Pangkalan Koto Baru: Topografi, Ekonomi, Pemerintahan, Pertanian dan Peternakan, Pertambangan, Pasar

 


Pangkalan Koto Baru merupakan sebuah wilayah strategis yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama yang menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Riau. Sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, kawasan ini memiliki peran vital dalam jalur transportasi dan distribusi logistik antar-provinsi. Ibu kota kecamatannya terletak di Nagari Pangkalan, yang menjadi pusat administrasi sekaligus denyut nadi perekonomian masyarakat setempat. Secara geografis, kecamatan ini memiliki luas wilayah mencapai 712,06 km2. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan merepresentasikan sekitar 21,23% dari total luas Kabupaten Lima Puluh Kota yang mencapai 3.354,02 km2. Dengan proporsi tersebut, Pangkalan Koto Baru mengukuhkan dirinya seba-gai salah satu kecamatan terluas yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, mulai dari perbukitan hingga aliran sungai yang luas.

Pembagian wilayah administrasi di kecamatan ini terdiri dari enam nagari dengan karakteristik luas yang beragam. Nagari Gunuang Malintang menjadi yang terluas dengan cakupan 249,43 km2, disusul oleh Nagari Tanjung Balik seluas 124,57 km2 dan Nagari Pangkalan sebesar 124,3 km2. Luasan ini mencerminkan betapa besarnya tanggung jawab pengelolaan wilayah di tingkat nagari untuk kesejahteraan penduduknya. Tiga nagari lainnya, yakni Nagari Tanjung Pauh (112,26 km2), Nagari Manggilang (58,75 km2), dan Nagari Koto Alam (42,75 km2), melengkapi struktur kewilayahan kecamatan ini. Meski luasnya berbeda-beda, setiap nagari memiliki peran penting dalam tatanan adat dan sosial. Nagari-nagari ini umumnya terletak di sepanjang jalur lintas utama, menjadikannya area pemukiman yang dinamis dan strategis bagi perdagangan kecil.

Batas-batas wilayah Pangkalan Koto Baru menunjukkan posisinya yang berbatasan langsung dengan tetangga provinsi. Di sebelah utara dan timur, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya akulturasi budaya dan interaksi ekonomi yang sangat kuat antara warga Sumatera Barat dan Riau di wilayah perbatasan ini. Sementara itu, di sisi selatan, Pangkalan Koto Baru berbatasan dengan Kecamatan Harau yang terkenal dengan keindahan lembah-nya. Di bagian barat, wilayah ini bersentuhan dengan kawasan Bukit Barisan yang rimbun dan hijau. Bentang alam ini memberikan perlindungan ekologis sekaligus tantangan tersendiri dalam pem-bangunan infrastruktur jalan raya yang seringkali harus membelah perbukitan curam. Keberadaannya sebagai titik temu antara pegunungan Bukit Barisan dan dataran rendah menuju Riau menjadikan kecamatan ini sebagai aset berharga bagi Kabupaten Lima Puluh Kota. Pembangunan yang berkelanjutan di enam nagari tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan potensi luas wilayah yang mencapai seperlima dari total luas kabupaten ini.

 

Topografi

Kecamatan Pangkalan Koto Baru merupakan sebuah wila-yah yang memiliki karakteristik geografis unik dengan bentang alam yang sangat kontras. Topografinya bervariasi secara dramatis, mulai dari kawasan dataran hingga perbukitan yang menjulang tinggi. Keragaman ini menciptakan pemandangan alam yang memu-kau sekaligus menentukan pola hidup masyarakat setempat. Titik terendah wilayah ini berada pada ketinggian 90 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepatnya di area waduk PLTA Nagari Tanjung Pauh, sementara titik tertingginya mencapai 1.330 mdpl di puncak Bukit Gadih, Nagari Koto Alam.

