidupan di atas kapal pada masa itu penuh dengan risiko; jemaah harus bertahan di ruang-ruang sempit kapal layar yang bergantung sepenuhnya pada angin, sebelum akhirnya era kapal uap mempercepat durasi perjala-nan meski tetap memakan waktu berbulan-bulan.
Tantangan tak berhenti di situ karena samudra luas sering kali memaksa kapal untuk singgah di tempat yang jauh seperti Seilon atau Srilanka. Persinggahan di Seilon sering kali digunakan untuk mengambil air bersih dan bahan makanan. Bagi jemaah Luhak Limo Puluah, melihat daratan asing di tengah samudra adalah pengingat betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan Tuhan, sekaligus ujian kesabaran atas kerinduan yang mendalam pada keluarga di kampung halaman.
Durasi perjalanan ini sangat luar biasa, sering kali mencapai enam bulan lamanya hanya untuk perjalanan berangkat. Sebelum abad ke-20, ketergantungan pada kapal layar kayu membuat jadwal keberangkatan menjadi sangat tidak pasti. Jemaah harus berhada-pan dengan ancaman penyakit menular seperti kolera, cuaca buruk yang bisa memicu badai, serta risiko keamanan di perairan internasional. Tak jarang, ada jemaah yang meninggal di tengah laut dan harus dilarung ke kedalaman samudra. Sistem pangkalan dagang di masa itu sejatinya membentuk jaringan yang rumit namun teratur. Wilayah seperti Silukah di Batang Kuantan yang dijuluki "Malako Kociak" (Melaka Kecil) menunjukkan betapa dinamisnya mobilitas orang Minangkabau. Jarak antar pangkalan seperti Pangkalan Indaruang, Pangkalan Serai, hingga Ampalu Halaban yang hanya berkisar puluhan kilometer melalui garis lurus, sebenarnya adalah rute-rute sulit yang ditempuh dengan peluh dan keberanian demi menyambung hidup dan menunaikan rukun Islam kelima.
Namun, zaman pun berganti. Setelah pembangunan jalan raya dari Sarilamak menuju Pekanbaru sekitar tahun 1900-an oleh pemerintah kolonial Belanda, fungsi pelabuhan-pelabuhan sungai perlahan memudar. Akses darat yang lebih cepat menggunakan kendaraan bermotor mulai menggantikan sampan kajang di Batang Maek. Romantisme dan kepedihan perjalanan menyusuri sungai pun mulai terkubur dalam memori kolektif, tergantikan oleh moda transportasi yang lebih efisien namun kurang memiliki kedekatan batin dengan alam.
Warisan sejarah ini meninggalkan jejak budaya yang kuat dalam masyarakat Lima Puluh Kota. Tradisi melepas jemaah dengan doa bersama dan bekal makanan tahan lama seperti rendang adalah sisa-sisa kearifan masa lalu ketika perjalanan haji adalah perjalanan antara hidup dan mati. Persiapan bekal yang matang bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol dukungan penuh dari kaum kerabat bagi mereka yang berangkat menuju rumah Tuhan.
Pada Masa Hindia Belanda
Di dalam buku Pangkalan Koto Baru Maso Saisuak terjemahan Abdul Hamdi Mustafa dari judul aslinya Tijdschrift voor Indische taal-, Land- en Volkenkunde XXIV. Di dalam catatan Belanda tersebut dituliskan bahwa Pangkalan Koto Baru sering disebut sebagai VI Kotta Pangkallan, merupakan wilayah yang memiliki karakteristik unik baik dari segi geografis, struktur sosial, maupun administrasinya pada masa lampau (sekitar tahun 1877) Pangkalan Koto Baru terletak di sebelah timur laut Lima Puluh Koto, dipisah-kan oleh perbukitan luas yang cukup tinggi. Wilayahnya didominasi oleh medan berbukit dengan puncak-puncak gunung seperti Bukit Besaar dan Bukit Kumanjan yang mencapai ketinggian 1540 meter di atas permukaan laut. Sungai Batang Aijer Mahi menjadi urat nadi kehidupan, mengalir dari barat daya ke timur laut hingga bermuara di Batang Kampar. Karena lokasinya yang berada di tepian sungai, daerah ini sering kali dilanda banjir, bahkan air bisa mencapai atap rumah panggung penduduk.
