Pacuan Kuda Fort de Kock dan Keikutsertaan Kuda-Kuda Pajacombo (1922)

 


  • Archief: Pajacombo.com 
  • Bron: delpher.nl

Ringkasan Isi Arsip

Dokumen arsip surat kabar ini mencatat laporan pertandingan pacuan kuda tahunan (Races te Fort de Kock) yang berlangsung pada tanggal 6 dan 7 Agustus 1922 di gelanggang pacuan kuda Fort de Kock (Bukittinggi).

Berita tersebut menyoroti antusiasme tinggi masyarakat Luhak Nan Tigo serta keterlibatan aktif kuda-kuda unggulan asal kawasan Pajacombo (Payakumbuh) dan sekitarnya yang berhasil meraih berbagai kemenangan dalam beberapa kategori lomba.

Catatan Hasil Lomba & Kuda Asal Pajacombo

Dalam daftar hasil kejuaraan hari pertama dan kedua (Eerste & Tweede Dag), tercatat beberapa nama kuda serta pemilik asal Pajacombo yang memenangkan hadiah dan piala:

    Deli-beker (Piala Deli):

  •  Juara 1: Kuda Tiga Loechak pemenang piala Calcutta dari Pajacombo dalam waktu 1 menit 4 detik.

    Agam-prijs (Hadiah Agam):

  • Juara 2: Kuda Genoen dari Pajacombo dalam waktu 1 menit 36 detik (piala Laurens dari Tanah Datar).

    Limburg Stirum-beker:

  • Juara 2: Kuda Nelly dari Padang.

    Te Hien-prijs:

  •    Juara 1: Kuda Genoen dari Pajacombo (piala Oelano Koto dari Fort de Kock).

    Manggani-prijs (Hadiah Manggani):

  • Juara 1: Kuda Pasir dari Fort de Kock (piala Dorenn dalam waktu 1 menit 35 detik).

    Minangkabau-beker (Piala Minangkabau):

  • Juara 1: Kuda Gewonnen dari Hitam Meri dalam waktu 2 menit 9 detik (piala Dorenn dari Fort de Kock).
  • Juara 2: Kuda Kelaboe Mata Aier dari Pajacombo.

    Sordagar Boekit Tinggi-prijs (Hadiah Saudagar Bukittinggi):

  •  Juara 1: Kuda Genoen dari Pajacombo.
  •  Juara 2: Kuda Kelaboe Mata Aier dari Pajacombo.

    Sardikat Adat-prijs (Hadiah Serikat Adat):

  • Juara 1: Kuda Kelaboe Mata Aier dari Fort de Kock.
  • Juara 2: Kuda Sinar Koto dari Pajacombo.


    Hotel Centrum-prijs:

  • Juara 1: Kuda Genoen dari Pajacombo dalam waktu 1 menit 4 detik.
  • Juara 2: Kuda Somar dari Pajacombo.


Signifikasi Sejarah

Laporan ini menegaskan tradisi panjang olahraga pacuan kuda (kuda pacu) di wilayah Pajacombo / Payakumbuh dan Fort de Kock sejak era kolonial awal abad ke-20. Nama-nama seperti Manggani (kawasan tambang emas bersejarah di Lima Puluh Kota) serta julukan kuda lokal seperti Hitam Meri, Sinar Koto, dan Kelaboe Mata Aier menjadi bukti keterikatan budaya dan identitas daerah yang terpelihara hingga saat ini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url