Kecamatan Bukik Barisan: Peradaban Purba di Lembah Maek, Baruah Gunuang pada Masa PDRI, Tembakau Legendaris dari Bukik Barisan


 Di kecamatan Bukik Barisan, tepatnya di Nagari Maek, merupakan sebuah lembaran sejarah yang hidup. Di lembah ini, waktu seolah berhenti, menyisakan ribuan batu tegak atau menhir yang menjadi saksi bisu peradaban zaman batu. Keberadaan menhir-menhir ini bukan sekadar pemandangan alam, melainkan sebuah kompleks pemakaman kuno yang masif, menandai bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat pemukiman manusia pada era megalitikum, sekitar 1.500 hingga 2.500 tahun sebelum Masehi.

Secara arkeologis, gugusan menhir di Nagari Maek adalah fenomena yang luar biasa karena kuantitas dan kualitasnya. Batu-batu ini tidak sekadar ditancapkan ke tanah secara acak. Mereka adalah simbol penghormatan terakhir bagi para leluhur, sebuah tanda kubur yang dirancang dengan penuh ketelitian. Setiap batu menyimpan fragmen kisah tentang bagaimana manusia purba di wilayah ini memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai transisi menuju alam yang berbeda namun tetap terhubung dengan dunia fisik.

Para arkeolog sering kali mengaitkan keberadaan situs ini sebagai akar purba dari budaya Minangkabau yang kita kenal sekarang. Menhir-menhir tersebut mencerminkan struktur sosial dan sistem kepercayaan yang terorganisir jauh sebelum pengaruh agama-agama besar masuk ke nusantara. Adanya ukiran dan pola tertentu pada permukaan batu menunjukkan bahwa masyarakat Maek pada masa itu telah memiliki apresiasi estetika dan kemampuan teknik yang mumpuni untuk membentuk batu keras menjadi karya seni monumental. Salah satu ciri paling mencolok dari menhir di Maek adalah bentuk puncaknya yang melengkung atau yang sering disebut dengan "keluk kepala menhir". Keluk ini secara konsisten mengarah ke satu titik geografis yang dominan: Gunung Sago. Fenomena ini bukanlah sebuah kebetulan artistik, melainkan sebuah pilihan teologis dan kosmologis yang sangat dalam. Gunung Sago, dengan tinggi 2.271 MDPL, berdiri megah di sebelah selatan Sungai Sinamar, menjadi mercusuar spiritual bagi masyarakat di Lembah Maek.

Hubungan antara menhir dan Gunung Sago menciptakan sebuah narasi geomorfologi yang unik. Meskipun jarak antara Lembah Maek dan Gunung Sago mencapai sekitar 85 kilometer, gunung tersebut tetap menjadi objek yang paling menonjol di antara jajaran Bukit Barisan yang bergerigi. Bagi masyarakat megalitik Maek, Gunung Sago kemungkinan besar dianggap sebagai tempat suci atau tempat bersemayamnya roh para leluhur, sehingga orientasi makam harus diarahkan ke sana demi menjamin ketenangan jiwa. Detail ornamen pada sejumlah menhir memperkuat teori koneksi gunung ini. Pada permukaan batu, sering ditemukan deretan motif segitiga tegak yang secara simbolis merepresentasikan barisan pegunungan. Dalam semiotika purba, segitiga adalah abstraksi dari gunung, unsur bumi yang paling dekat dengan langit. Penempatan motif ini pada batu nisan menunjukkan adanya sinkronisasi antara pengaturan alami batu dengan bentang alam di sekitarnya, mempertegas hubungan manusia dengan alam semesta.

Keunikan lainnya adalah konsistensi arah hadap seluruh kumpulan batu tersebut. Di Nagari Maek, ratusan menhir berdiri dalam barisan yang seolah-olah sedang melakukan penghormatan kolektif ke arah selatan. Sinkronisasi visual ini menciptakan aura magis yang kuat di lembah tersebut. Para ahli meyakini bahwa orientasi ini adalah bentuk "komunikasi visual" antara yang hidup, yang mati, dan kekuatan alam yang mereka agungkan. Situs Menhir Maek sendiri merupakan salah satu kumpulan megalitik terbesar di Asia Tenggara. Rentang usia menhir-menhir ini diperkirakan sangat luas, mulai dari 2.000 hingga bahkan 6.000 tahun sebelum Masehi menurut beberapa penelitian lebih lanjut. Rentang waktu yang panjang ini menunjukkan bahwa tradisi megalitik di Maek bukanlah budaya yang singkat, melainkan tradisi yang bertahan selama ribuan tahun, diturunkan dari generasi ke generasi dengan menjaga kesucian lokasi dan orientasi yang sama.

