Kecamatan Situjuah Limo Nagari: Zaman Pra Sejarah, Dalam Tambo, Zaman Belanda, Koto Rajo di Ladang Laweh

 

Zaman Pra Sejarah

Gua Lidah Ajer, yang terletak di Nagari Situjuah Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, bukanlah sekadar ceruk alami di perbukitan karst Sumatra Barat. Gua ini telah menjadi pusat perhatian dunia internasional dan me-ngukir namanya dalam peta sejarah evolusi manusia. Daya tarik utamanya terletak pada penemuan fosil gigi manusia purba yang berhasil memicu perdebatan sekaligus kekaguman di kalangan ilmuwan global, menjadikannya salah satu situs paleoantropologi paling signifikan di Asia Tenggara (M Fajar Rillah Vesky, 2023).

 Kisah penemuan ini bermula dari langkah berani Eugene Dubois, seorang dokter dan paleontolog ternama asal Belanda yang juga menemukan Pithecanthropus erectus. Saat mengeksplorasi Gua Lidah Ajer, Dubois memang tidak menemukan kerangka utuh yang lengkap, namun ia berhasil mengamankan spesimen fosil gigi yang sangat berharga. Meski sempat tersimpan lama di Eropa sebagai koleksi pribadi dan penelitian awal, benda kecil tersebut ternyata menyimpan kunci rahasia mengenai kapan sebenarnya spesies kita mulai mendiami kawasan tropis Nusantara.

Sepeninggal Dubois, tongkat estafet penelitian dilanjutkan oleh ahli paleontologi Belanda lainnya, Dirk Albert Hooijer, pada tahun 1948. Melalui analisis mendalam, Hooijer menarik kesim-pulan awal yang krusial bahwa fosil gigi temuan Dubois tersebut memiliki morfologi yang sangat mirip dengan gigi manusia modern (Homo sapiens). Kesimpulan ini menjadi fondasi penting yang membuka jalan bagi rasa penasaran ilmuwan-ilmuwan generasi berikutnya untuk membuktikan keaslian dan usia pasti dari temuan tersebut. Puncak dari rasa penasaran dunia sains terjadi pada periode 2008 hingga 2017, di mana penelitian kolaboratif dilakukan secara masif. Sebanyak 23 ilmuwan lintas negara dari Australia, Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Belanda berkumpul untuk melakukan verifikasi ulang menggunakan teknologi penang-galan modern yang jauh lebih akurat. Mereka menggabungkan data geokronologi dan analisis morfologi terbaru guna memastikan posisi Gua Lidah Ajer dalam linimasa migrasi manusia purba.

Hasil penelitian kolaborasi internasional tersebut akhirnya diterbitkan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Nature, dan seketika mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Data menunjukkan bahwa fosil gigi dari Gua Lidah Ajer tersebut berusia antara 63.000 hingga 73.000 tahun. Temuan ini secara otomatis menempatkan spesimen tersebut sebagai bukti keberadaan manusia modern tertua di Asia Tenggara, jauh lebih tua dari perkiraan-perkiraan sebelumnya yang pernah ada di situs-situs lain.

Signifikansi temuan ini mengubah narasi migrasi manusia dari Afrika menuju Australia. Sebelum adanya data dari Gua Lidah Ajer, banyak pihak meyakini bahwa manusia modern terlambat mencapai wilayah hutan hujan tropis. Namun, bukti dari Situjuah Tungkar ini membuktikan bahwa nenek moyang kita telah mampu beradaptasi dengan lingkungan hutan hujan Sumatra jauh lebih awal dari yang dibayangkan, memberikan dimensi baru dalam pemahaman kita tentang ketangguhan spesies Homo sapiens. Hingga saat ini, Gua Lidah Ajer terus menjadi topik hangat yang dibahas dalam berbagai jurnal ilmiah internasional. Situs ini bukan hanya milik masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota, melainkan warisan dunia yang menjadi bukti bisu perjalanan panjang umat manusia. Keberadaan gua ini menegaskan bahwa dari sudut kecil di Sumatra Barat, rahasia besar tentang asal-usul dan penyebaran manusia modern di muka bumi berhasil terungkap.

