Napak Tilas PDRI dari Pulau Panjung Menuju Sumpur Kudus Terus ke Payakumbuh: 13 Jam Memungut Serpihan Sejarah yang Terlupakan

Bersama Afrinaldi, 2023

Matahari baru saja beranjak dari ufuk timur, tepat pukul 07.00 WIB, 2 Oktober 2023, ketika roda kendaraan motor kembali berputar. Di depan membentang aspal dan jalanan tanah sepanjang 204 kilometer—sebuah bentangan jarak yang bukan sekadar angka di atas odometer, melainkan labirin waktu yang menyimpan cetak biru keselamatan Republik Indonesia.

Napak tilas Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kali ini adalah sebuah perjalanan spartan. Selama 13 jam penuh ketegangan, guncangan, dan kekaguman, kami menyusuri rute-rute gerilya yang meliuk-liuk menembus perbatasan kabupaten, membelah hutan, hingga mendaki perbukitan sunyi Sumatra Barat. Dari Pulau Punjung di Dharmasraya, perjalanan merayap menuju utara, hingga akhirnya menyentuh garis akhir di Payakumbuh tepat saat malam merayap pekat pada pukul 20.00 WIB.

Bagi saya, perjalanan ini mengemban sebuah misi sakral yang lebih besar: memburu detail-detail tak tersentuh demi memperkaya data dan menghidupkan kembali ruh dalam buku saya, Jejak yang Terlupakan.
 

Babak Pertama: Menembus Gerbang Batas

Perjalanan fase pertama dimulai dengan membelah jalan lintas Sumatra, bergerak dari Pulau Punjung menuju Simpang Kiliran Jao, lalu berbelok ke Simpang Kamang Baru. Di jalur ini, sisa-sisa modernitas masih terasa di kanan-kiri jalan. Namun, begitu kendaraan berbelok meninggalkan jalan lintas utama menuju Maloro, atmosfer seketika berubah.

Dunia seolah melambat dan menyunyi saat kami memasuki wilayah Air Amo, Sungai Batuang, hingga Simpang Paru. Di sinilah rute gerilya yang sebenarnya menguji nyali. Kita dipaksa membayangkan bagaimana akhir tahun 1948 silam, para menteri, tentara, dan kurir PDRI menembus lebatnya hutan tropis, menyeberangi sungai-sungai deras, berteman nyamuk dan pacat, demi mengindari kepungan patroli militer Belanda yang haus darah.
 

Jembatan Silukah.

Babak Kedua: Jantung Pertahanan di Lembah Sumpur Kudus

Memasuki paruh kedua perjalanan, bentang alam menyuguhkan lanskap yang makin magis sekaligus sarat memori sejarah. Dari Simpang Paru, motor saya terus merayap menuju Silukah, lalu berturut-turut melewati Durian Gadang, Pinang, Manganti, hingga Calau. Di sepanjang tepian Batang Kuantan ini, jejak pelarian rombongan Ketua PDRI Mr. Syafruddin Prawiranegara terasa begitu pekat.

Kendaraan akhirnya memasuki Sumpur Kudus, wilayah terisolasi yang pernah dijuluki "Mekah Darat" sekaligus benteng terakhir kedaulatan negara. Dari Sumpur Kudus, napak tilas berlanjut ke Silantai, lalu menuju Sabiluru—sebuah tempat yang pernah menjadi suaka aman bagi pemancar radio pemancar PTT YBJ 6 setelah bergeser dari Lintau. Di sinilah kode-kode morse ditiupkan ke udara, mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih bernapas. Perjalanan babak ini ditutup di Tanjung Bonai Aur saat hari mulai merambat sore.
 

Lokasi Radio PTT YBJ 6 di Sabiluru

 Babak Ketiga: Menjemput Pelukan Senja di Luhak Limo Puluah

Ketika sisa-sisa cahaya matahari mulai meredup, fase terakhir perjalanan dimulai. Saya bergerak dari Tanjung Bonai Aur menembus Tigo Jangko, Buo, Tapi Selo, hingga Tanjung Bonai. Jalur ini merupakan wilayah pertahanan berlapis yang menghubungkan tanah Tanah Datar dengan kawasan berbukit di sekitarnya.

Malam mulai jatuh saat kendaraan merayap naik menembus Pauh Tinggi dan melintasi Halaban—nagari bersejarah di kaki Gunung Sago tempat titik mula deklarasi berdirinya PDRI pada 22 Desember 1948. Rasa lelah yang mendera selama belasan jam seketika luluh oleh rasa takzim yang mendalam. Tepat pukul 20.00 WIB, lampu-lampu Kota Payakumbuh menyambut kedatangan kami. Perjalanan 204 kilometer itu tuntas.
 

Merajut Kembali Jejak yang Terlupakan

Menyusuri rute spartan dari Dharmasraya hingga Payakumbuh dalam waktu 13 jam memberikan perspektif baru yang tidak akan pernah bisa didapatkan dari balik meja kerja atau tumpukan arsip yang kaku. Mengalami sendiri guncangan jalurnya, menghirup udaranya, dan menatap langsung topografi wilayahnya adalah cara terbaik untuk menyelami psikologi para pejuang masa lalu.

Napak tilas terbaru ini bukan sekadar perjalanan seremonial. Bagi saya, setiap jengkal tanah yang dilewati sepanjang rute Kamang Baru, Sumpur Kudus, hingga Halaban adalah pasokan data yang sangat berharga. Fakta-fakta lapangan yang baru ditemukan ini akan segera ditenun, melengkapi bab demi bab yang masih rumpang dalam manuskrip buku Jejak yang Terlupakan.

Buku tersebut harus disempurnakan. Sebab, kontribusi raksasa dari nagari-nagari sunyi yang kami lalui sepanjang hari ini terlalu besar untuk dibiarkan senyap dan terkubur oleh debu zaman. Mereka adalah penopang mata rantai kemerdekaan, dan melalui tulisan, kita memastikan sejarah mereka tetap menyala.

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url