Andropause, Mengenal Menopause Pada Pria
Sekitar 2 tahun lalu ada sepasang suami istri yang datang ke tempat saya. Suaminya usia 44 tahun, istrinya 37 tahun. Beliau cerita gairah seksualnya menurun, ereksinya jadi lebih jarang tanpa rangsangan, atau susah mempertahankan ereksi. Badan juga terasa lebih cepat lelah, kurang semangat, susah konsentrasi, gampang marah, dan suasana hati naik-turun.
"Uda lah menopause, andropause namonyo da!" (Kalau perempuan menopause, kalau laki-laki namanya andropause!) Andropause memang istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan perubahan fisik, seksual, dan emosional yang terjadi pada pria seiring bertambahnya usia. Kondisi ini kadang disebut "menopause pada pria," tapi sebenarnya andropause itu beda dengan menopause pada perempuan.
Kalau pada perempuan, menopause ditandai dengan berhentinya menstruasi dan penurunan hormon tertentu yang cukup jelas. Sedangkan pada pria, kadar hormon testosteron biasanya menurun secara perlahan-lahan selama bertahun-tahun. Tidak semua pria mengalami gejala yang sama, karena prosesnya bertahap. Salah satu tandanya adalah stamina pria yang menurun.
Testosteron adalah salah satu hormon paling penting buat kesehatan pria. Hormon ini berperan mengatur gairah seksual, produksi sperma, kekuatan otot, kepadatan tulang, pertumbuhan rambut, suasana hati, dan tingkat energi.
Kadar testosteron memang bisa turun seiring bertambahnya usia. Tapi, penurunan testosteron karena faktor usia tidak selalu berarti seseorang sedang sakit. Dalam dunia medis, kondisi yang benar-benar berkaitan dengan rendahnya kadar testosteron biasa disebut hipogonadisme atau defisiensi testosteron. Diagnosisnya tidak cuma dilihat dari usia dan keluhan saja, tapi harus dipastikan lewat pemeriksaan dokter dan tes darah, supaya solusinya bisa tepat sasaran.
Perubahan fisik juga bisa muncul, misalnya berkurangnya massa dan kekuatan otot, bertambahnya lemak tubuh, berkurangnya pertumbuhan rambut, serta kepadatan tulang yang menurun. Dalam beberapa kasus, pria bisa mengalami pembesaran jaringan payudara, gangguan kesuburan, rasa panas di tubuh, dan perut yang membesar.
Tapi perlu diingat, gejala-gejala ini nggak selalu disebabkan oleh rendahnya testosteron. Keluhan serupa juga bisa muncul akibat kurang tidur, stres, masalah hubungan, kecemasan, depresi, obesitas, diabetes, efek samping obat, atau penyakit lainnya. Jadi, kalau muncul gejala-gejala tertentu, bukan berarti otomatis kena andropause.
Menjaga pola hidup sehat bisa membantu tubuh tetap bugar dan mengurangi keluhan-keluhan tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, makan makanan bergizi, tidur cukup, mengurangi alkohol, berhenti merokok, dan mengelola stres dengan baik.
Dari sisi kesehatan, masalah-masalah seperti diabetes, obesitas, gangguan tidur, depresi, atau penyakit kronis lainnya juga perlu ditangani dengan baik. Dalam banyak kasus, memperbaiki kesehatan secara keseluruhan bisa membantu meningkatkan energi, suasana hati, dan fungsi seksual.
Sebagai praktisi wellness, saya membantu klien mengubah gaya hidup dengan cara yang sederhana dan bisa dilakukan di rumah. Mulai dari mengubah pola makan ke arah plant-based (karena bahannya bisa dibeli di pasar tradisional atau ditanam sendiri), olahraga kardio dan latihan beban, puasa untuk membantu tubuh memperbaiki dirinya sendiri, sampai menjaga pola tidur yang teratur.
Wajar kalau tubuh berubah seiring bertambahnya usia. Tapi, kelelahan yang berkepanjangan, disfungsi seksual, perubahan suasana hati, atau menurunnya kekuatan tubuh, itu semua nggak perlu diterima begitu saja, karena banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu meningkatkan kembali hormon testosteron.
Saya selalu menyarankan klien untuk melakukan pemeriksaan yang teliti, cek laboratorium, supaya penyebab keluhan bisa diketahui lebih awal dan ditangani dengan tepat. Penting bagi pria untuk tetap aktif, mandiri, dan menikmati kualitas hidup yang baik di usia senja. Gaya hidup sehat, pemeriksaan rutin, dan keterbukaan membicarakan perubahan kondisi tubuh dengan dokter, semua itu adalah langkah-langkah penting.
Langkah-langkah tersebut perlu jadi bagian dari budaya mempersiapkan hari tua, bukan sekadar upaya mencegah penyakit. Masa lanjut usia seharusnya disambut dengan tubuh yang terawat, pikiran yang sehat, dan kehidupan yang tetap produktif bukan dengan pasrah menghadapi berbagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah atau dikendalikan sejak dini. Semuanya adalah pilihan.
Adal Bonai adalah pendiri ROE (Recovery Oriented Education), yang mengintegrasikan psikoterapi Islam, kearifan budaya Minangkabau, dan pendekatan berbasis trauma dalam pendampingan pemulihan.