 

Dalam Tambo

Kisah berdirinya Nagari Situjuah Batua bermula dari sebuah pemukiman awal di kaki Gunung Sago yang dikenal dengan nama Baboi (Babui). Di tempat yang terletak sekitar lima kilometer dari pemukiman sekarang ini, para leluhur atau niniak hidup dalam tatanan yang sederhana namun penuh dengan nilai-nilai luhur (Saiful Guci, 2025). Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya populasi, muncul keinginan kolektif untuk mencari wilayah baru yang lebih luas, aman, dan sentosa guna menjamin kelangsungan hidup anak cucu di masa depan. Keinginan untuk berpindah ini memicu sebuah musyawarah besar yang dipimpin oleh tokoh ter-pandang, Datuk Majo Kayo. Dalam proses tersebut, terjadi dinamika yang cukup tajam di mana anggota rombongan sempat berselisih paham mengenai arah perjalanan. Perbedaan pendapat ini mengaki-batkan rombongan besar tersebut pecah menjadi beberapa kelom-pok kecil yang terpencar, mencerminkan bagaimana proses demok-rasi dan dialektika sudah mewarnai perjalanan hidup masyarakat Minangkabau sejak zaman dahulu.

Di tengah ketidakpastian arah tersebut, pandangan mereka tertuju pada kejauhan dari arah Koto Tinggi, di mana terlihat tujuh batang kayu besar yang menjulang tinggi dan rimbun. Datuk Sati Nan Mangiang dengan penuh keyakinan menunjuk ke arah tersebut sembari berujar, "Situ arah yang akan kita tuju." Meski sebagian anggota rombongan lain merasa ragu dan tidak setuju, kelompok di bawah pimpinan Datuk Sati Nan Mangiang tetap teguh pada pendiriannya dan mulai melangkah menuju tujuh pepohonan ter-sebut. Perjalanan menuju arah yang dituju bukanlah tanpa hambatan. Di tengah perjalanan, rasa lelah dan dahaga sempat menghentikan langkah mereka di suatu tempat. Di sana, para niniak tertegun sejenak mengenang perjalanan dan tujuan mereka, sehingga tempat perhentian itu kemudian dinamakan Koto Menga-nang. Perjalanan dilanjutkan kembali hingga mencapai titik musya-warah berikutnya yang disebut Koto Tinggi, di mana enam orang tokoh adat memutuskan untuk menetap di sana, sementara rombongan utama terus mengejar penampakan tujuh kayu tersebut.

Setelah melalui perjalanan panjang, rombongan akhirnya tiba di lokasi tujuh batang kayu besar tersebut, yang ternyata adalah pohon beringin yang rimbun. Di lokasi yang masih lapang dan subur itu, Datuk Majo Kayo mengukuhkan kesepakatan bahwa tempat inilah yang paling "betul" atau tepat sebagai tempat bernaung. Perpaduan antara jumlah tujuh batang pohon dan keyakinan akan ketepatan lokasi inilah yang melahirkan nama "Situjuah Batua" (Situjuh Betul), sebuah identitas yang menun-jukkan kebenaran pilihan para leluhur.

              Keaslian sejarah Nagari Situjuah Batua juga didukung oleh data monografi tahun 1951 yang mencatat pertalian adat yang kuat dengan nagari-nagari di sekitarnya. Salah satu hubungan yang paling erat adalah dengan Nagari Ladang Laweh. Hal ini dibuktikan dengan sejarah turunnya para niniak secara bersama-sama dari Baboi sebanyak kira-kira 50 orang. Empat datuk utama, yakni Dt. Lelo Anso, Dt. Rajo Mangkuto, Dt. Rajo Malano, dan Dt. Paduko Sindo, menjadi pilar utama yang mengikat persaudaraan adat antara Situjuah Batua dan Ladang Laweh.

Selain dengan Ladang Laweh, Situjuah Batua memiliki hubungan khusus dengan Banda Dalam dan Situjuah Gadang. Tokoh kunci dalam pertalian ini adalah Datuk Rajo Simagayur Nan Mangiang, yang merupakan pucuk adat di Bandar Dalam. Pertalian ini terbentuk saat beliau turun bersama Datuk Majo Kayo dari Koto Tinggi. Hubungan ini bukan sekadar sejarah lisan, melainkan sebuah ikatan formal yang menentukan batas-batas wilayah dan hak ulayat di antara nagari-nagari tersebut. Titik krusial dalam penetapan batas wilayah ini terjadi di sebuah tempat yang disebut Kayu Barambai. Di sana, Datuk Rajo Simagayur Nan Mangiang dan Datuk Majo Kayo melakukan mufakat untuk menentukan pemba-gian hutan tanah. Disepakati bahwa batas wilayah ditentukan berdasarkan aliran Batang Air di Kayu Barambai; wilayah di sebelah kanan sungai menjadi milik Banda Dalam dan Situjuah Gadang, sementara wilayah di sebelah kiri menjadi milik Situjuah Batua dan Ladang Laweh.