Keberadaan sungai-sungai yang melimpah menjadi urat nadi kehidupan bagi penduduk di kecamatan ini. Air tidak hanya dipandang sebagai komoditas alam, tetapi telah diintegrasikan ke dalam aktivitas harian mulai dari kebutuhan domestik seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK), hingga menjadi sumber irigasi yang vital bagi pertanian. Lebih dari itu, sungai juga menjadi lahan penghidupan melalui aktivitas memancing dan penambangan galian C. Dalam sektor ekonomi, aliran air ini berperan penting sebagai sarana transportasi perahu untuk mengangkut komoditas unggulan daerah, seperti gambir dan karet, dari pelosok menuju pasar.

Nagari Gunung Malintang dan Pangkalan menjadi dua wilayah dengan konsentrasi aliran sungai yang cukup padat. Di Gunung Malintang, terdapat enam sungai utama yang mengalir, yaitu Batang Mahat, Batang Malutu, Sungai Pimpiang, Sungai Luhu, dan Sungai Lowan. Sementara itu, Nagari Pangkalan dilintasi oleh lima sungai, termasuk Batang Mahat, Sungai Maik, Sungai Manggilang, Sungai Samo, dan Sungai Kasok. Kelimpahan sumber daya air di kedua nagari ini mempertegas betapa krusialnya peran ekosistem sungai dalam menopang stabilitas lingkungan dan ekonomi masyarakat sekitar.

Distribusi aliran air juga menjangkau nagari-nagari lain dengan karakteristik yang berbeda-beda. Di Nagari Koto Alam, mengalir tiga sungai utama yaitu Sungai Air Gadang, Sungai Air Koto Lamo, dan Batang Lui. Nagari Manggilang sendiri didukung oleh Batang Manggilang dan Batang Malagiri. Fenomena menarik terjadi di Nagari Tanjung Balit, di mana aliran Batang Mahat telah bertrans-formasi membentuk genangan waduk yang luas, mengubah lanskap daratan menjadi ekosistem perairan statis yang memberikan manfaat besar bagi ketenagalistrikan dan perikanan. Terakhir, Nagari Tanjung Pauh melengkapi kekayaan hidrografi kecamatan ini dengan keberadaan lima sungai, yakni Sungai Cilatio, Sungai Permato, Sungai Picang, Sungai Angki, dan Sungai Marang. Kebera-gaman sungai yang tersebar di seluruh nagari menunjukkan bahwa Pangkalan Koto Baru adalah wilayah yang sangat bergantung pada kelestarian air. Sinergi antara topografi yang bervariasi dan ketersediaan sumber daya air yang melimpah ini menjadikan keca-matan tersebut sebagai daerah yang memiliki potensi alam luar biasa sekaligus memerlukan pengelolaan lingkungan yang berke-lanjutan.

 

Ekonomi

Kecamatan Pangkalan Koto Baru merupakan wilayah stra-tegis yang menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Riau. Posisi geografisnya sebagai gerbang lintas provinsi memberikan keuntungan kompetitif bagi pergerakan barang dan jasa, yang menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi lokal (BPS Lima Puluh Kota, 2025). Sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung perekonomian bagi mayoritas penduduk di Pangkalan Koto Baru. Lahan yang luas digunakan untuk tanaman pangan seperti padi sawah dan jagung. Meskipun modernisasi mulai masuk, ketergantungan masyarakat terhadap hasil tanah masih sangat tinggi. Keberhasilan panen di wilayah ini tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas pasokan pangan di tingkat kabupaten, menjadikannya salah satu lumbung energi bagi masyarakat sekitar.

Selain tanaman pangan, sektor perkebunan memegang peranan vital dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Komoditas unggulan seperti karet dan gambir menjadi produk ekspor andalan yang dikelola secara rakyat maupun kemitraan. Fluktuasi harga komoditas global sangat memengaruhi daya beli masyarakat di kecamatan ini, mengingat sebagian besar warga menggantungkan hidupnya pada hasil sadapan karet dan pengolahan gambir yang telah dikenal kualitasnya hingga ke luar daerah. Sektor peternakan juga menunjukkan potensi yang menjan-jikan dalam struktur ekonomi kecamatan. Populasi ternak seperti sapi, kerbau, dan unggas terus dipantau perkembangannya oleh pemerintah daerah. Peternakan di Pangkalan Koto Baru tidak hanya berfungsi sebagai tabungan hidup bagi warga, tetapi juga mulai mengarah pada pemenuhan permintaan daging untuk pasar di Pekanbaru dan Padang, memanfaatkan akses transportasi yang sangat terbuka.

