Nova: Menjaga Memori Kolektif dan Penjaga Cagar Budaya Luhak Limo Puluah
Bagi sebagian orang, kebudayaan adalah masa lalu yang statis. Namun bagi Nova, kebudayaan Minangkabau adalah denyut nadi, identitas yang hidup, dan kompas masa depan. Lahir di Kota Payakumbuh pada 19 Juli 1982, perempuan yang mendedikasikan hidupnya sebagai peneliti kebudayaan ini adalah wujud nyata dari kecintaan tak bersyarat pada ranah bundo. Cinta itu tidak sekadar mewujud dalam lembar-lembar naskah akademik, melainkan terpancar langsung dari caranya berbusana sehari-hari dan karya-karya nyata yang ia tinggalkan untuk generasi mendatang.
Didikan Buya dan Akar Transnasional
Pondasi kecintaan Nova pada dunia literasi dan kebudayaan diletakkan oleh sang kakek (angku), Buya Imam Ma’az—sosok maestro yang dikenal sejarah sebagai penulis, perancang, sekaligus pendesain pertama lambang daerah Padang Pariaman, "Sabiduak Sadayuang". Pada tahun 1995, sang Buya mulai menggembleng Nova remaja, mengajarkannya cara mencintai kebudayaan lewat kekuatan narasi, menuangkannya ke dalam bait-bait kaba dan tulisan yang menyentuh.
Penelitian pertamanya pun dilakukan bahu-membahu bersama sang kakek. Sebuah pencarian akar sejarah yang visioner, meneliti genealogi nenek moyang mereka yang memiliki tautan sejarah transnasional dengan Gujarat (India), Arab, serta Belanda. Langkah awal ini memicu rasa ingin tahu yang tak bertepi. Pada tahun 2000, keseriusannya dalam metodologi penelitian kian meningkat tajam, hingga akhirnya sejak tahun 2013 hingga saat ini, Nova memutuskan untuk sepenuhnya fokus dan tenggelam dalam samudera pembahasan Budaya Minangkabau, termasuk mendokumentasikan sejarah perkeretaapian di Sumatera Barat yang sarat nilai historis.
Penyelamat Aset Sejarah Payakumbuh dan Lima Puluh Kota
Bukti cinta Nova pada tanah kelahiran bukan sekadar pemanis retorika. Pada tahun 2020, didorong oleh kekhawatiran akan hilangnya jejak sejarah kota, ia menawarkan diri secara sukarela untuk menjadi pendata objek cagar budaya di Kota Payakumbuh. Hasil dari kerja senyap dan melelahkan itu berbuah manis: 34 objek cagar budaya berhasil dihimpun dan secara resmi disahkan oleh pemerintah setempat.
Reputasi dan ketajaman analisisnya di lapangan menarik perhatian pengambil kebijakan. Pada tahun 2023, Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota saat itu, Sagaruddin Dt. Bandaro Rajo, SH, secara personal menghubungi Nova melalui pesan singkat. Beliau menantang Nova untuk mengikuti ujian kompetensi sertifikasi ahli di Jakarta. Panggilan tugas itu dijawabnya dengan pembuktian berkelas: Nova lulus dan secara resmi menyandang gelar Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kiprahnya di dalam Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten melahirkan lompatan besar. Di bawah kawalan keahliannya, sebanyak 12 Cagar Budaya Kabupaten berhasil ditetapkan, dan kini 4 cagar budaya di antaranya sedang diusulkan untuk naik peringkat menjadi Cagar Budaya Tingkat Provinsi. Puncaknya, pada bulan Juni 2026, salah satu buah dedikasi timnya, yakni Masjid Tuo Ampang Gadang, secara resmi diresmikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia—sebuah pengakuan tertinggi di tingkat nasional bagi kerja keras pelestarian budaya di daerah.
Pena yang Tajam dan Mentalitas Baja Kopassus
Jauh sebelum dikenal sebagai ahli cagar budaya, Nova adalah seorang jurnalis dan penulis yang piawai menangkap estetika lewat kata. Pada tahun 2011, tulisan mendalamnya tentang keindahan arsitektur dan nilai historis Pusat Dokumentasi Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang mengantarkannya meraih Jurnalis Award dari PPWI Nasional.
Penghargaan tersebut membuka pintu bagi pengalaman yang teramat langka bagi seorang perempuan sipil. Nova terpilih sebagai satu-satunya perwakilan perempuan untuk mengikuti Diklat Kepemimpinan Kemiliteran di markas komando pasukan elite, Cijantung Kopassus. Di lingkungan militer yang keras, mentalitas Nova justru bersinar terang. Ia sukses menyabet gelar Juara 1 Penembak Jitu (Sharpshooter) di Markas Kopassus dan meraih Nilai Tertinggi Turun Repling 50 Meter. Pengalaman ini menempa Nova menjadi pribadi yang tidak hanya anggun secara kultural, tapi juga memiliki ketahanan mental dan kedisiplinan tingkat tinggi.
Jiwa Estetik yang Terus Menorehkan Prestasi
Sisi maskulin dari markas komando tidak melunturkan kelembutan jiwanya dalam merangkai sastra. Nova tetaplah seorang sastrawan berbakat. Ia tercatat sebagai Juara Nasional Lomba Menulis Cerpen.
Kecintaannya pada tokoh bangsa juga ia tuangkan dalam untaian bait puisi. Pada tahun 2023, Nova terpilih sebagai penulis puisi dengan nilai tertinggi—mengantongi 831 poin dan menyisihkan 75 penulis lainnya—dalam ajang kepenulisan tentang Bung Hatta yang digelar oleh UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, salah satu unit pelaksana teknis Perpustakaan Nasional RI. Setahun kemudian, pada 2024, dedikasinya dalam merefleksikan pemikiran sang Proklamator membuatnya didaulat sebagai Tokoh Story Impact pada kegiatan Workshop Menulis Puisi Ke-Bung Hatta-an.
Nova adalah anomali yang indah: ia adalah perpaduan antara ketajaman pena seorang jurnalis, kedalaman rasa seorang penyair, ketelitian seorang peneliti cagar budaya, dan ketangguhan mental seorang penembak jitu. Di pundaknya, masa lalu Minangkabau tidak sekadar menjadi cerita pengantar tidur, melainkan sebuah warisan agung yang terdokumentasi, dilindungi, dan dihormati oleh zaman.

Super sekali Bundo....
Ditunggu gebrakan selanjutnya.... 😊😊😊