Sebagai bentuk perlindungan dan penegasan eksistensi, Nagari Situjuah Batua pada masa awalnya dikelilingi oleh empat buah parit pertahanan. Keberadaan parit-parit ini masih dapat dite-lusuri jejaknya hingga kini, menjadi bukti fisik bahwa pembangunan nagari ini dilakukan dengan perencanaan yang matang, baik dari sisi keamanan maupun pembagian tata ruang yang berlandaskan mufakat para pemangku adat. Secara keseluruhan, sejarah Situjuah Batua adalah narasi tentang keteguhan prinsip dan pentingnya musyawarah. Dari perpindahan dari Baboi hingga berdirinya se-buah nagari yang mandiri, setiap jengkal tanahnya menyimpan memori kolektif tentang perjuangan para niniak. Nama Situjuah Batua bukan sekadar sebutan geografis, melainkan sebuah monumen pengingat bahwa keputusan yang diambil berdasarkan mufakat dan keyakinan yang kuat akan selalu membawa masyarakat menuju tempat yang "betul", aman, dan sentosa.

 

Koto Rajo di Ladang Laweh

Di sudut terpencil Koto Rajo, Nagari Ladang Laweh, berdiri sebuah bangunan yang kini seolah sedang berbisik dalam kesunyian yang pilu. Rumah Gadang kepunyaan Dt. Perpatiah Nan Sabatang ini nampak merana, kayu-kayunya yang dulu kokoh kini lapuk dimakan usia, dan atap gonjongnya tak lagi tajam menantang langit. Dibangun antara tahun 1816 hingga 1821, bangunan ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan saksi bisu dari sebuah era yang penuh gejolak di tanah Minangkabau.

Keberadaan rumah ini berkaitan erat dengan tragedi berdarah Peristiwa Koto Tangah tahun 1815. Saat itu, keluarga Raja Pagaruyung mengalami pengejaran dan pembantaian, memaksa sebagian dari mereka melarikan diri untuk mencari perlindungan. Di Koto Rajo inilah, puing-puing kewibawaan istana yang runtuh mencoba bertahan hidup. Rumah Gadang ini dibangun sebagai tempat bernaung bagi para bangsawan yang kehilangan istananya, menjadikan tempat ini sebagai kantong terakhir harga diri keluarga diraja. Tak jauh dari halaman rumah yang kini ditumbuhi semak belukar, terdapat artefak unik yang mempertegas status wilayah ini sebagai tempat bersejarah bagi para pemimpin: sembilan batu yang dikenal sebagai "Batu Kadudukan Rajo". Batu-batu ini bukan sem-barang batu, melainkan lempengan alami dari batu besar yang disebut juga batu "dorong-dorong" yang disusun sedemikian rupa menjadi kursi-kursi tanpa kaki. Struktur sederhana namun sarat makna ini menjadi bukti fisik bahwa di sinilah tempat para pemimpin duduk berunding, menyatukan pikiran di bawah naungan tradisi.

Susunan batu tersebut memiliki formasi yang sangat simbolis, terbagi dalam kelompok-kelompok yang saling berha-dapan. Tiga batu berjejer membelakangi Gunung Sago menghadap ke Barat, berhadapan dengan tiga batu lainnya yang menatap ke arah Gunung Bungsu. Di sisi utara, terdapat batu yang lebih besar dan tinggi di bawah pohon beringin yang rimbun, yang disebut sebagai Batu Sandaran Rajo. Letak geografis batu-batu ini me-nunjukkan betapa orang Minangkabau zaman dahulu sangat menghargai keseimbangan antara alam dan kepemimpinan (M Fajar Rillah Vesky, 2023).

