Irawati: Menenun Mimpi, Membangun Negeri dari Jantung Payakumbuh
Keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman adalah garis pembatas antara mereka yang biasa-biasa saja dan mereka yang luar biasa. Bagi Irawati, seorang srikandi pengembang properti terkemuka di Kota Payakumbuh, keberanian itulah yang mendikte jalan hidupnya. Dari seorang pegawai bank di perantauan hingga menjadi nahkoda perusahaan perumahan yang disegani, perjalanan hidup perempuan kelahiran Kampung Tangah, 22 Januari 1969 ini adalah sebuah refleksi dari kerja keras, intuisi bisnis, dan doa yang tak pernah putus.
Lahir dan dibesarkan dari pasangan bapak Anwar Dt. Bandaro (Alm) dan ibu Samsihar (Alm), Irawati mewarisi nilai-nilai keteguhan khas Minangkabau. Masa kecilnya dihabiskan dengan berpindah-pindah demi menuntut ilmu. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDN Talang Maur, Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 1982. Langkah kakinya kemudian membawa Irawati remaja ke Tanah Datar untuk bersekolah di SMPN Lima Kaum Batusangkar (tamat 1985), sebelum akhirnya kembali ke Payakumbuh dan menamatkan masa seragam putih-abu-abunya di SMAN 3 Payakumbuh (Bukit Sitabuah) pada tahun 1988.
Ketertarikannya pada pemetaan dan lanskap wilayah membimbingnya masuk ke IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang). Di sana, ia mendalami bidang Geografi hingga meraih gelar sarjana pada tahun 1992. Siapa yang menyangka, latar belakang keilmuan tentang ruang dan bumi ini kelak menjadi modal intuisi yang tajam dalam melihat potensi lahan di masa depan.
Melompat Keluar dari Kenyamanan Korporat
Awal karier Irawati justru dimulai di dunia perbankan, sebuah industri yang menuntut ketelitian tinggi dan pelayanan prima. Pada awal tahun 1995, ia merantau ke Pulau Batam dan bergabung dengan Bank BNI. Selama lima tahun, ia berada di garda depan (front line)—mengemban tugas sebagai Customer Service, Teller, hingga menangani urusan Luar Negeri (LN). Pengalaman di BNI inilah yang membentuk karakter Irawati menjadi pribadi yang komunikatif, peka terhadap kebutuhan nasabah, dan memahami regulasi finansial secara mendalam.
Namun, panggilan jiwa untuk berwirausaha rupanya jauh lebih kuat. Pada April 2000, di saat kariernya di dunia perbankan sedang mapan, Irawati mengambil keputusan besar: ia mengajukan pengunduran diri atas kemauan sendiri. Ia ingin menjadi kapten bagi kapalnya sendiri.
Dari Toko Material hingga Kontraktor Daerah
Kembali ke ranah bundo, Irawati memulai langkah bisnisnya dari bawah dengan mendirikan toko material bangunan di Padang Laweh, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota. Toko ini ia kelola dengan tekun selama 13 tahun (2000–2013). Dari bisnis ritel bahan bangunan inilah, ia mulai membaca peluang yang lebih besar.
Ia mendirikan perusahaan komanditer (CV) untuk melebarkan sayap ke dunia kontraktor. Irawati mulai bersinergi dengan dinas-dinas di pemerintahan kabupaten untuk menggarap berbagai proyek infrastruktur. Mulai dari pembangunan sekolah, fasilitas saniter (WC), jalan, perkantoran, hingga rumah dinas pernah disentuhnya. Lewat bisnis kontraktor ini, mentalitasnya sebagai pembangun fisik daerah benar-benar ditempa.
Lahirnya PT. Irawati Palano Jaya
Tahun 2013 menjadi batu loncatan terbesar dalam hidupnya. Mengandalkan pengalaman mengelola material dan proyek konstruksi, Irawati memutuskan masuk ke industri real estat—sebuah ranah yang saat itu masih sangat didominasi oleh kaum Adam di Payakumbuh. Ia mengibarkan bendera PT. Irawati Palano Jaya.
"Awalnya sangat berat. Banyak rintangan yang harus dihadapi karena ini merupakan tantangan baru yang bukan bidang yang sepenuhnya kami kuasai," kenangnya merefleksikan masa-masa awal transisi.
Namun, menyerah tidak pernah ada dalam kamus hidup seorang Irawati. Lewat kegigihan yang keras kepala, badai awal itu berhasil dilewati. Pada awal tahun 2016, roda perusahaan mulai berputar stabil. Karya monumental pertamanya lahir dengan tajuk Palano Residence di kawasan Talang, Payakumbuh Barat.
Keberhasilan proyek pertama ini menjadi pemicu efek domino. Setahun berselang, lahir Palano 2 yang lokasinya tak jauh dari proyek perdana. Kepuasan konsumen yang tinggi membuat permintaan terus mengalir, membawa PT. Irawati Palano Jaya merambah ke wilayah lain seperti Palano 3 di Limbukan, Payakumbuh Selatan. Hingga saat ini, Alhamdulillah, berkat tangan dinginnya, sudah ada 9 lokasi perumahan yang sukses dibangun dan dikembangkan.
Keseimbangan Hidup, Keluarga, dan Esensi Akhirat
Di balik kesuksesannya memimpin korporasi, Irawati adalah seorang ibu yang tangguh bagi ketiga buah hatinya: Nindy Naudira (29 tahun), Girez Rahmando S. (25 tahun), dan Muhammad Ikhlas S. (20 tahun). Bagi Irawati, anak-anak adalah jangkar sekaligus motivasi terbesar dalam setiap peluh keringat yang ia teteskan.
Di sela-sela kesibukannya yang padat, ia tetap menjaga kebugaran tubuhnya melalui olahraga. Tak hanya itu, ia dikenal memiliki hobi yang mulia: gemar berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang kasta. Baginya, berbisnis bukan sekadar mencari keuntungan materi, melainkan medium untuk memperluas silaturahmi dan menebar manfaat bagi masyarakat luas. Penjelajahannya ke berbagai negara seperti Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga menunaikan ibadah ke Arab Saudi, semakin membuka cakrawala berpikirnya dalam memandang dunia dan arsitektur kehidupan.
Saat menatap masa depan, impian Irawati tidak lagi muluk-muluk tentang kemegahan duniawi semata. Ia berharap bisnis perumahannya bisa terus tumbuh lebih sukses, seraya dikaruniai kesehatan lahir dan batin.
Bagi Irawati, setiap bata yang ia susun di dunia hanyalah jembatan untuk membangun rumah yang sesungguhnya di masa depan. Impian terbesarnya kini adalah menyiapkan sisa hidup dengan sebaik-baiknya agar bisa meraih kesuksesan yang hakiki, yakni sukses di akhirat kelak.
