H.C. Israr

 

Chazanatul Israr—lengkapnya H. Chazanatul Israr  atau lebih dikenal dengan nama H.C. Israr atau Engku Lunak—adalah seorang politikus, wartawan, mubalig, budayawan, dan pendiri Kota Payakumbuh. Ia lahir 2 Juni 1922 dan meninggal dunia 13 Februari 2006 di  Payakumbuh. Sewaktu kecil ia akrab disapa dengan panggilan Atun atau Catun. Ayahnya bernama Angku Talud suku Dalimo dan ibunya bernama Halimah Sa’diyah bersuku Kampai. Sedangkan saudaranya seibu-sebapak adalah Habibun Nadjar (lahir 1919) dan Hafizatul Akhyar (lahir 1926). Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Abu Bakar Dt. Pobo suku Dalimo. Dari pernikahan itu, C. Israr memiliki adik perempuan yang bernama Zulmaini (1933). Dan C. Israr menikah dengan Nurkias yang dikaruniai 4 orang anak yaitu Alfian Helmi Bk. Teks. (lahir 1956), Jana Ihsan S.Ds. (lahir 1959), Mayor Drs. H. M. Hikmat Israr (lahir 1963), Dra. Rina Rahmanita (lahir 1965).

              C. Israr menjalani masa kecilnya sebagai anak yatim ketika ia masih berusia 8 tahun dan ibunya menghidupi anak-anaknya dengan membuka warung makanan di samping rumah gadangnya di Nunang. C. Israr memulai pendidikan dasarnya di Governemen School Batusangkar (1935) dan lalu dilanjutkan di Ma’hat Islamy Payakumbuh (1942). Selepas dari sana, H.C. Israr lalu menempuh pendidikannya di Training College Payakumbuh (1945) dan lalu Sekolah Opsir di Kamang Bukittinggi (1946). Pendidikan terakhirnya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta (1954).

              Adapun dalam menjalani karir, C. Israr memulainya dengan menjadi guru di SMA Negeri AC Bukittinggi (1955—1958) dan lalu dilanjutkan menjadi guru di SMA Negeri Dangung-dangung (1962). Tahun 1959 ia mendirikan dan menjadi guru SMA penampungan bagi pengungsi di Baruah Gunung. Di tempat ini ia berkenalan dengan Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. Asa’ad, Mr. Moh. Natsir dan pimpinan PRRI lainnya, sehingga ia menjadi pendukung PRRI dan Masyumi.

Setelah PRRI Berakhir, C. Israr mengundurkan diri menjadi guru di SMA Negeri Dangung-dangung karena pernah menjadi pendukung PRRI. Di awal Orde baru, ia menjadi tokoh pergerakan dan ikut dalam Sekber Golkar yang mengantarkannya terpilih menjadi Ketua DPRD-GR Kabupaten 50 Kota (1967—1970). Lalu C. Israr pun mengundurkan diri dari lembaga legislatif itu karena pernah menjadi pendukung Masyumi yang dilarang pada zaman Orde Baru ketika itu.

Setelah resmi mengundurkan diri menjadi Ketua DPRD-GR Kabupaten Lima Puluh Kota maka C. Israr pun dipercaya mengemban amanah untuk menjadi Ketua Panitia Realisasi Kotamadya Payakumbuh pada tahun 1970 sehingga berdirilah Kotamadya Payakumbuh pada 17 Desember 1970. Ketika Kotamadya Payakumbuh sudah berdiri, C. Israr pun meneruskan karir politiknya dan terpilih menjadi Ketua DPC PPP Kodya Payakumbuh (1977—1992). Selama masa kepemimpinan PPP di tangan C. Israr, partai yang bersimbol Kabah itu memperoleh suara mayoritas dalam pemilihan umum (pemilu) di masa itu di Payakumbuh. Sehingga dengan begitu, PPP telah mengantar H.C. Israr menjadi anggota dan Wakil Ketua DPRD Kodya Payakumbuh periode 1977 sampai 1992. Pada tahun 1995, C. Israr dipercaya menjadi Ketua DPW PPP Sumatera Barat dan Ketua MPW Sumatera Barat (1995—2000). Adapun pada tahun 1996—1998, C. Israr telah melenggang menjadi anggota DPRD Sumatera Barat.

Selain berkarir di dalam politik, C. Israr juga menjadi Dosen Luar Biasa Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang (1966—1990). Ia pernah menjadi Ketua Yayasan Training College Payakumbuh (sejak tahun 1976) dan juga Ketua Yayasan Ma’had Islamy Payakumbuh (1980—1985), Ketua Umum Pembangunan RSI Ibnu Sina Payakumbuh (1973—1990). Dan sebagai mubalig, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua MUI Payakumbuh (1976—1992), Ketua Badan Kerjasama Masjid (BKSM) Payakumbuh, Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Payakumbuh. Juga, C. Israr dipercaya menjadi Imam Masjid Makmur Nunang sejak tahun 1965. Adapun sebagai kreator, C. Israr memiliki studio dalam advertising dan kursus di Payakumbuh sejak tahun 1963—1995 dengan nama Budaya.

Pada masa kemerdekaan, C. Israr pernah menjadi Komandan Lasykar Sabilillah di Kabupaten Lima Puluh Kota sejak tahun 1946—1948. Setelahnya pada masa agresi militer kedua Belanda atau pada masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang banyak berbasis di Kabupaten Lima Puluh Kota, C. Israr ditunjuk menjadi Koordinator Pasukan Mobil Teras Payakumbuh Selatan (1949).

Sebagai budayawan, C. Israr juga melahirkan karya-karya dalam bentuk lukisan dan buku-buku. Di antara buku-buku karyanya adalah Mengenal Syuhada Lurah Kincir (Penerbit Angkasa, Bandung 1999), Mengenal Budaya dan Pesona Ranah Minang Lewat Karya Tulisan (Budaya Media, Bandung, 2002), Dari Celah-celah Peristiwa Situjuh (Budaya Media, Bandung, 2002), Sejarah Kesenian Islam, (Penerbit Pembangunan, Yogyakarta, 1954), Dari Teks Klasik Sampai ke Kaligrafi (Penerbit Yayasan Masagung, Jakarta, 1985). Adapun negara-negara yang pernah dikunjungi oleh C. Israr adalah Arab Saudi, Spanyol, Singapura, Mesir. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url