Letak strategis di jalan lintas utama membuat sektor perda-gangan dan jasa tumbuh subur di Pangkalan Koto Baru. Kehadiran pasar tradisional, rumah makan, dan penginapan di sepanjang jalur utama menjadi mesin penggerak ekonomi non-pertanian. Aktivitas logistik dan transit kendaraan besar dari dan menuju Riau mencip-takan peluang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dinamis, mulai dari bengkel hingga toko kelontong yang melayani kebutuhan para pelintas jalan. Investasi di kecamatan ini juga menunjukkan tren positif, terutama pada kategori usaha mikro dan kecil. Data menunjukkan adanya peningkatan modal yang masuk untuk memperkuat usaha-usaha lokal. Dengan dukungan aksesi-bilitas yang baik, para pelaku usaha di Pangkalan Koto Baru mulai berani melakukan ekspansi. Pemerintah daerah pun terus berupaya memfasilitasi kemudahan izin usaha guna menarik lebih banyak investasi yang dapat menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.

Sektor perikanan, khususnya perikanan darat dan waduk, memberikan kontribusi spesifik bagi ekonomi Pangkalan Koto Baru. Keberadaan Waduk PLTA Koto Panjang menjadi sumber penghidu-pan bagi nelayan keramba. Budidaya ikan air tawar di waduk ini tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi warga di tepian air, tetapi juga mendukung sektor pariwisata kuliner. Ikan hasil tang-kapan dan budidaya dari wilayah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang singgah. Infrastruktur pendukung ekonomi, seperti jalan, jembatan, dan sarana telekomunikasi, terus menga-lami perbaikan guna menunjang kelancaran distribusi. Akses jalan yang baik sangat krusial bagi pengangkutan hasil bumi menuju pasar-pasar besar. Selain itu, digitalisasi ekonomi mulai merambah ke pelosok nagari, di mana para pemuda setempat mulai meman-faatkan internet untuk memasarkan produk unggulan daerah secara lebih luas, melampaui batas-batas fisik kecamatan.

Kesejahteraan masyarakat yang tercermin dalam angka-angka statistik menunjukkan bahwa ekonomi Pangkalan Koto Baru bersifat resilien. Meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim yang memengaruhi sektor pertanian, diversifikasi mata pencaha-rian ke sektor jasa dan perdagangan mampu menjadi penyangga. Kolaborasi antara pemerintah kecamatan dan masyarakat dalam mengelola potensi lokal menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Dengan mengop-timalkan posisi strategis sebagai jalur transit dan memperkuat sektor unggulan seperti perkebunan dan perikanan waduk, keca-matan ini memiliki prospek cerah untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Lima Puluh Kota. Pemanfaatan data yang akurat dari BPS diharapkan dapat menjadi panduan bagi kebijakan pembangunan yang tepat sasaran di masa depan.

 

Pemerintahan

Sebagai perpanjangan tangan pemerintah kabupaten, pihak kecamatan berfungsi untuk mengoordinasikan penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal. Keberadaan kantor camat menjadi pusat komando yang memastikan seluruh program pembangunan berjalan selaras dengan visi daerah. Struktur pemerintahan di kecamatan ini terbagi menjadi enam wilayah administrasi setingkat desa yang disebut Nagari. Keenam nagari tersebut adalah Nagari Pangkalan, Nagari Koto Alam, Nagari Manggilang, Nagari Gunung Malintang, Nagari Tanjung Balik, dan Nagari Tanjung Pauh. Pembagian wilayah ini didasarkan pada karakteristik geografis dan sejarah adat setempat yang tetap dipertahankan dalam sistem pemerintahan modern di Sumatera Barat.

