Lestarikan Toponimi dan Bahasa Daerah, Feni Efendi Rilis Buku "Buyuang Amo" Ungkap Asal-usul Nama Tempat di Payakumbuh

 


PAYAKUMBUH — Upaya penyelamatan memori kolektif dan pelestarian bahasa daerah di Sumatera Barat terus mengemuka melalui berbagai karya literasi. Penulis sekaligus peneliti sejarah lokal, Feni Efendi, resmi merilis buku terbarunya berjudul Buyuang Amo: Tanam-tanaman di Payokumbuah nan Manjadi Namo-namo Daerah.

Karya ini secara khusus membedah aspek toponimi—studi tentang asal-usul nama tempat—yang menelusuri keterkaitan erat antara vegetasi lokal, ekologi tumbuhan, dan penamaan wilayah di Kota Payakumbuh. Penulis menggunakan bahasa Minangkabau sebagai medium tutur untuk merawat idiom serta istilah lokal agar tetap hidup di tengah generasi muda.

Melalui pendekatan sejarah oral dan kebudayaan, buku Buyuang Amo menyingkap bagaimana nama-nama kawasan di Payakumbuh, seperti nama nagari, kelurahan, hingga jorong, sering kali berakar dari nama tanaman atau pepohonan yang tumbuh dominan di wilayah tersebut pada masa lampau.

Feni Efendi menegaskan bahwa penyusunan buku ini hadir dari kepedulian terhadap makin tergerusnya pemahaman masyarakat lokal—khususnya generasi muda—terhadap sejarah dan bahasa ibu mereka sendiri. Buku ini diharapkan menjadi rujukan penting bagi kerja-kerja kebudayaan, penguatan muatan lokal di sekolah, serta dokumen penjelajah sejarah ekologi di Luak Limopuluah.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url