Nama "Koto Rajo" sendiri memiliki akar sejarah yang men-dalam, bermula dari pesan Sultan Alam Bagagarsyah setelah beliau diangkat sebagai Regen Tanah Datar oleh Belanda. Beliau berniat mengunjungi keluarganya yang mengungsi di sana, sehingga masyarakat setempat segera mempersiapkan penyambutan yang megah, termasuk pembuatan Batu Kadudukan Rajo tersebut. Namun, nasib berkata lain; saat kunjungan berlangsung, suasana kampung sudah sepi karena penduduknya mengungsi ke Ladang Laweh untuk menghindari berkecamuknya perang saudara antara kaum Padri dan Belanda. Dalam kesunyian itu, hanya Ninik Mamak Dt. Jangguik Omeh yang hadir menyambut sang Sultan. Di tempat bersejarah inilah Sultan menititahkan pesan penting dan membe-rikan atribut kebesaran berupa Payung Panji kuning emas, keris, serta pakaian kebesaran kepada Dt. Jangguik Omeh sebagai wakilnya. Pesan inilah yang kemudian disampaikan kepada ninik mamak lainnya di Situjuh Ladang Laweh, yang mengubah sebutan daerah tersebut dari "Kato Rajo" (perkataan raja) menjadi "Koto Rajo" (benteng atau tempat raja).

Kini, warisan agung itu terancam sirna ditelan waktu. Rumah Gadang yang dahulu menjadi pusat perlindungan bagi keluarga Raja Pagaruyung kini hanya tinggal menanti keruntu-hannya jika tak segera mendapatkan perhatian. Batu-batu Kadudu-kan Rajo tetap setia pada tempatnya, namun tanpa perawatan dan pengakuan sejarah yang layak, ia hanya akan dianggap sebagai bongkahan batu biasa oleh generasi mendatang, kehilangan ruh dan cerita tentang kejayaan serta penderitaan masa lalu Minangkabau.

 

Peristiwa 15 Januari di Situjuah Batua

Di Situjuh Batur, terlihat Pasar Pekan Situjuh dan Masjid Perjuangan di sebelah kiri dan Tugu PDRI di sebelah kanan. Masjid ini sering dijadikan tempat menginap oleh para gerilyawan pada masa PDRI. Dan sekitar 50 meter dari masjid itu terdapat simpang ke kiri dengan gerbang yang mudah dikenali berupa gambar Mr. Syafruddin Prawiranegara dan PDRI. Sesudah gerbang ada jalan menurun sekitar 50 meter untuk menuju Kawasan Lurah Kincir yang pernah menelan korban saat pengepungan Belanda pada shubuh hari.

Kawasan ini berada di sebuah lembah yang di sebelah kanannya ada tebing yang ditumbuhi semak-semak beserta air yang mengalir dan membuatnya terkesan klasik. Lalu di sebelah kiri terlihat halaman yang dicor semen yang cukup luas dan sebuah rumah yang sepertinya tidak ditinggali. Dan di halaman itu beberapa makam pahlawan yang terpelihara dengan baik seperti makam Chatib Sulaiman, Bupati Arisun, Kapten Tantawi, dan lain-lain. Dan tidak jauh dari makam ada sebuah monumen yang beratap dengan lantai bersih. Monumen ini bekas surau tempat rapat pada malam tanggal 14 Januari 1949.

Setelah rapat selesai sebagian peserta rapat ada yang pindah dari surau itu dan sebagian ada yang tetap tidur di sana. Dan pada peristiwa itu terdapat beberapa orang dari pihak republik yang lolos dalam pengepungan yang diserang oleh Belanda. Di antaranya: Dahlan Ibrahim, Engku Abdullah, Jahja Djalil, Arifin Alip, Sidi Bakarudin, Syamsul Bahar, Baharuddin Datuk Bagindo atau dikenal juga dengan Datuk Gagok atau BDB. Dalam Peristiwa 15 Januari itu ada korban jiwa yang tercatat mencapai 69 orang termasuk warga sipil seperti yang ditulis oleh Ahmad Husein, et. al., dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau/Riau 1945-1950 Volume II.

              Pada malam 14 Januari 1949, sebuah pertemuan krusial digelar di sebuah surau di Lurah Kincia, Situjuah Batua. Pertemuan ini dilakukan atas instruksi Gubernur Militer Sumatra Tengah, Sutan Mohammad Rasjid. Suasana di dalam surau tersebut dipenuhi kete-gangan sekaligus tekad bulat, di mana para tokoh penting berkumpul untuk merumuskan langkah taktis dalam menghadapi kepungan Belanda yang semakin merapat ke wilayah basis gerilya di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Rapat strategis tersebut dipimpin oleh Chatib Sulaiman, seorang tokoh intelektual dan Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah yang dikenal memiliki visi perjuangan yang tajam. Ia tidak sendirian; hadir pula tokoh-tokoh kunci seperti Bupati Militer Arisun Sutan Alamsyah, Letkol Munir Latief, Mayor Zainuddin, hingga perwira muda seperti Kapten Tantawi dan Letda Syamsul Bahri. Sebanyak 69 anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) juga bersiaga, mengawal jalannya musyawarah yang akan menentukan nasib wilayah tersebut.