Sesuai namanya, wilayah ini terdiri dari enam nagari utama: Kotta-Baharoe (pusat utama), Goenoeng Malintang, Kotta-Alam, Tandjung-Balik, Menggilang, dan Tandjoeng Paoe. Rumah-rumah pada masa itu umumnya berupa rumah panggung yang dibangun dari kayu kasar, kulit kayu sebagai dinding, dan atap dari daun pohon atau ijuk. Menariknya, pemukiman di sana sering dikelilingi pagar kayu tinggi tanpa pintu, sehingga orang harus memanjat tangga pendek untuk berpindah antarhalaman.
Sebagai "Tanah Andika", Pangkalan memiliki kedaulatan adat yang kuat di bawah naungan Kerajaan Pagaruyung. Pemimpin tertingginya adalah Datu Besaar dari suku Patapang, yang bergelar "Poeckuk Boeleh" dan dianggap sebagai penjaga hukum adat. Struktur kepemimpinannya sangat teratur dengan sistem mufakat di antara para panghulu. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, mulai dikenal jabatan perantara seperti Panghulu Dagang dan Kepala Laras untuk memudahkan urusan dengan pemerintah kolonial.
Penduduk Pangkalan sebagian besar adalah keturunan dari Dataran Tinggi Minangkabau (Darek). Mata pencaharian utama mereka berkaitan dengan pertanian dan perdagangan melalui jalur sungai. Komoditas yang diperdagangkan meliputi tembakau, gam-bir, kapas, damar, dan ikan kering (terubuk). Dalam hal keper-cayaan, masyarakatnya sangat religius; setiap desa memiliki perangkat masjid seperti imam, khatib, dan bilal, serta tradisi zakat yang dijalankan dengan baik. Keselamatan warga juga sangat terjaga, di mana kasus kriminalitas seperti pencurian atau pembu-nuhan tercatat sangat jarang terjadi pada masa itu.
Selanjutnuya, wilayah ini dipisahkan dari pusat Residen Padangse Bovenlanden oleh rangkaian perbukitan luas yang cukup tinggi, menciptakan sebuah lanskap yang unik dan terisolasi secara geografis. Secara administratif, kawasan ini membentuk satu kesatuan politik yang mencakup enam nagari atau desa utama yang saling terhubung. Batas-batas wilayah Pangkalan pada masa itu belum terdefinisi secara politik yang kaku, melainkan lebih didasarkan pada tanggung jawab pemeliharaan jalan. Penduduk biasanya menandai batas wilayah mereka pada titik-titik tertentu di jalan setapak yang menuju ke daerah tetangga. Kebutuhan akan demarkasi perbatasan yang pasti belum muncul karena populasi yang masih jarang dan ketersediaan lahan subur yang sangat melimpah.
Secara topografi, Pangkalan didominasi oleh medan yang sangat berbukit dengan beberapa puncak gunung yang menjulang tinggi. Gunung-gunung utama seperti Bukit Besaar, Bukit Sangoel, dan Bukit Koemanjan menjadi penciri cakrawala dengan ketinggian mencapai 1330 hingga 1540 meter di atas permukaan laut. Di antara perbukitan ini, hanya terdapat sedikit dataran rendah yang biasanya dipilih sebagai lokasi pemukiman atau kampung. Kondisi geologis ini membuat Pangkalan sangat bergantung pada aliran sungai, terutama Batang Aijer Mahi yang membelah wilayah tersebut. Sungai ini menjadi urat nadi utama yang mengalir dari arah barat daya menuju timur laut, bermuara di Sungai Kampar. Karakteristik sungainya sangat beragam, mulai dari jeram yang dangkal dan menderu di ngarai sempit hingga aliran tenang yang disebut loebu.
Kehidupan masyarakat Pangkalan pada masa itu sangat dipengaruhi oleh ancaman banjir tahunan dari Sungai Mahi. Di nagari utama seperti Kotta Baharoe, air sering kali naik melampaui lantai rumah panggung, bahkan terkadang mencapai atap. Untuk melindungi bangunan dari derasnya arus, penduduk menanam barisan pohon yang rapat di sekitar halaman rumah mereka. Enam desa utama yang membentuk VI Kotta Pangkallan adalah Kotta Baharoe, Goenoeng Malintang, Kotta Alam, Tandjoeng Balik, Menggilang, dan Tandjoeng Paoe. Kotta Baharoe bertindak sebagai pusat kegiatan dengan jumlah penduduk terbesar, mencapai 1.279 jiwa pada saat itu. Setiap desa terdiri dari beberapa kampung kecil yang biasanya membentang searah dengan aliran sungai.