Setiap nagari di Kecamatan Pangkalan Koto Baru dipimpin oleh seorang Wali Nagari yang dipilih langsung oleh masyarakat. Wali Nagari bertanggung jawab dalam menjalankan roda peme-rintahan di tingkat bawah, mengelola anggaran nagari, serta menjaga harmoni sosial. Dalam menjalankan tugasnya, Wali Nagari didampingi oleh perangkat nagari serta Badan Musyawarah (Bamus) Nagari yang berfungsi sebagai lembaga legislatif di tingkat desa. Semua nagari sudah memiliki kantor sendiri yang berfungsi sebagai pusat pelayanan administrasi bagi warga, mulai dari pengurusan surat keterangan hingga kependudukan. Hal ini menun-jukkan komitmen pemerintah untuk mendekatkan akses layanan publik kepada masyarakat hingga ke pelosok wilayah.

Sektor ketenagakerjaan di lingkungan pemerintahan keca-matan didukung oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tenaga honorer yang tersebar di berbagai instansi. Jumlah personil di kantor camat disesuaikan dengan beban kerja dan luas wilayah yang harus dilayani. Profesionalisme aparat pemerintah menjadi kunci utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan di Pangkalan Koto Baru. Selain struktur nagari, terdapat unit administrasi yang lebih kecil yang disebut Jorong. Jumlah jorong di setiap nagari bervariasi tergantung pada luas wilayah dan kepadatan penduduk. Sebagai contoh, Nagari Pangkalan memiliki jumlah jorong yang cukup banyak karena merupakan pusat aktivitas ekonomi dan pemukiman yang padat. Kehadiran Kepala Jorong sangat membantu koordinasi keamanan dan ketertiban di tingkat lingkungan.

Aspek keamanan dalam pemerintahan di Kecamatan Pangkalan Koto Baru juga didukung oleh keberadaan institusi kepolisian sektor (Polsek) dan komando rayon militer (Koramil). Koordinasi yang baik antara Camat, Kapolsek, dan Danramil (unsur Forkopimca) memastikan wilayah ini tetap kondusif, terutama karena posisinya yang berada di jalur lintas utama yang menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Riau. Pemerintah kecamatan juga aktif dalam mengelola data sektoral yang digunakan sebagai basis perencanaan pembangunan. Data mengenai sarana kesehatan, pendidikan, dan fasilitas umum di bawah koordinasi pemerintah menjadi indikator keberhasilan pelayanan publik.

Tantangan pemerintahan di Pangkalan Koto Baru meliputi pengelolaan wilayah yang luas dengan topografi yang beragam. Sebagian wilayah nagari berada di daerah perbukitan yang memer-lukan perhatian khusus dalam hal mitigasi bencana dan pemba-ngunan infrastruktur jalan. Oleh karena itu, sinergi antara peme-rintah nagari dan kecamatan sangat diperlukan untuk memastikan pemerataan pembangunan di seluruh zona. Secara keseluruhan, sistem pemerintahan di Kecamatan Pangkalan Koto Baru pada tahun 2025 menunjukkan stabilitas dan kemajuan yang positif. Dengan integrasi antara nilai-nilai adat melalui sistem nagari dan birokrasi pemerintahan modern, kecamatan ini mampu melayani kebutuhan warganya dengan baik. Upaya berkelanjutan dalam digitalisasi data dan peningkatan mutu SDM aparatur diharapkan dapat membawa Pangkalan Koto Baru menjadi wilayah yang lebih mandiri dan sejahtera.