Inti dari kesepakatan malam itu adalah sebuah rencana serangan yang berani: menyerang dan menduduki kembali Kota Payakumbuh. Para pejuang menyadari bahwa Payakumbuh meru-pakan simbol strategis yang jika berhasil diganggu, akan mem-berikan pesan kuat kepada dunia internasional. Pendudukan kembali kota tersebut bertujuan untuk menghancurkan narasi Belanda dan menunjukkan bahwa rakyat Indonesia, melalui perang gerilya, masih memiliki taring untuk melawan pendudukan asing.

Nahas, kerahasiaan rapat tersebut bocor ke telinga intelijen Belanda. Diduga kuat, keberadaan para pemimpin pejuang ini telah terendus melalui pengintaian yang ketat atau informasi mata-mata. Menjelang subuh pada 15 Januari 1949, saat para pejuang sedang beristirahat dan sebagian bersiap untuk melaksanakan ibadah shalat subuh, pasukan Belanda telah mengepung lokasi pertemuan di Lurah Kincia dengan senjata lengkap. Serangan fajar itu terjadi begitu cepat dan mematikan. Tanpa peringatan, rentetan tembakan senapan mesin memberondong surau dan area sekitarnya. Para pejuang yang terjebak dalam kondisi tidak siap berusaha memberi-kan perlawanan seadanya, namun posisi mereka yang terbuka membuat mereka menjadi sasaran empuk. Dalam sekejap, lembah Situjuah yang tenang berubah menjadi ladang pembantaian yang memilukan.

Chatib Sulaiman, Arisun Sutan Alamsyah, dan hampir seluruh pimpinan militer yang hadir gugur sebagai syuhada dalam peristiwa tersebut. Mereka tewas bersama puluhan anggota BPNK yang setia mengawal hingga napas terakhir. Kehilangan ini merupa-kan pukulan telak bagi struktur pertahanan PDRI di Sumatra Tengah, karena dalam satu waktu, Republik kehilangan kader-kader terbaik yang memiliki kemampuan kepemimpinan dan strategi militer yang mumpuni. Meski berakhir tragis, darah yang tumpah di Situjuah tidaklah sia-sia. Peristiwa ini justru memicu gelombang kemarahan rakyat yang semakin masif terhadap penjajah. Kematian para tokoh tersebut menjadi bahan bakar bagi para pejuang gerilya lainnya untuk terus melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda. Dunia internasional pun akhirnya melihat bahwa klaim Belanda tentang "ketenangan di Indonesia" adalah bohong besar, karena perlawanan justru semakin menghebat pasca-tragedi tersebut.

Kini, lokasi peristiwa di Lurah Kincia berdiri sebagai monumen peringatan yang kita kenal sebagai "Peristiwa Situjuah". Setiap tahunnya, masyarakat dan pemerintah memperingati tragedi ini bukan hanya untuk meratapi kematian para pahlawan, tetapi untuk menyerap kembali esensi kedaulatan yang mereka pertahankan. Situjuah adalah pengingat abadi bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan harga yang sangat mahal: nyawa para pemikir dan pejuang yang memilih mati demi tegaknya merah putih.

Ketika Peristiwa Situjuh pada 15 Januari 1949 yang menewaskan 69 prajurit dan masyarakat Situjuh, lalu Belanda membawa tawanan sekitar 60 orang melewati Kawasan Limau Kapeh di dekat Kawasan Ku-bang Gajah Nagari Limbukan. Lalu ketika Letnan Muda Burhanuddin Putih mendapatkan informasi itu segera mengerahkan Kompi Markas ke Kubang Gajah untuk membentuk benteng pertahanan menyergap pasukan Belanda dari Situjuh.

Limau Kapeh terletak sebelum Situjuh Banda Dalam yang men-jadi perbatasan antara Limbukan dan Situjuh. Letaknya lebih kurang sekitar 10 kilometer dari pusat Payakumbuh yang berada di kaki Gunung Sago dengan udara yang sejuk dan segar. Sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Husein dkk. di dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau/Riau 1945-1950 Volume II, benteng pertahanan tentara republik terletak di atas tebing yang cocok untuk membidik musuh.