Rumah-rumah penduduk umumnya berbentuk panggung dengan konstruksi kayu sederhana yang diikat menggunakan rotan atau kulit pohon. Dindingnya terbuat dari kulit kayu, sementara atapnya disusun dari daun pohon bolohan atau ijuk. Menariknya, pemukiman di sana sering dikelilingi pagar kayu tinggi tanpa pintu, sehingga orang harus memanjat tangga pendek untuk berpindah antarhalaman. Dalam sistem pemerintahan, Pangkalan menyandang status sebagai "Tanah Andika", yang berarti wilayah yang dipimpin oleh banyak penghulu berdasarkan adat. Struktur kepemim-pinannya sangat teratur dengan adanya "ninieh" atau panghulu andika di setiap desa. Di Kotta Baharoe sendiri, terdapat dua belas panghulu yang berasal dari lima suku utama.
Pemimpin tertinggi atau panghulu utama di seluruh wilayah VI Kotta Pangkallan dijabat oleh Datu Besaar dari suku Patapang. Ia menyandang gelar "Poecuk Boeleh" dan berperan sebagai "Telaga Oendang" atau penjaga hukum adat tradisional. Kepemimpinan adat ini mengedepankan prinsip musyawarah atau mufakat dalam setiap pengambilan keputusan administratif. Hubungan dengan peme-rintah kolonial Belanda membawa perubahan pada struktur administrasi tradisional. Pada tahun 1864, jabatan "Kepala Laras" diperkenalkan sebagai perantara resmi antara masyarakat adat dengan pejabat Pemerintah Belanda. Datu Panduka Sindara tercatat sebagai orang pertama yang diakui sebagai Kepala Laras Pangkallan atas permintaan para panghulu sendiri.
Sektor ekonomi masyarakat didukung oleh perdagangan komoditas melalui jalur sungai. Barang-barang seperti tembakau, gambir, kapas, damar, dan ikan kering (trooeboek) dikenakan pajak untuk pendapatan para kepala adat. Meskipun perdagangan berkembang, sebagian besar panghulu tetap hidup sederhana dan tidak banyak berbeda secara penampilan dari rakyat biasa. Secara sosial, penduduk Pangkalan mengklaim sebagai keturunan dari wilayah Darek, khususnya dari Padang Panjang dan Lima Puluh Koto. Mereka memegang teguh adat Melayu, namun penerapan sistem matrilineal dalam hal warisan tidak sekaku di daerah asalnya. Anak dan keponakan seringkali memiliki hak yang hampir sama terhadap harta warisan, kecuali untuk gelar adat yang tetap turun ke keponakan.
Kehidupan beragama masyarakat sangat religius, dengan keberadaan perangkat masjid seperti imam, khatib, dan bilal di setiap desa. Setiap hari Jumat, masjid-masjid ramai dikunjungi, dan tradisi membayar zakat sebesar sepersepuluh hasil panen dijalankan dengan tertib. Di Kotta Baharoe saja, tercatat ada sekitar 70 orang yang sudah menyandang gelar haji, yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Keamanan di wilayah Pangkalan pada masa itu tergolong sangat terjamin. Catatan menunjukkan bahwa kasus pencurian sangat jarang terjadi, dan hanya ada satu kasus pembunuhan dalam kurun waktu 40 tahun. Hal ini membuat penduduk merasa cukup aman untuk bepergian tanpa membawa senjata tajam, kecuali untuk keperluan perhiasan atau alat pertanian. Meskipun perbudakan masih ada dalam bentuk "hamba" karena jeratan hutang, kondisi mereka jauh dari kesan tertindas. Banyak dari mereka yang bergerak bebas seperti orang merdeka dan dapat menikah dengan keluarga panghulu. Gambaran Pangkalan Koto Baru tahun 1877 ini memperlihatkan sebuah masyarakat yang memadukan kekuatan adat, ketaatan agama, dan keharmonisan dengan alam yang dinamis.