 

Pertanian dan Peternakan

Sektor pertanian dan perkebunan memegang peranan vital dalam struktur ekonomi Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Dengan karakteristik wilayah yang mendukung, sektor ini menjadi tumpuan hidup bagi mayoritas masyarakat setempat. Namun, di balik potensi yang besar, terdapat dinamika antara kapasitas produksi dan kebutuhan konsumsi yang memerlukan perhatian khusus, terutama dalam upaya mencapai kemandirian pangan daerah. Dalam bidang tanaman pangan, profil pertanian wilayah ini menunjukkan fenomena unik. Dengan total luas sawah sebesar 543 Ha, luas panen mampu mencapai 951 Ha per tahun melalui optimalisasi pola tanam. Meskipun produktivitas mencapai 3.233,40 ton Gabah Kering Panen (GKP) setiap tahunnya, angka ini nyatanya belum mampu menutupi seluruh kebutuhan penduduk lokal. Hal ini mengindikasikan adanya celah antara ketersediaan lahan dan laju pertumbuhan penduduk yang harus segera dicarikan solusinya.

Untuk mengatasi defisit pangan tersebut, pemetaan potensi wilayah menjadi langkah strategis yang krusial. Kenagarian Koto Alam, Pangkalan, dan Gunung Malintang telah diidentifikasi sebagai zona utama pengembangan tanaman padi. Optimalisasi di ketiga wilayah ini diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam dan produktivitas per hektar, sehingga ketergantungan pada pasokan beras dari luar daerah dapat perlahan dikurangi. Beralih ke sektor perkebunan, tanaman karet menjadi komoditas unggulan yang terorganisir dengan cukup baik, khususnya di Kenagarian Gunung Malintang. Keberadaan PTP VI dengan total luas lahan 3.600 Ha menciptakan ekosistem perkebunan yang terintegrasi. Pembagian lahan menjadi 2.000 Ha untuk plasma dan 1.600 Ha untuk inti menunjukkan adanya pola kemitraan antara perusahaan dan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani setempat.

Selain karet, komoditas gambir muncul sebagai tulang punggung ekonomi yang paling diandalkan oleh masyarakat Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Dari luas tanam yang mencapai 3.739 Ha, dihasilkan produksi sebanyak 3.178 ton per tahun. Besarnya skala budidaya gambir ini memposisikan Pangkalan Koto Baru sebagai salah satu daerah produsen penting, di mana fluktuasi harga komoditas ini akan sangat berdampak langsung pada daya beli masyarakat di sana. Sektor peternakan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap keragaman sumber pendapatan warga. Di kategori ternak besar, kerbau menjadi primadona dengan populasi mencapai 561 ekor, sedikit mengungguli populasi sapi yang berjumlah 547 ekor. Sementara itu, untuk ternak kecil, kambing memiliki populasi sebanyak 670 ekor. Kehadiran hewan ternak ini bukan hanya sebagai investasi aset, tetapi juga sebagai penyedia protein hewani dan pendukung kegiatan pertanian tradisional.

Tak kalah penting, subsektor unggas menunjukkan populasi yang cukup masif dengan dominasi ayam buras sebanyak 2.836 ekor dan itik sebanyak 1.216 ekor. Tingginya angka populasi unggas, terutama ayam buras, mencerminkan pola pemeliharaan berbasis rumah tangga yang kuat di tengah masyarakat. Hal ini berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan di tingkat keluarga serta menyediakan lapangan kerja sampingan bagi penduduk di pedesaan. Potensi perikanan di wilayah ini pun sangat menjanjikan dengan pemanfaatan lahan yang beragam. Budidaya kolam seluas 30 Ha mampu menghasilkan produksi yang sangat produktif sebesar 330,20 ton per tahun. Selain itu, integrasi budidaya ikan di lahan sawah (mina padi) seluas 105 Ha membe-rikan tambahan produksi 78,56 ton. Angka-angka ini menunjukkan bahwa masyarakat telah mulai menerapkan diversifikasi usaha untuk memaksimalkan fungsi lahan pertanian mereka. Kekayaan sumber daya perairan umum di Pangkalan Koto Baru seluas 2.665,40 Ha melengkapi keragaman pangan dengan produksi tangkapan sebesar 192,26 ton per tahun. Secara keseluruhan, integrasi antara pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan merupakan modal kuat bagi kecamatan ini. Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan teknologi pengolahan dan manajemen lahan agar produksi yang dihasilkan tidak hanya sekadar ada, tetapi mampu melampaui kebutuhan seluruh penduduk secara berkelanjutan.