Ketika Belanda melewati jalan dari Situjuh – Limbukan tersebut, pasukan republik melepaskan tembakan ke arah musuh. Pasukan Belanda kocar-kacir menghadapi pasukan republik. Banyak dari pra-jurit Belanda tewas dan cedera. Ambulan yang membawa korban di pihak Belanda pun tidak muat hingga akhirnya dibawa bersama truk. Dan masyarakat yang menjadi tawanan Belanda yang lebih kurang berjumlah 60 orang dapat membebaskan diri tanpa mengalami cedera sedikit pun. Setelah berhasil penyer-gapan pasukan Belanda yang kocar-kacir di Limau Kapeh maka Sersan Raudani telah menghadang pula di Kapalo Koto yang jaraknya sekitar 500 meter dari Limau Kapeh. Lokasi penyergapan yang dipilih oleh Regu Sersan Raudani yaitu tiarap di dalam sawah. Namun sayang sekali strategi ini kurang optimal sehingga pasukan Belanda bisa membuat Regu Sersan Raudani terdesak.

Lokasi Kapalo Koto ini terletak persis di sekitar Rumah Makan Pa-ngek OR dan sekarang sudah dibangun sebuah tugu bambu runcing di atas tebing sisi jalan. Dalam pertempuran yang heroik di Kapalo Koto itu banyak pasukan dari regu Sersan Raudani yang terluka. Dan untuk pasukan yang cedera ringan dan masih bisa dipastikan selamat seperti Sersan Danus yang ibu jarinya putus terkena tembakan dan Prajurit I Nur Jaul yang kakinya kena tembak diperintahkan untuk menyelamatkan diri. Dan untuk pasukan yang sudah terluka parah berusaha sekuat tenaga untuk menghadang Belanda sampai titik darah penghabisan. Dan sebelum gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa, prajurit-prajurit itu membenamkan senjata ke dalam lumpur sawah agar tidak jatuh ke tangan musuh serta berharap senjata tersebut dapat ditemukan di ke-mudian hari. Dan memang benar senjata itu ditemukan oleh petani ketika menggarap sawahnya tanpa mengalami kerusakan sedikit pun dan masih bisa berfungsi dengan baik (Ahmad Husein, et. al., 1991).

 

Peristiwa di Situjuah Gadang

     Sesudah peristiwa Situjuh Batur pada 15 Januari 1949, Belanda kembali menyerang Situjuh pada bulan April di tahun yang sama. Dan pada malam di bulan April, pasukan Republik telah melihat Belanda di pos pengintaian Bukit Kuburan Cina di Limbukan bahwa jalan-jalan di Payakumbuh–Bukittinggi di sekitar Padang Siantah dan Ngalau Indah telah terlihat lampu-lampu kendaraan konvoi Belanda menuju Payakumbuh. Belum bisa dipastikan ke mana arah penyerangan Belanda na-mun Markas Komando Pertempuran Limapuluh Kota bagian Selatan bertempat di Situjuh Gadang saat itu memerintahkan kepada masyarakat untuk menyingkir ke tempat aman. Belanda memulai penyerangan di pagi hari pukul 08.00 WIB dengan pesawat tempur Mustang melakukan pengintaian di Situjuh Gadang dan Situjuh Bandar Dalam dan lalu melepaskan tembakan di kaki bukit di sekitar Ladang lawas dan Situjuh Batur. Dan pada tengah hari sekitar pukul 12.00 WIB pasukan Belanda telah sampai di Manggis dan Situjuh Gadang lalu membakar rumah-rumah rakyat.

     Sewaktu pasukan Belanda telah sampai di Tanjung Mungo Nagari Situjuh Gadang hingga Taratak Nagari Limbukan maka pasukan Belanda dicegat oleh pasukan republik. Tidak diketahui secara pasti berapa korban dari pihak Belanda namun dilihat dari atas perbu-kitan yang menjadi tempat pertahanan pejuang republik terlihat banyak pasukan Belanda yang ditandu ke mobil ambulan. Dan dari pihak pasukan republik ada seorang anggota kompi yang luka berat dan tiga orang rakyat yang ditangkap lalu gugur sebagai kusuma bangsa setelah dieksekusi Belanda di Bukit Palano (Ahmad Husein, et., al,. 1991).

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url