Eri Nazar, Dari Mantan Sopir Angkot hingga Menjadi Pengusaha "Poultry Shop"
Garis hidup seseorang tidak ditentukan dari seberapa rendah ia memulai, melainkan dari seberapa tinggi ia berani bermimpi dan seberapa tangguh ia bertarung dengan keadaan. Bagi Eri Nazar, perjalanan hidupnya adalah sebuah epos tentang keteguhan hati. Lahir di tengah keterbatasan ekonomi dan hanya mengenyam pendidikan tamat tingkat Sekolah Dasar (SD), ia membuktikan bahwa keterbatasan ijazah bukanlah batas akhir untuk meraih kesuksesan.
Sepuluh Tahun Menjemput Takdir di Ibu Kota
Langkah besar hidupnya dimulai pada tahun 1987. Dengan modal keberanian yang membaja, Eri Nazar memutuskan merantau ke kerasnya Ibu Kota Jakarta. Di sana, ia menyambung hidup dengan menjadi sopir oplet—sebuah pekerjaan jalanan yang menuntut kerja keras fisik dan mental setiap harinya.
Selama 10 tahun mencicipi aspal Jakarta, Eri tidak sekadar memutar kemudi untuk mencari nafkah pas-pasan. Ia memanfaatkan momentum tersebut untuk menyerap ilmu kehidupan. Di masa-masa itulah, ia berguru langsung pada filosofi berusaha dari bosnya, Harianto—sosok yang di kemudian hari bertransformasi menjadi maestro transportasi nasional pemilik PO. Haryanto. Dari sang mentor, Eri belajar tentang arti konsistensi, kejujuran, dan bagaimana mengelola usaha dari bawah.
Pulang Kampung dan Babak Baru di Pasar Ibuah
Tahun 2004 menjadi titik balik bagi Eri Nazar. Ia memilih menyudahi petualangan rantaunya dan kembali ke tanah kelahiran, Payakumbuh. Memulai segalanya kembali dari titik nol, Eri tidak gengsi melakoni pekerjaan apa saja demi menyambung hidup; mulai dari menjadi tukang hingga pekerja serabutan lainnya.
Titik terang mulai tampak menjelang momen sakral dalam hidupnya. Sebulan sebelum mempersunting belahan jiwanya, Refi Jamal, Eri Nazar dengan jeli melihat peluang di Pasar Ibuah, pusat urat nadi perekonomian Payakumbuh. Di sinilah ia mulai merintis lapak dagangnya. Di lingkungan pasar yang egaliter ini pula, ia akrab dan dikenal luas oleh sesama pedagang dengan sapaan hangat: Eri Sauak.
Menenun Sukses Bersama Keluarga
Tepat pada 11 Februari 2005, Eri Nazar resmi menikah dengan Refi Jamal. Pernikahan ini membawa berkah dan energi baru bagi bisnisnya. Hanya seminggu setelah hari bahagia tersebut, sang istri langsung turun ke pasar, berdiri bahu-bahu bersama Eri untuk mengelola usaha dagang ayam mereka.
"Kehadiran keluarga dan dukungan istri adalah pilar utama yang mengubah peluh menjadi berkah."
Ketekunan pasangan ini dalam melayani pelanggan di Pasar Ibuah membuahkan hasil manis. Dari yang awalnya hanya sekadar lapak dagang ayam eceran, usaha mereka terus bertumbuh secara konsisten. Kini, berkat kerja keras yang tidak pernah mengkhianati hasil, Eri Nazar telah bertransformasi menjadi salah satu pengusaha mapan di bidang Poultry Shop (penyedia kebutuhan peternakan dan unggas) di Payakumbuh.
Dari seorang sopir angkot yang menghabiskan hari di jalanan, Eri Nazar kini berdiri tegak sebagai bukti hidup bahwa rezeki dan kesuksesan adalah milik mereka yang berani bertarung tanpa henti, menjaga integritas, dan selalu melibatkan doa dalam setiap ikhtiarnya.