Keberadaan ribuan menhir ini memberikan makna berlapis: sebagai tanda makam, simbol penghormatan, dan manifestasi kepercayaan. Setiap batu mewakili satu nyawa yang pernah berdenyut di lembah ini, satu identitas yang dihargai oleh komunitasnya. Melalui batu-batu ini, kita dapat melihat betapa kuatnya rasa hormat masyarakat purba terhadap leluhur mereka, sebuah nilai yang hingga kini masih menjadi pilar utama dalam tatanan adat Minangkabau yang sangat menghargai garis keturunan dan sejarah. Dan memang, menhir-menhir yang menatap Gunung Sago bukan hanya peninggalan arkeologi, melainkan jembatan waktu yang menghubungkan manusia modern dengan akar budaya mereka. Menjaga dan memahami situs ini berarti menghormati perjalanan panjang identitas kita sebagai bangsa yang memiliki kedalaman sejarah yang luar biasa di jantung Bukit Barisan.

 

Baruah Gunuang pada Masa PDRI

Berdasarkan buku Baruah Gunuang Nagari di Atas Awan karya Kemala Ekspresi menuliskan bawah secara geografis, Baruah Gunuang dijuluki sebagai "Nagari di Atas Awan" karena letaknya yang berada di ketinggian jajaran Bukit Barisan. Lokasinya yang sering diselimuti kabut tebal menciptakan suasana magis yang menenangkan, menyerupai hawa sejuk kota Bogor. Letaknya yang terpencil di Kecamatan Bukit Barisan, berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasaman, menjadikannya sebuah benteng alam yang sulit ditembus, yang pada masa lalu memberikan keuntungan strategis sekaligus tantangan aksesibilitas bagi penduduknya.

Adapun peran strategis Baruah Gunuang pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948-1949 sebagai basis pertahanan yang aman bagi para pejuang kemerdekaan saat menghadapi Agresi Militer Belanda II. Keterpencilan wilayah ini justru menjadi penyelamat kedaulatan negara, di mana para tokoh bangsa dapat berlindung dan menyusun strategi demi mempertahankan eksistensi Republik yang kala itu sedang di ujung tanduk. Masa kejayaan komoditas perkebunan seperti tembakau yang pernah menjadi primadona dan kebanggaan warga setempat. Jejak-jejak kemakmuran dari hasil bumi ini digambarkan sebagai fondasi kehidupan sosial yang kuat, di mana kemandirian pangan dan ekonomi menjadi ciri khas masyarakat agraris di wilayah pegunungan tersebut.

Adapun pada ke era 1980-an hingga 1990-an, di masa itu, kendaraan yang mampu menaklukkan medan berat Baruah Gunuang hanyalah mobil Jeep Willis peninggalan perang atau kuda beban. Perjalanan menuju nagari ini digambarkan sebagai sebuah petualangan fisik yang menantang, memperlihatkan betapa terisolasinya wilayah ini sebelum pembangunan infrastruktur jalan modern masuk ke pelosok desa. Perubahan zaman membawa pergeseran pada jenis komoditas yang diusahakan masyarakat. Saat ini warga mulai beralih menanam jeruk, cokelat (kakao), dan cabai seiring dengan perubahan permintaan pasar dan kondisi lingkungan. Dinamika pertanian ini menunjukkan sifat adaptif penduduk Baruah Gunuang yang tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman, tetapi terus berinovasi untuk menjaga keber-langsungan ekonomi keluarga dan nagari.

