Lolos Tingkat Nasional, Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang Usung Inovasi Lingkungan dan Ekonomi
PAYAKUMBUH, — Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang memaparkan program inovasi terintegrasi dalam tahapan Wawancara Calon Juara Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026 di Balai Kota Payakumbuh, Rabu (7/10/2026). Terobosan yang diusung mencakup efisiensi pelayanan publik, pemanfaatan sampah organik, hingga pemberdayaan ekonomi sirkular.
Dalam pemaparan di hadapan tim penilai, Lurah Sawah Padang Aua Kuniang Deop Darius mengemukakan peningkatan kapasitas produksi pupuk kompos dari 300 kilogram menjadi 8 ton per minggu. Program pemilahan sampah organik ini mengurangi volume residu ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Payakumbuh hingga 2 ton per hari.
Di bidang administrasi, program digitalisasi Sapaku Kece memangkas durasi pelayanan publik dari 45 menit menjadi 10 menit. Layanan ini didukung integrasi data kependudukan Sang Utama serta penguatan jaringan serat optik wilayah.
"Setiap terobosan dirancang berbasis pemetaan kebutuhan warga agar memberikan dampak ekonomis langsung serta kepastian durasi pelayanan," kata Deop.
Pada sektor pertanian dan ekonomi lokal, pemanfaatan lahan tidur seluas 4,1 hektare menghasilkan nilai perputaran ekonomi mencapai Rp 318 juta melalui keterlibatan kelompok tani dan Dasawisma. Kelurahan ini juga menggerakkan kluster Kampung Bambu yang melibatkan 95 keluarga serta pusat budidaya Kampung Itik.
Di bidang kesehatan, intervensi penanganan tengkes (stunting) melalui Dapur Bunda Satya berhasil menekan kasus hingga berstatus bebas tengkes, diiringi pembenahan 15 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan pelacakan 144 terduga tuberkulosis.
Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman, yang mendampingi proses penilaian mewakili Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta, mengapresiasi tingginya partisipasi swadaya masyarakat yang mencatatkan nilai partisipasi hingga Rp 1,6 miliar.
"Pemerintah kota mendukung replikasi model tata kelola ini. Integrasi antara efisiensi birokrasi, penanganan sampah berbasis sumber, dan pemberdayaan akar rumput menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan kelurahan," ujar Elzadaswarman.
