H. Iqrar Djadul Engku Mudo

 

H. Iqrar Djadul Engku Mudo, atau yang akrab disapa Irdja, adalah salah satu putra terbaik Luhak Lima Puluh yang lahir di Nagari Talang Maua pada 15 Juni 1925. Beliau adalah sosok multitalenta yang dikenal sebagai sastrawan, wartawan, pejuang kemerdekaan, dan penulis cerita bersambung (cerbung) yang populer di harian Haluan pada era 1970-an. Dengan nama lahir Iqrar (Qarah), beliau merupakan putra dari pasangan Djadul dan Rohani. Kehidupan rumah tangganya bersama Rakamuriana dikaruniai empat orang anak yang sukses di berbagai bidang. Di antaranya anaknya tersebut yaitu: Ir. Drs. Ad Mahmudy Irdja, MM (Gorontalo), Irna Laily (Almh), Dr. Iramady Irdja, M.Sc, M.Si. (Jogyakarta/Jakarta), dan Drs. Irawady Irdja, MM (Rumbai, Pekanbaru).

Perjalanan pendidikan Irdja ditempuh di dua institusi ternama, yaitu Darul Funun di Padang Jopang, Lima Puluh Kota, dan Sumatera Thawalib Parabek. Pendidikan ini menjadi landasan kuat bagi perkembangan intelektual dan jiwa nasionalismenya.  Karier Irdja mencakup berbagai bidang yang menunjukkan keluasan minat dan bakatnya. Beliau pernah terjun ke dunia militer sebagai anggota TNI dengan pangkat terakhir Letnan, bahkan pernah aktif sebagai Reserse Pemerintahan Darurat RI (PDRI). Ternyata kemudian memilih untuk mengundurkan diri. Dunia jurnalistik menjadi panggilan jiwanya, dan beliau berkarier sebagai wartawan di Haluan dan Duta Masyarakat, serta penulis lepas yang produktif.

Selain itu, Irdja juga aktif di bidang politik, dengan memimpin Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Payakumbuh/Kabupaten 50 Kota, serta menjadi anggota DPRD Kodya Payakumbuh.  Kepeduliannya terhadap pendidikan diwujudkan berupa mendirikan Sekolah Rakyat (SR) sekaligus menjadi guru sukarela bersama istrinya di Kotobaru, Payobasung. Beliau juga dikenal sebagai mubaligh yang menyampaikan dakwah Islam. Karya-karya Irdja mencakup berbagai genre, mulai dari buku-buku antara lain buku Etika dan Susila, terbitan Medan. Buku cerita anak-anak berisi kisah antara lain tentang Perang Paderi, terbitan Semarang. Novel-novel yang menggugah seperti "Fauzana" dan "Bahagia di Sela-Sela Kegetiran". Artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media membahas beragam topik, mulai dari agama Islam, adat Minangkabau, pendidikan, hingga politik. Salah satu momen penting dalam karier jurnalistiknya adalah ketika beliau meninjau kondisi warga negara Indonesia korban kerja paksa Romusha di Logas, sebuah perjalanan yang penuh risiko. Dedikasi Irdja terhadap pendidikan juga tercermin dari upayanya membimbing dan memotivasi orang tua dan generasi muda untuk tetap fokus pada bidang pendidikan melalui berbagai forum dan media. H. Iqrar Djadul Engku Mudo menghembuskan napas terakhirnya pada 3 November 1997. Kepergiannya meninggalkan jejak yang mendalam bagi masyarakat Luhak 50 dan Sumatera Barat.

 Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url