Pemerintahan Hindia Belanda
Pada awal abad ke-20, tepatnya melalui Lembaran Negara No. 418 Tahun 1905, struktur pemerintahan kolonial Belanda menetapkan wilayah Pangkalan sebagai bagian dari Kelarasan di bawah Kecamatan Kampar Atas, Kabupaten Lima Puluh Kota. Pada masa ini, pembagian wilayah administrasi Kampar Atas mencakup cakupan yang sangat luas, mulai dari Laras Pangkalan Koto Baru hingga berbagai daerah Landschap seperti V Koto Kampar dan III Koto Sibalimbing. Pengaturan ini menunjukkan bahwa sejak awal, Pangkalan merupakan titik sentral dalam konvergensi wilayah adat dan administratif di perbatasan Sumatera Barat dan Riau saat ini (Saiful Guci, 2011).
Pusat pemerintahan Kampar Atas pada masa itu berke-dudukan di Bangkinang. Kepemimpinan dijalankan secara kolabo-ratif antara pejabat Belanda dan tokoh pribumi yang memegang peranan hukum adat. Tercatat, Kontroler OP Besseling bertindak sebagai otoritas tertinggi Belanda, didukung oleh Jaksa Royan Datuk Jamarif serta Ajung Jaksa seperti Majid Khatib Sampono dan Halat Sutan Marajo. Keberadaan para Jaksa dan Ajung Jaksa ini mencerminkan bagaimana sistem hukum kolonial mencoba mengintegrasikan struktur kepemimpinan lokal ke dalam birokrasi formal demi menjaga stabilitas di wilayah pedalaman.
Memasuki bulan November 1914, terjadi perubahan signi-fikan dalam pembagian administrasi di Sumatera Barat. Wilayah Pangkalan mengalami reorganisasi status menjadi Onderafdeling di bawah Afdeling Limapuluh Kota. Dengan perubahan ini, muncul nama Distrik Pangkalan Koto Baru yang dipimpin oleh seorang Demang bernama Sidi Harun. Transformasi ini menandai peningkatan status administratif Pangkalan, yang semula hanya bagian dari kecamatan, menjadi distrik yang lebih otonom dalam mengelola urusan pemerintahan di bawah kendali Afdeling.
Struktur Distrik Pangkalan Koto Baru kemudian dibagi lagi menjadi beberapa Onderdistrik untuk mempersempit rentang kendali. Pembagian tersebut terdiri dari Onderdistrik Pangkalan VI Koto yang berada langsung di bawah Demang, Onderdistrik XIII Koto Kampar yang mencakup wilayah Kampar Dimudik dan Dihilir di bawah Asisten Demang Aidit Sutan Pangai, serta Onderdistrik Sialang yang meliputi wilayah Gelugur dan Kapur Nan IX di bawah pimpinan Asisten Demang Jamaluddin Datuk Indo Marajo. Pembagian ini menunjukkan betapa strategisnya posisi Pangkalan dalam mengoordinasikan wilayah-wilayah di sekitarnya.
Secara keseluruhan, rekam jejak administratif ini mem-buktikan bahwa Pangkalan memiliki sejarah panjang sebagai pusat pemerintahan lokal yang dinamis. Dari statusnya di bawah Kecamatan Kampar Atas hingga menjadi Distrik mandiri, Pangkalan selalu menjadi jembatan administratif yang menghubungkan wilayah pedalaman Lima Puluh Kota dengan daerah-daerah sekitarnya. Sejarah ini tidak hanya sekadar catatan angka tahun, tetapi juga cerminan dari evolusi tata kelola wilayah di Sumatera Tengah pada masa lampau.
Dibangunnya Jalur Transportasi Darat oleh Belanda
Sejarah Kelok Sembilan tidak bisa dilepaskan dari peran strategis Nagari Pangkalan pada masa lampau (Fachrul Rasyid HF di Teras Utama Padang Ekspres, Selasa 21 Mei 2013). Sejak akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Pangkalan berdiri sebagai pelabuhan sungai terbesar di wilayah timur Minangkabau. Melalui jalur air ini, komoditas dan manusia bergerak menuju Selat Malaka, menjadikan kawasan ini sebagai titik nadi perekonomian yang menghubungkan pedalaman Sumatera dengan jalur perdagangan internasional.
Kekayaan budaya pun lahir dari aktivitas maritim ini. Setiap kali menyambut bulan suci Ramadhan, para ninik mamak dan ulama menyepakati sebuah tradisi unik di mana seluruh kapal milik pengusaha lokal harus dilabuhkan di Pangkalan. Momen ini membe-rikan kesempatan bagi anak kemanakan untuk naik ke kapal dan berlayar menyusuri Batang Mahat, yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi perayaan "Patang Balimau" yang meriah. Pentingnya posisi Pangkalan ternyata memicu ambisi kolonial Belanda. Mereka melihat potensi Pangkalan sebagai ancaman sekaligus peluang yang mampu mengalahkan dominasi Pelabuhan Muara Padang. Untuk menguasainya, Belanda awalnya mencoba masuk melalui jalur air dengan menelusuri Kuala Kampar, masuk ke Batang Kampar, hingga mencoba mencapai Batang Bahan yang mengarah langsung ke Pangkalan. Namun, alam Sumatera tidak semudah itu ditaklukkan. Upaya Belanda melalui jalur sungai berakhir sia-sia karena arus sungai yang sangat deras serta rimbunnya hutan lebat yang memagari wilayah tersebut. Kegagalan taktis di jalur air ini memaksa pemerintah kolonial memutar otak untuk mencari alternatif lain guna mengamankan jalur logistik dan kekuasaan mereka di wilayah timur.
Pada tahun 1932, Belanda akhirnya mengambil keputusan besar untuk membangun jalur darat yang ambisius. Proyek ini bertujuan menghubungkan Payakumbuh dan Sarilamak langsung menuju Pangkalan. Tantangan terbesarnya adalah topografi Bukit Barisan yang terjal, yang kemudian melahirkan sebuah mahakarya teknik sipil sederhana namun ikonik pada masanya, yakni ruas jalan Kelok Sembilan (K-9). Pembangunan ini tidak dilakukan dengan mesin-mesin canggih, melainkan dengan mengerahkan tenaga manusia secara masif melalui sistem kerja paksa. Para pekerja "pasa" ini dipaksa membelah bukit dan menyisir tebing demi me-mastikan jalan darat bisa terus memanjang hingga ke Bangkinang, Danau Bingkuang, Taratak Buluh, bahkan sampai ke wilayah Logas.
Keberhasilan pembukaan jalan darat ini menjadi titik balik bagi sejarah transportasi di Sumatera Barat. Seiring dengan aspal yang mulai menghitam dan kendaraan roda empat yang mulai melintas, kejayaan pelabuhan sungai di Pangkalan perlahan mulai memudar. Suara mesin kendaraan darat menggantikan gemuruh air di dermaga, menandai berakhirnya era keemasan maritim di Batang Mahat. Menariknya, masyarakat Pangkalan menunjukkan daya adaptasi yang luar biasa. Para pengusaha kapal yang dulunya menguasai sungai tidak lantas bangkrut, melainkan beralih profesi menjadi pengusaha angkutan darat. Transformasi ini sangat sukses hingga Pangkalan bertransformasi menjadi "nagari pengusaha angkutan" yang sangat disegani di sepanjang lintasan Sumatera Barat hingga Riau.
Dalam catatan sejarah transportasi darat, nama-nama bus milik pengusaha Pangkalan pernah menjadi legenda di jalanan. Nama-nama seperti bus Gagak Hitam, Sinar Riau, dan Bunga Setangkai menjadi raja jalanan yang mengangkut ribuan penumpang melewati tikungan tajam Kelok Sembilan. Bus-bus ini tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga simbol kemajuan ekonomi masyarakat lokal. Seiring berjalannya waktu dan dinamika zaman, sekitar 15 tahun belakangan, industri bus mulai terhimpit oleh moda transportasi udara dan kendaraan pribadi. Namun, pengusaha Pangkalan kembali beradaptasi dengan mengalihkan fokus mereka pada sektor angkutan truk dan barang. Kini, truk-truk besar bermuatan berat menjadi pemandangan utama yang merayap di atas jembatan layang Kelok Sembilan yang baru.
