Catatan tentang Makanan, Tubuh, dan Diri
Oleh Adal Bonai

Sudah jalan 7 tahun, saya berhenti mengonsumsi ayam dan daging. Bukan karena ingin dianggap saleh, bukan pula karena sedang mengikuti tren gaya hidup tertentu. Saya melakukannya karena tubuh saya sendiri yang berbicara dan saya akhirnya mau mendengarkannya. Setelah 2018 saya mengidap TBC dan 9 bulan konsumsi obat rutin, di Oktober 2020 sayang diserang penyakit tukak lambung, 3 minggu lamanya saya meringis menahan perih dan darah hitam yang keluar setiap buang air besar.
Perubahannya sederhana tapi nyata, tubuh terasa lebih ringan. Pikiran lebih jernih, tidur lebih dalam. Tidak ada lagi rasa berat di perut setelah makan, tidak ada lagi kantuk yang datang tiba-tiba di siang hari. Ini bukan klaim spiritual yang muluk-muluk, ini pengalaman fisiologis yang saya rasakan sendiri, hari demi hari.
Saya ingin menegaskan satu hal di awal, ini bukan soal fanatisme. Saya tidak sedang mengklaim bahwa tidak makan daging adalah kewajiban agama, atau bahwa orang yang masih makan daging melakukan sesuatu yang salah. Ini adalah pilihan personal yang lahir dari pemulihan tukak lambung dan TBC, pilihan itu menemukan gemanya dalam Al-Qur'an.
Dalam Surah 'Abasa ayat 24, Allah berfirman:
"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya."
Satu ayat pendek, tapi maknanya dalam sekali direnungkan. Kata "fal-yanzhur" hendaklah memperhatikan, bukan sekadar perintah untuk melihat sepintas. Dalam tradisi tafsir, ini adalah ajakan untuk tadabbur: merenung, mengamati dengan saksama, memikirkan asal-usul dan proses dari apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Ayat-ayat setelahnya (25–32) melanjutkan dengan menjelaskan proses panjang di balik makanan, air yang diturunkan, tanah yang dibelah, biji-bijian yang tumbuh, hingga menjadi rezeki bagi manusia dan hewan ternak.
Yang menarik, ayat ini turun bukan dalam konteks fikih halal-haram semata. Ia turun sebagai teguran kepada manusia yang lalai dan makanan dijadikan contoh konkret dari kelalaian itu. Berapa banyak dari kita yang makan tiga kali sehari tanpa pernah benar-benar "memperhatikan" apa yang kita makan? Dari mana asalnya, bagaimana ia diproses, apa yang dilakukannya pada tubuh dan jiwa kita? ini adalah bagian perjalanan saya di laboratorium psikologi manusia Cipinang.
Bagi saya, ayat ini menjadi semacam undangan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menghakimi pilihan makan orang lain, tapi untuk jujur pada diri sendiri: apakah pola makan saya selama ini benar-benar saya pilih dengan sadar, atau hanya kebiasaan yang saya warisi tanpa pernah dipertanyakan?
Saya hidup di zaman ketika makanan lebih mudah didapat daripada kapan pun dalam sejarah manusia tapi anehnya, penyakit yang berkaitan dengan makanan juga makin banyak. Diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, gangguan ginjal, bahkan gangguan suasana hati, semuanya punya benang merah dengan apa yang kita taruh di piring setiap hari.
Ini bukan kebetulan. Pola makan modern yang tinggi daging olahan, tinggi gula, tinggi lemak jenuh, rendah serat dan sayuran segar, menciptakan beban peradangan kronis dalam tubuh yang perlahan-lahan mengikis kesehatan. Riset di bidang nutritional psychiatry bahkan menunjukkan bahwa apa yang kita makan memengaruhi kesehatan mental, usus dan otak berbicara satu sama lain lewat jalur yang kini dikenal sebagai gut-brain axis.
Sekarang, dalam pekerjaan saya mendampingi orang-orang yang sedang berjuang dengan trauma dan pemulihan, saya melihat pola ini berulang: tubuh yang tidak dirawat dengan baik menjadi tanah yang subur bagi kecemasan, kelelahan kronis, dan ketidakstabilan emosi. Ini sejalan dengan kerangka lima dimensi yang saya kembangkan di ROE yaitu Jasad (tubuh), Aql (akal), Nafs (jiwa/ego), Qalb (hati), dan Roh (ruh) semuanya saling terhubung. Jasad yang sakit akan membebani Qalb. Qalb yang gelisah akan mengaburkan Aql. Semua dimensi ini adalah satu kesatuan, bukan kotak-kotak terpisah.
Berhenti makan daging bukanlah solusi tunggal untuk semua penyakit ini. Tapi memperhatikan makanan seperti yang diperintahkan ayat 'Abasa adalah langkah pertama yang sangat mendasar. Ia mengembalikan kita pada kesadaran, pada pilihan sadar, alih-alih makan secara otomatis tanpa refleksi.
Ada satu hal yang saya sadari dalam perjalanan sehat ini: mengubah pola makan tidak akan bertahan lama kalau ia lahir dari rasa bersalah atau kebencian pada diri sendiri. Banyak orang mencoba "hidup sehat" dengan cara menghukum tubuhnya seperti diet ekstrem, olahraga berlebihan, atau kritik batin yang tak henti-henti. Cara ini biasanya gagal, karena fondasinya keliru.
Yang bertahan adalah perubahan yang lahir dari kasih sayang pada diri sendiri. Saya berhenti makan daging bukan karena membenci tubuh saya yang dulu, tapi karena saya mulai menyayanginya dan ingin merawatnya, ingin mendengarkannya, ingin memberinya yang terbaik yang saya mampu.
Dalam Islam, tubuh adalah amanah. Ia bukan milik kita sepenuhnya untuk diperlakukan sembarangan, tapi juga bukan musuh yang harus ditaklukkan dengan kekerasan. Ia dirawat dengan kasih, sebagaimana kita merawat titipan yang berharga. Rasa sayang pada diri sendiri inilah yang menjadi jangkar ketenangan karena ketika kita berdamai dengan tubuh dan pilihan-pilihan kita, gelisah yang selama ini bersarang di dada perlahan mereda.
Ketenangan hidup, saya percaya, tidak datang dari kesempurnaan pola makan atau gaya hidup yang paling "benar" menurut standar siapa pun. Ia datang dari kejujuran mendengarkan tubuh, kesediaan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri, dan yang paling penting: kelembutan pada diri sendiri di sepanjang proses itu.
"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya."
Mungkin, di balik ayat pendek ini, ada undangan yang jauh lebih besar: untuk memperhatikan diri kita sendiri seutuhnya tubuh, hati, dan jiwa dengan penuh kasih.
Adal Bonai adalah pendiri ROE (Recovery Oriented Education), yang mengintegrasikan psikoterapi Islam, kearifan budaya Minangkabau, dan pendekatan berbasis trauma dalam pendampingan pemulihan.