Modernisasi yang masuk ke nagari ini digambarkan sebagai fenomena "Nagari Rasa Kota". Masuknya aliran listrik, jaringan internet, dan perbaikan infrastruktur jalan telah mengubah wajah Baruah Gunuang secara drastis. Meskipun secara administratif tetaplah sebuah nagari, fasilitas dan pola pikir masyarakatnya mulai terbuka dan terkoneksi dengan dunia luar, memperpendek jarak yang selama berpuluh tahun menjadi sekat pemisah.

 

Keluarga Mr. Moh Rasyid di Baruah Gunuang Pada Masa PDRI

Nagari Baruah Gunung terletak paling ujung di Kabupaten Lima Puluh Kota dengan Jorong terakhir yaitu Banda Raik dan Bukit Kam-buik. Berada di atas ketinggian Bukit Barisan yang berbatasan dengan Bonjol Pasaman, Koto Tinggi, Sungai Naniang, dan Hutan Riau yang di masa paderi menjadi jalur perlintasan ke Dalu-dalu Tambusai. Di Baruah Gunuang ini, Mr. Sutan Moh. Rasyid sebagai Gubernur Militer Sumatera Tengah serta Menteri PDRI menempatkan keluarganya. Keluarganya dititipkan di rumah Sainah yang terletak tidak jauh dari Pasar Baruah Gunung. Rumah itu masih ada sampai sekarang. Terletak di tepi jalan dengan model semi permanen (Ciswarman, 2018).

Tidak lama tinggal di sana, Mr. Sutan Moh. Rasyid memin-dahkan keluarganya di rumah Kina yang tidak jauh dari Masjid Raya Baruah Gunuang. Rumah itu beratapkan seng, berdinding papan dengan model rumah gaduang dengan warna cat biru laut. Dan rumah itu juga masih di tepi jalan (Rahimi Arif, 2018). Sebagaimana yang ditulis oleh Kemala Epresi, et. al. di buku PDRI di Luak Limo Puluah menjelaskan bahwa peristiwa pembom-bardiran Baruah Gunuang oleh Belanda di bulan April 1949 ketika di saat kebiasaan Mr. Sutan Moh. Rasyid menunggang kuda pulang dari Koto Tinggi ke Baruah Gunuang untuk melihat keluarganya setiap Sabtu dan kembali Senin pagi. Dan ketika Mr. Sutan Moh. Rasyid akan kembali ke Koto Tinggi yang baru sampai di Pintu Angin maka terdengarlah Belanda memun-tahkan mitraliur dari dua buah pesawat tempur untuk mencari sasaran keluarganya yang terletak di antara dua sekolah rakyat di sepanjang jalan Baruah Gunuang.

Sebagaimana yang disampaikan Rahimi Arif yang lahir tahun 1939, bekerja sebagai petani, saat itu sedang bersekolah di Isadul Watan, merasakan bagaimana gempuran hebat serangan Belanda. Salah seorang temannya di sekolah tersebut meninggal terkena muntahan peluru Belanda. Sekolah itu ketika saya lihat sudah tidak ada lagi. Lokasi sekolah sudah dipenuhi kebun coklat dan kelapa yang terletak di pendakian sebelum masjid raya.

                 Adapun masyarakat Baruah Gunuang pada hari senin pagi di bulan April itu berlarian menuju arah Kubu Baru dengan membawa apa saja yang bisa dibawa. Banyak masyarakat yang berlarian ke arah Kubu Baru yang terlihat mulai dari Masjid Raya Baruah Gunuang hingga sampai ke Batu Togak. Melihat serangan Belanda tersebut, Mr. Sutan Moh. Rasyid kembali ke Baruah Gunung untuk memberikan semangat kepada masyakatnya untuk terus membela tanah air. Dan pada sera-ngan Belanda itu membawa korban meninggal dunia sebanyak 5 orang dewasa dan satu orang anak sekolah (Kemala Epresi, 2008).  Setelah kejadian itu, Mr. Sutan Moh. Rasyid meninggalkan Baruah Gunung dan membawa keluarganya ke Sungai Naniang sedangkan  Mr. Teuku Moh. Hasan sejak awal sudah menitipkan keluarganya kepada Syekh Abbas Abdullah yang dirahasiakan keberadaannya di Padang Japang. Hal tersebut saya ketahui ketika melakukan wawancara dengan Kamardi Gaek Lamo asal Koto Kociak mantan Pasukan Semut ketika itu.

 

Tembakau Legendaris dari Bukik Barisan

Tembakau merupakan tanaman dari Genus Nicotiana yang daunnya biasa dikeringkan dan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti merokok, mengunyah, dan menghirup. Adapun tembakau untuk merokok adalah penggunaan yang paling umum. Daun tembakau dikeringkan, digiling, dan dibungkus dalam bentuk rokok atau cerutu. Merokok tembakau dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker paru-paru, penyakit jantung, dan stroke. Adapun Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu daerah penghasil tembakau utama di Sumatera Barat. Beberapa daerah utama penghasil tembakau itu yaitu Kecamatan Bukit Barisan merupakan sentra produksi tembakau jenis tembakau Payakumbuh dengan produksi tinggi. Nagari Baruah Gunung di kecamatan ini merupakan salah satu nagari penghasil tembakau terbesar.

     Selanjutnya adalah Kecamatan Gunuang Omeh dan Bukik barisan yang terkenal dengan varietas tembakau yang memiliki aroma khas dan rasa yang kuat. Selain itu ada juga Kecamatan Suliki yang menghasilkan tembakau dengan kualitas tinggi dan banyak diminati oleh industri rokok. Sedangkan kecamatan lainnya: Kapur IX, Harau, Lareh Sago Halaban, dan Pangkalan Koto Baru. Adapun jenis tembakau itu di antaranya tembakau Virginia yaitu jenis tembakau yang paling banyak ditanam di Lima Puluh Kota. Memiliki ciri khas rasa ringan dan aroma yang harum. Selanjutnya tembakau Burley yang memiliki ciri khas rasa yang kuat dan aroma yang khas. Dan juga tembakau Manis yang memiliki ciri khas rasa manis dan aroma yang harum.

     Selama ini, peran tembakau sangat erat dengan perekonomian petani tembakau. Sebab tembakau merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota. Dan tembakau merupakan komoditas utama bagi petani tembakau di Kabupaten Lima Puluh Kota, terutama di Kecamatan Bukit Barisan, Gunuang Omeh, Suliki, dan Kapur IX. Selain itu, budidaya tembakau membutuhkan banyak tenaga kerja, baik dari petani itu sendiri maupun dari masyarakat sekitar. Adapun dalam kegiatan panen, pengolahan, dan pemasaran tembakau juga menyerap banyak tenaga kerja. Diperkirakan bahwa sektor tembakau di Lima Puluh Kota mampu menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 20.000 orang.

     Produksi tembakau juga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Petani tembakau di Lima Puluh Kota membelanjakan pendapatan mereka untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, pakaian, dan pendidikan. Hal ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di daerah pedesaan di Lima Puluh Kota. Dan industri tembakau juga berkontribusi pada pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi. Dan pendapatan dari budidaya tembakau membantu meningkatkan kesejahteraan petani di Lima Puluh Kota. Petani tembakau mampu membangun rumah yang lebih layak, menyekolahkan anak-anak mereka, dan membeli kebutuhan hidup yang lebih baik. Dan tembakau membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di Lima Puluh Kota.

     Sedangkan untuk meningkatkan produksi tembakau di Kabupaten Lima Puluh Kota, yaitu dapat dilakukannya peningkatan kualitas benih. Di mana petani dapat menggunakan benih unggul bersertifikat yang tahan hama dan penyakit, serta memiliki potensi hasil tinggi. Lakukan juga pembibitan dengan metode yang tepat, seperti semai benih di persemaian yang terkontrol.

     Langkah selanjutnya juga dapat dengan melakukan pengolahan tanah yang baik, seperti pembajakan dan pencangkulan yang optimal untuk mempersiapkan lahan tanam. Gunakan pupuk organik dan anorganik secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Lakukan juga penyiangan gulma secara berkala untuk menghindari persaingan dengan tanaman tembakau. Serta lakukan juga pemantauan hama dan penyakit secara rutin untuk mendeteksi dini dan melakukan tindakan pengendalian yang tepat. Gunakan pestisida secara bijak dan sesuai dengan anjuran untuk menghindari resistensi hama dan penyakit.