 

Pertambangan

Pangkalan Koto Baru memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, khususnya pada sektor pertambangan bahan galian Golongan C. Potensi ini tersebar di berbagai nagari dengan karak-teristik geologis yang berbeda-beda. Salah satu komoditas unggulan adalah batu Andesit yang dapat ditemukan di Kenagarian Koto Alam, Manggilang, dan Tanjung Balit. Selain itu, terdapat pula potensi tanah liat yang terkonsentrasi di Pangkalan Tengah, Nagari Pangkalan, serta sebaran Sirtukil (pasir, batu, dan kerikil) yang melintasi wilayah Koto Alam, Manggilang, Pangkalan, hingga Gunung Malintang.

Keberagaman material ini menunjukkan bahwa wilayah Pangkalan Koto Baru merupakan zona strategis untuk penyediaan material konstruksi dan industri. Pemanfaatan Sirtukil dan Andesit sangat krusial untuk mendukung pembangunan infrastruktur fisik, sementara ketersediaan tanah liat memberikan peluang bagi pengembangan industri gerabah atau material bangunan berbasis tanah. Keberadaan titik-titik galian ini tidak hanya menggambarkan kekayaan material bumi, tetapi juga menjadi pilar ekonomi bagi masyarakat lokal di nagari-nagari tersebut.

Selain bahan galian Golongan C, wilayah ini juga menyimpan potensi tambang mineral yang lebih spesifik dan bernilai tinggi. Di Kenagarian Tanjung Balit, terdapat potensi bahan tambang Timah dan Batuan Grafit yang merupakan mineral penting bagi sektor industri manufaktur dan teknologi. Menariknya, cadangan Timah tidak hanya terbatas di satu titik, tetapi juga terdeteksi kebera-daannya di Kenagarian Tanjung Pauh. Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, potensi tambang yang beragam ini diha-rapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan di Pangkalan Koto Baru.

 

Pasar

Pasar tradisional di Kecamatan Pangkalan Koto Baru meme-gang peranan vital sebagai pusat distribusi hasil bumi sekaligus pemenuhan kebutuhan rumah tangga masyarakat setempat. Kebe-radaan lima pasar yang tersebar di berbagai nagari menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri bagi warga sekitarnya. Bagi para petani, pasar-pasar ini adalah wadah utama untuk memasarkan hasil pertanian, seperti gambir, karet, hingga sayur-mayur, semen-tara bagi ibu rumah tangga, pasar adalah tempat utama untuk mendapatkan bahan pangan segar dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan toko modern.

 Pola aktivitas perdagangan di kecamatan ini sangat dipe-ngaruhi oleh jadwal hari pasar yang spesifik. Di Nagari Pangkalan, masyarakat berkumpul setiap hari Sabtu di Pasar Inpres untuk bertransaksi. Sementara itu, hari Jumat menjadi hari yang paling sibuk bagi nagari-nagari lainnya, karena tiga Pasar Tipe A ber-operasi secara bersamaan di Nagari Manggilang, Nagari Gunung Malintang, dan Nagari Koto Alam. Kesamaan hari pasar ini menun-jukkan tingginya produktivitas wilayah tersebut, di mana arus barang dan uang mengalir deras setiap akhir pekan melalui infrastruktur pasar yang telah tertata dengan klasifikasi Tipe A.

Selain pasar-pasar di tingkat nagari, terdapat pula sebuah pasar serikat yang berlokasi strategis di antara Kenagarian Tanjung Balik dan Tanjung Pauh. Pasar serikat ini menjadi simbol kolaborasi antarwilayah, di mana masyarakat dari kedua nagari dapat bertemu di titik tengah untuk melakukan aktivitas jual-beli. Secara keseluruhan, keberadaan lima pasar ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan keluarga di Pangkalan Koto Baru, tetapi juga menjaga nilai-nilai sosial dan kearifan lokal melalui interaksi langsung antara penjual dan pembeli yang tetap terjaga hingga saat ini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url