Perubahan moda transportasi ini juga membawa pergeseran pada ritual budaya lokal. Tradisi kuno yang dulunya mengharuskan kapal ditambatkan sebelum Ramadhan, kini bertransformasi menjadi tradisi memulangkan truk. Ketentuan memautkan kenda-raan ini tetap dipegang teguh sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar keagamaan dan ajang silaturahmi akbar. Maka, pada hari-hari menjelang Patang Balimau, fenomena unik terjadi di sepanjang jalan Pangkalan. Semua truk milik orang Pangkalan yang biasanya beroperasi di berbagai pelosok daerah akan pulang kam-pung secara serentak. Akibatnya, pemandangan jalanan di Pangkalan tidak lagi disesaki oleh air sungai yang meluap, melainkan oleh ribuan truk yang diparkir berjajar memenuhi setiap jengkal jalan. Dan memang, kisah Kelok Sembilan dan Pangkalan adalah narasi tentang ketangguhan manusia dalam menghadapi perubahan zaman. Dari sebuah pelabuhan sungai yang sunyi hingga menjadi urat nadi logistik Sumatera yang sibuk, Kelok Sembilan tetap tegak berdiri sebagai saksi bisu bagaimana sebuah jalur transportasi mampu mengubah nasib sebuah nagari dan masyarakatnya.
Tugu Sakido Mura Dibuat oleh Jepang
Tugu Sakido Mura yang terletak di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, merupakan bukti bisu sejarah astronomi di tanah Minangkabau. Bangunan yang secara fisik menyerupai bola beton besar ini memiliki keunikan visual sehingga masyarakat setempat kerap menjulukinya dengan sebutan "Talua Gajah" (Telur Gajah). Di era modern, bentuknya yang eksentrik bahkan sempat membuat tugu ini viral di media sosial dengan sebutan "Bola Pokemon," meskipun di balik julukan santai tersebut tersimpan nilai sejarah yang sangat mendalam terkait penentuan garis khatulistiwa.
Awal mula keberadaan titik ukur ini tidak lepas dari peran pemerintah kolonial Belanda yang pertama kali mengidentifikasi Koto Alam sebagai salah satu wilayah yang dilalui garis ekuator. Bagi Belanda, titik ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan instrumen vital untuk menentukan pergantian musim. Dengan luas wilayah Koto Alam yang mencapai 42,75 km², lokasi ini dianggap strategis berdampingan dengan titik khatulistiwa lainnya di Bonjol dan Pontianak sebagai pusat observasi pergerakan matahari. Metode yang digunakan Belanda kala itu sangat bergantung pada posisi matahari terhadap batu penanda tersebut. Masyarakat setempat mengenang bahwa para ahli Belanda menggunakan batu itu sebagai pedoman klimatologi sederhana: apabila matahari terlihat condong ke arah utara dari posisi batu, hal itu dianggap sebagai pertanda masuknya musim hujan. Sebaliknya, jika matahari berada di sisi selatan, maka dipercaya musim panas akan segera tiba. Sistem navigasi alam ini menjadi sangat krusial bagi pola tanam dan kehidupan masyarakat agraris di sekitarnya.
Dinamika kekuasaan berubah drastis pada tahun 1942 ketika Jepang mendarat di Indonesia dan menggeser dominasi Belanda. Perubahan ini membawa dampak signifikan pada struktur pemerintahan di Koto Alam. Tentara Nippon yang mengambil alih wilayah tersebut segera menaruh perhatian besar pada titik ekuator peninggalan Belanda. Jepang kemudian merombak penanda ter-sebut dan memberikan identitas baru yang sangat spesifik dalam bahasa mereka, yakni "Sakido Mura". Secara etimologi, nama tersebut diambil dari kata Sakido yang berarti khatulistiwa dan Mura yang berarti kampung. Maka, secara harfiah Sakido Mura berarti "Kampung Khatulistiwa".
Jepang memiliki pandangan teologis dan saintifik tersendiri terhadap Koto Alam; mereka meng-anggap wilayah ini sebagai salah satu pusat bumi. Keyakinan ini didasarkan pada fenomena unik di mana pada waktu-waktu tertentu, matahari berada tepat tegak lurus di atas kepala sehingga bayangan benda di permukaan tanah seolah menghilang ditelan bumi. Fenomena yang dimaksud dikenal dalam dunia sains sebagai peristiwa Kulminasi Utama. Di Sakido Mura, peristiwa ini terjadi dua kali dalam setahun, yakni sekitar tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Pada rentang waktu tersebut, khususnya antara pukul 12.00 hingga 13.00 WIB, benda-benda di sekitar tugu tidak akan memantulkan bayangan sama sekali. Hal ini menjadi daya tarik luar biasa karena posisi matahari yang tepat berada di titik zenit garis khatulistiwa, menciptakan momen langka di mana cahaya jatuh sempurna tanpa sudut kemiringan. Kini, Sakido Mura berdiri bukan hanya sebagai objek wisata sejarah atau fenomena alam, melainkan sebagai simbol pertemuan dua peradaban penjajah yang sama-sama mengagumi letak astronomis Koto Alam. Meski sempat mengalami perubahan nama dari peninggalan Belanda hingga menjadi Sakido Mura oleh Jepang, tugu ini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota. Menjaga dan melestarikan "Talua Gajah" ini berarti merawat ingatan kolektif tentang posisi istimewa Sumatera Barat di mata dunia internasional sebagai poros garis khatulistiwa.