     Sedangkan pengolahan pasca panen dapat melakukan panen tembakau pada saat yang tepat untuk mendapatkan kualitas terbaik. Lakukan pengeringan tembakau dengan cara yang tepat untuk menjaga kualitas dan mutu tembakau. Juga lakukan penyimpanan tembakau dengan cara yang tepat untuk menghindari kerusakan dan penurunan kualitas. Adapun untuk peningkatan kapasitas petani dapat di lakukan pelatihan dan penyuluhan kepada petani tentang teknik budidaya tembakau yang baik dan benar. Berikan akses kepada petani untuk mendapatkan informasi dan teknologi terbaru tentang budidaya tembakau. Dan fasilitasi petani untuk mendapatkan akses ke pasar dan permodalan.

     Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan bantuan subsidi pupuk dan pestisida kepada petani tembakau. Pemerintah dapat membangun infrastruktur irigasi untuk membantu petani dalam mengairi tanaman tembakau serta pemerintah dapat melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan varietas tembakau unggul yang tahan hama dan penyakit. Adapun pemerintah dan petani juga dapat menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk mendapatkan akses ke teknologi dan pasar yang lebih luas. Pihak swasta dapat memberikan bantuan modal dan pendampingan kepada petani tembakau. Dengan melakukan beberapa cara tersebut, diharapkan produksi tembakau di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat meningkat dan memberikan kesejahteraan bagi petani tembakau.

     Tembakau memiliki peran penting bagi perekonomian petani tembakau di Kabupaten Lima Puluh Kota. Tembakau menjadi sumber penghasilan utama, pencipta lapangan kerja, pendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Meskipun ada beberapa tantangan, peran tembakau di Lima Puluh Kota masih signifikan dan perlu dioptimalkan dengan solusi yang tepat. Adapun tantangan selama ini yaitu fluktuasi harga di mana harga tembakau di pasaran seringkali berfluktuasi sehingga dapat memengaruhi pendapatan petani. Selanjutnya perubahan iklim yang dapat memengaruhi kualitas dan hasil panen tembakau. Selain itu juga karena serangan hama dan penyakit di mana hama dan penyakit dapat menjadi ancaman bagi tanaman tembakau.

     Adapun kegunaan tembakau lainnya dapat dikunyah dalam bentuk daun tembakau yang dikeringkan atau produk tembakau tanpa asap lainnya. Adapun kandungan di dalam tembakau mengandung nikotin, yang merupakan zat adiktif. Nikotin dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, dan dapat menyebabkan kecanduan. Tembakau juga mengandung berbagai bahan kimia berbahaya lainnya, termasuk tar, karbon monoksida, dan formaldehida.

     Penggunaan tembakau dalam bentuk rokok dan cerutu diatur oleh berbagai peraturan di banyak negara. Peraturan ini dapat termasuk dalam larangan merokok di tempat umum, batasan usia untuk membeli produk tembakau, peningkatan pajak atas produk tembakau, kampanye kesadaran publik tentang bahaya tembakau. Dan bagi orang yang ingin berhenti merokok atau menggunakan tembakau, terdapat berbagai alternatif yang tersedia, seperti: terapi penggantian nikotin, obat-obatan, konseling, hypnosis, akupunktur.

Referensi Bacaan:

 

Wikipedia: Tembakau: https://id.wikipedia.org/wiki/Tembakau

Feni Efendi. 2019. Jejak yang Terlupakan: Menyusuri Jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam Menjalankan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Pada Masa Agresi Militer Kedua Belanda di Sumatera Tengah. Yogyajarta: JBS

Meracik Hidup dari Rajangan Tembakau Limapuluh Kota: https://sumbar.antaranews.com/berita/134639/meracik-hidup-dari-rajangantembakau-limapuluh-kota

Wikipedia. Menhir Maek. https://min.wikipedia.org/wiki/Menhir_Maek

Analisis Tingkat Produksi dan Tingkat Kelayakan Usaha Tani Tembakau (Nicotiana Tabacum) di Nagari Baruah Gunung Kecamatan Bukit Barisan Kabupaten Limapuluh Kota: https://media.neliti.com/media/publications/277337-analisis-tingkat-produksi-dan-tingkat-ke-ccf75470.pdf

https://forumsumbar.com/opini/212/baruah-gunuang-nagari-di-atas-awan/


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url