Jumatul Khaira
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, warisan budaya tradisional seringkali tergerus oleh arus perubahan. Namun, di Balai Cacang, Nagari Koto Nan Gadang, Payakumbuh, seorang perempuan bernama Jumatul Khaira (61 tahun) berdiri teguh sebagai penjaga terakhir warisan tenun khas daerahnya. Lahir dan besar di lingkungan yang kental dengan tradisi menenun, Jumatul Khaira mewarisi keahlian ini secara turun temurun, menjadikannya satu-satunya penenun yang masih produktif hingga saat ini.
Tradisi menenun di Balai Cacang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakatnya, di mana hasil tenunan masyarakat Balai Cacang tahun 1895 masih ada hingga kini. Pada masa kejayaannya, sekitar tahun 1970-an, terdapat 10 penenun yang aktif menghasilkan kain untuk pakaian adat Nagari Koto Nan Gadang. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah ini terus menyusut, hingga pada tahun 2000-an hanya tersisa tiga orang. Kini, hanya Jumatul Khaira yang setia menjaga api tradisi ini. Sejak tahun 1974, Jumatul Khaira telah menekuni dunia tenun, meneruskan keahlian yang diwariskan oleh leluhurnya. Karya-karyanya meliputi berbagai jenis tenunan, seperti Sandang Goboh, Sandang Cukia Ayam, Sandang Kain Kuriak, Sandang Cukia Kuniang, Salendang, dan Takuluak Kuniang. Setiap produk yang dihasilkan memiliki ragam motif dengan filosofi mendalam, mencerminkan nilai-nilai adat basandi syara', syara' basandi kitabullah serta adat taturik, syara' tapakai. Pakaian tenun Koto Nan Gadang bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang dihormati dan digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti batagak penghulu dan perkawinan.
Namun, di balik keindahan karya-karyanya, Jumatul Khaira menghadapi tantangan besar. Ia bekerja seorang diri di lingkungan rumahnya, di sebuah gudang yang kurang layak, dengan peralatan tenun tradisional sepanjang 10 meter. Kondisi ini mencerminkan minimnya dukungan dan perhatian terhadap pelestarian warisan budaya ini. Kelangkaan penenun di Balai Cacang menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan tradisi tenun yang berharga ini. Keberadaan Jumatul Khaira sebagai satu-satunya penenun aktif di Balai Cacang adalah bukti nyata dari ketekunan dan kecintaannya terhadap warisan budaya. Di tengah keterbatasan, ia terus berkarya, menghasilkan tenunan yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna. Namun, perlu adanya upaya bersama dari berbagai pihak untuk memastikan bahwa warisan tenun Balai Cacang tidak punah. Dukungan terhadap Jumatul Khaira dan upaya regenerasi penenun muda sangat penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh