Payakumbuh Memacu Mutu Perpustakaan Sekolah
PAYAKUMBUH, 13/05/2026 – Di tengah tantangan rendahnya minat baca
nasional, Pemerintah Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, mulai membenahi
hulu literasi: perpustakaan sekolah. Dengan kondisi mayoritas
perpustakaan yang belum memenuhi standar nasional, pembenahan kualitas
layanan kini dipacu demi memastikan hak siswa atas akses bacaan yang
bermutu terpenuhi.
Payakumbuh melalui Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Payakumbuh, pemerintah setempat menggelar Sosialisasi
dan Advokasi Akreditasi Perpustakaan 2026. Langkah ini menjadi upaya
akselerasi setelah mencermati data yang timpang. Berdasarkan catatan
aplikasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas), dari 121 perpustakaan
sekolah di Payakumbuh, baru tiga sekolah yang memegang sertifikat
akreditasi resmi.
Ketiganya adalah SMK Negeri 2 Payakumbuh
(Akreditasi B), serta SD Negeri 21 dan SD Negeri 49 Payakumbuh yang
masing-masing mengantongi Akreditasi C.
Melihat kenyataan
tersebut, Pemkot Payakumbuh mematok target ambisius untuk melahirkan
minimal 20 perpustakaan sekolah terakreditasi baru pada tahun ini. Fokus
utama diarahkan pada jenjang sekolah dasar (SD/MI) sebagai fondasi awal
pembentukan karakter literasi anak.
Kepala Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, yang hadir mewakili Walikota dalam
pertemuan di Aula Lantai III dinas tersebut, Rabu (13/5/2024),
menekankan bahwa akreditasi bukanlah sekadar perburuan status
administratif.
"Ini adalah ikhtiar untuk memastikan warga sekolah
mendapatkan layanan perpustakaan yang bermutu. Kita tidak bicara soal
sertifikat di atas kertas, tapi soal standar kualitas yang harus
dirasakan langsung oleh siswa," ujar Erwan di hadapan 70 kepala sekolah
dan pengelola perpustakaan.
Pembenahan ini memerlukan kerja keras
lantaran standar yang ditetapkan cukup maksimal. Kepala Bidang
Perpustakaan Kota Payakumbuh sekaligus Ketua Pelaksana Kegiatan, Rudi
Arnel, memaparkan ada enam komponen instrumen yang menjadi tolok ukur
kelayakan sebuah perpustakaan di antaranya koleksi, sarana dan
prasarana, pelayanan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan, dan
pengelolaan.
Untuk membedah teknis pemenuhan bukti fisik
tersebut, pemerintah menghadirkan narasumber ahli, Muhammad Fadli,
S.Sos, M.I.Kom, yang merupakan tim asesor perpustakaan. Kegiatan ini
dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik 2026 sebagai bagian
dari peta jalan visi "Payakumbuh Maju Bermartabat".
Pemerintah
menyadari bahwa Dinas Perpustakaan dan Arsip tidak bisa berjalan
sendiri. Kolaborasi dengan Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, serta
Cabang Dinas Wilayah IV menjadi kunci untuk mengawal proses ini hingga
ke akar rumput.
Diharapkan, transformasi perpustakaan sekolah ini
mampu mendongkrak Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan
Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di Payakumbuh. Pada akhirnya,
perpustakaan diharapkan kembali menjadi jantung sekolah—bukan sekadar
gudang buku yang sunyi, melainkan ruang tumbuh bagi nalar dan imajinasi
generasi masa depan.