Zaman Kemerdekaan
Sejarah administratif Kecamatan Pangkalan Koto Baru merupakan cerminan dari dinamika tata kelola wilayah di awal masa kemerdekaan Indonesia. Pada mulanya, wilayah ini tidak langsung berdiri sebagai entitas kecamatan yang mandiri di bawah Kabupaten Lima Puluh Kota seperti yang kita kenal sekarang. Di awal kemerdekaan, Pangkalan Koto Baru merupakan bagian integ-ral dari Kewedanaan Bangkinang, yang saat itu berada di bawah naungan Luhak Lima Puluh Kota. Struktur ini menunjukkan bagai-mana pembagian wilayah pada masa itu masih sangat dipengaruhi oleh sistem pemerintahan peninggalan kolonial dan struktur adat lokal yang luas (Saiful Guci, 2011).
Perubahan besar terjadi pasca-Agresi Militer Belanda II yang memicu reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Berdasarkan Instruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah Nomor 10/GM/ST/49 tertanggal 9 November 1949, dilakukan penataan ulang wilayah demi memperkuat pertahanan dan efektivitas pemerintahan. Pun-caknya, pada tanggal 19 Desember 1949, Kabupaten Limapuluh Kota secara resmi diresmikan. Momentum bersejarah ini menjadi titik balik bagi Pangkalan Koto Baru, karena sejak saat itu, wilayah tersebut secara resmi ditetapkan sebagai salah satu kecamatan di dalam lingkungan Kabupaten Lima Puluh Kota. Sebagai sebuah kecamatan, Pangkalan Koto Baru telah melewati berbagai fase pembangunan yang dipimpin oleh deretan tokoh birokrat. Pada masa-masa awal dan pertengahan, kepemimpinan dipegang oleh nama-nama seperti Drs. Aziz Hayly, Drs. Syafrul, hingga Khairul, BA. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh sosok-sosok seperti Drs. Hardi Zen, Drs. Dt. Putiah, Drs. Khairul Amri, Drs. Darma Dodi, hingga Drs. Maulia Rozadi. Para pemimpin ini meletakkan fondasi administratif yang kuat bagi masyarakat Pangkalan Koto Baru dalam menjalankan fungsi pelayanan publik.
Memasuki era milenium baru, dinamika kepemimpinan di kecamatan ini semakin berkembang mengikuti tuntutan zaman. Nama-nama seperti Drs. Syahrial dan Dt. Adli Fauzi Karayiang, BA (2002–2004) turut mewarnai sejarah kepemimpinan daerah ini. Selanjutnya, jabatan Camat diemban oleh Drs. Musdar Darwis (2004–2006) dan dilanjutkan oleh Yan Agusra, S.Sos, M.Si (2006–2007). Setiap periode kepemimpinan membawa warna tersendiri dalam upaya sinkronisasi kebijakan antara pemerintah kabupaten dengan kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.
Pada periode yang lebih kontemporer, regenerasi kepe-mimpinan terus berjalan dengan profil pejabat yang bervariasi. Mulai dari Alfian, SSTP, M.Si (2007–2009) yang mewakili generasi birokrat terdidik, kemudian Ir. Sepdi Paindayeri (Januari 2009–Maret 2010), hingga Drs. Syaiful yang mulai menjabat sejak Maret 2010. Perjalanan panjang dari sebuah kewedanaan hingga menjadi kecamatan yang stabil menunjukkan bahwa Pangkalan Koto Baru adalah wilayah yang strategis dengan sejarah yang kaya, yang terus bertumbuh melalui tangan-tangan para pemimpinnya demi kema-juan Kabupaten Limapuluh Kota.
