Isral Dinata
Isral Dinata lahir di Balai Gadang, Nagari Koto Nan Gadang, Payakumbuh, pada tanggal 7 Juni 1972, adalah pelukis otodidak realistis Sumatera Barat. Pendidikan formalnya di SD Negeri Koto Nan Gadang, SMP 1 Payakumbuh, dan STM Negeri Payakumbuh, tampak tidak secara langsung mengarahkannya pada kanvas dan cat. Namun, panggilan jiwa untuk mengabadikan keindahan alam yang mengelilinginya rupanya lebih kuat dari bangku sekolah teknik. Menikah dengan Yeni Nofita dan dikaruniai empat orang anak.
Perjalanan artistik Isral Dinata merupakan kisah tentang eksplorasi dan penemuan jati diri. Setelah menamatkan STM, sebuah fase perantauan ke Bogor dan Pakanbaru menjadi titik balik penting. Di Bogor, ia berkesempatan belajar teknik melukis dari Indra Maiyeldi, seorang pelukis yang disebut beraliran naturalisme. Pengalaman ini kemungkinan besar menjadi fondasi awal ketertarikannya pada representasi realistik dalam seni lukis. Kemudian, kepindahannya ke Pakanbaru dan bekerja di bidang periklanan, justru semakin mengasah kemampuan menggambarnya, terutama melalui teknik air brush yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia advertising. Pengalaman dengan air brush memberikan Isral pemahaman mendalam tentang presisi dan detail dalam menciptakan gambar. Teknik ini, yang mengandalkan tekanan udara untuk menyemprotkan cat, memberikannya keahlian dalam menghasilkan gradasi warna yang halus dan efek visual yang menarik. Namun, di balik kepraktisan dan efisiensi air brush, Isral merasakan adanya kerinduan untuk berinteraksi lebih langsung dengan medium lukis. Ia melihat lukisan cat minyak memiliki gengsi dan tantangan tersendiri, sebuah medium yang memungkinkan sentuhan personal dan eksplorasi tekstur yang lebih kaya. Sejak kelas 1 STM pada tahun 1988, ia mulai mempelajari seluk-beluk cat minyak secara otodidak, sebuah bukti dari semangat belajarnya yang tak pernah padam.
Keputusan Isral untuk beralih ke cat minyak dan memfokuskan diri pada aliran naturalisme merupakan sebuah pilihan yang konsisten dengan latar belakang dan pengamatannya terhadap lingkungan sekitarnya. Baginya, pemandangan alam Payakumbuh dan Lima Puluh Kota adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering. Ia meyakini bahwa alam adalah tempat terindah yang diberikan tuhan kepada makhluknya di muka bumi ini. Keyakinan ini tercermin jelas dalam setiap goresan kuasnya. Lukisan-lukisannya bukan sekadar representasi visual, tetapi juga sebuah bentuk apresiasi mendalam terhadap keagungan ciptaan Tuhan. Dan sebagai seorang penganut aliran naturalisme, Isral Dinata berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar seperti proporsi, anatomi, perspektif, dan teknik pewarnaan yang akurat. Tujuannya untuk menghasilkan lukisan yang semirip mungkin dengan objek yang ia lihat dan rasakan. Melalui karyanya, ia tidak hanya menghadirkan keindahan visual alam Sumatera Barat, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang perlunya menjaga dan merawat kekayaan alam tersebut untuk generasi mendatang. Lukisan-lukisannya seolah menjadi jendela yang mengajak kita untuk lebih peka terhadap keindahan yang ada di sekitar.
Perjalanan Isral Dinata dari seorang siswa STM hingga menjadi pelukis otodidak yang telah memamerkan karyanya di Sumatera Barat dan Riau adalah sebuah inspirasi. Keputusannya untuk meninggalkan kenyamanan teknik air brush dan menantang dirinya dengan cat minyak di atas kanvas menunjukkan keberanian dan keyakinan pada potensi dirinya. Ia membuktikan bahwa bakat dan dedikasi, meskipun tanpa pendidikan formal di bidang seni, dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian yang membanggakan. Studio lukisnya di Balai Gadang Payakumbuh menjadi saksi bisu dari proses kreatifnya, tempat di mana keindahan alam Payakumbuh dan sekitarnya diabadikan dalam sapuan-sapuan kuas yang penuh cinta.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh