Drs. Mardanas Safwan
Drs. Mardanas Safwan, seorang sejarawan Indonesia kelahiran Payakumbuh, telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam dunia penulisan sejarah Indonesia. Lahir pada 1 Maret 1938, dan wafat pada 14 Februari 2006. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat produktif dalam menulis buku-buku sejarah, biografi pahlawan, dan berbagai karya tulis lainnya.
Mardanas Safwan lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Safwan Datuk Mangkudun, menjadi panutan bagi Mardanas dalam menanamkan nilai-nilai kerja keras. Sejak kecil, Mardanas telah menunjukkan semangat juang yang tinggi dengan membantu perekonomian keluarga melalui berdagang rokok dan kebutuhan rumah tangga pada masa penjajahan Jepang. Pengalaman ini membentuk karakter Mardanas menjadi pribadi yang ulet dan pantang menyerah. Karier Mardanas Safwan di bidang sejarah dimulai ketika ia bertugas di Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat. Beliau menyusun buku pegangan "Alam Budaya Minangkabau" yang menjadi muatan lokal bagi siswa SMP dan SMA di Sumatera Barat. Buku ini menunjukkan kepedulian Mardanas terhadap pelestarian budaya Minangkabau.
Sepanjang hidupnya, Mardanas Safwan telah menulis tidak kurang dari 86 judul buku sejarah dan biografi pahlawan. Karya-karyanya mencakup berbagai topik sejarah Indonesia, mulai dari sejarah lokal hingga sejarah nasional. Salah satu karyanya yang terkenal adalah "Sejarah Kota Padang" (1987) yang disusun bersama Ishaq Taher, Gusti Asnan, dan Syafrizal. Produktifitas Mardanas Safwan dalam menulis sejarah mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Beliau menerima penghargaan sebagai "100 Authors Productivity" dari Universitas Leiden, Belanda. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Mardanas dalam dunia penulisan sejarah.
Mardanas Safwan menikah dengan Dra. Izarwisma Mardanas, seorang peneliti sejarah. Mereka dikaruniai beberapa orang anak, salah satunya adalah Dr. Prima Idwan Mariza, S.H., M.Hum., yang berprofesi sebagai jaksa dan menjabat sebagai Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara sejak 2021. Mardanas Safwan telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi dunia sejarah Indonesia. Karya-karyanya menjadi sumber informasi penting bagi para peneliti, akademisi, dan masyarakat umum yang ingin mempelajari sejarah Indonesia. Beberapa karya tulisannya kini tersimpan di Universitas Leiden, Belanda, sebagai bukti pengakuan dunia internasional atas kontribusinya.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh