Pulangnya Penjaga Memori Sumpur Kudus: Mengenang Etek Sukar dan Karamnya Saksi Tiga Zaman

 

Afrinaldi, Etek Sukar, Feni Efendi

Kabar duka itu datang berembus menjelang senja, membawa sepotong kepedihan yang melompati sekat-sekat benua. Di belahan bumi yang lain, di Santa Cruz, California, matahari baru saja terbit ketika sebuah pesan singkat via WhatsApp mendarat di ponsel Sjamsir Sjarif. Pria sepuh asal Biaro, Agam, yang akrab disapa Makngah itu tertegun membaca baris demi baris kalimat di layarnya.

"Takajuik Makngah mambaco kaba baambauan ko (Terkejut Makngah membaca kabar yang tersebar ini)," balasnya dengan jemari yang mungkin bergetar, mengingat kembali memori tahun 1958 hingga 1960 saat ia harus ijok—mengungsi dan bergerilya—ke pedalaman Sumpur Kudus semasa pergolakan PRRI. "Baliau urang nan sangat bajaso ka Makngah waktu di Sumpu..."

Kepergian sosok yang ditangisi itu bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga yang ditinggalkan, melainkan sebuah kehilangan besar bagi narasi sejarah kita. Perempuan sepuh itu adalah Etek Sukar, sang penjaga memori dari Sumpur Kudus.
Bertamu ke Rumah Sang Saksi Hidup

Ingatan saya melayang kembali ke tahun 2018. Saat itu, saya berkesempatan menemani Uda Feni Efendi menyusuri jalanan Sumpur Kudus, sebuah kawasan yang karib disebut sebagai "Mekah Barat" sekaligus benteng terakhir pertahanan kedaulatan negara. Misi kami siang itu sederhana namun sakral: menemui Etek Sukar untuk memungut serpihan-serpihan sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang masih tersisa di kepalanya.

Menemui Etek Sukar seperti membuka sebuah ensiklopedia hidup yang bernyawa. Tubuhnya boleh saja merenta dimakan usia, namun guratan di wajahnya adalah peta dari tiga zaman yang pernah dilaluinya langsung: kolonialisme Hindia Belanda, kerasnya pendudukan Jepang, hingga fajar emas era Kemerdekaan.

Ada satu kebiasaan unik yang membuat siapa saja merasa dekat dengannya. Meski usianya sudah sangat lanjut, masyarakat Sumpur Kudus tetap memanggilnya "Etek Sukar". Panggilan itu abadi karena beliau selalu menyapa dan menyebut dirinya sendiri dengan panggilan hangat itu: Etek. Di ruang tamunya yang bersahaja, cerita mengalir begitu renyah. Beliau adalah tipe penutur yang memikat; sebuah penilaian yang saya yakin juga diamini oleh siapa saja yang pernah duduk bersila di hadapannya.
Suka Duka di Dua Babak Pergolakan

Lewat tutur katanya yang jernih, Etek Sukar membawa kami melintasi lorong waktu, membedah suka dan duka masa perjuangan PDRI akhir tahun 1948. Sumpur Kudus kala itu adalah jantung pertahanan tempat Mr. Syafruddin Prawiranegara menegakkan kembali marwah Republik yang nyaris roboh. Etek Sukar menyaksikan bagaimana rakyat bahu-bahu menyembunyikan para pemimpin bangsa, berbagi ubi dan beras, di bawah ancaman patroli militer Belanda.

Namun, garis takdir hidup Etek Sukar tidak berhenti di sana. Jalinan kisahnya kian rumit dan emosional ketika memasuki babak ketegangan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada akhir tahun 1950-an.

Suami beliau, Baiyar Ahmad, adalah seorang tentara sekaligus pejuang asal Bukittinggi, Agam. Menjadi istri seorang prajurit di tengah pergolakan saudara berarti harus siap mengakrabkan diri dengan kecemasan, desing peluru, dan hidup berpindah-pindah. Rumah dan kampung halaman Etek Sukar di Sumpur Kudus bertransformasi menjadi suaka bagi para pelarian politik dan gerilyawan yang datang dari berbagai daerah—termasuk anak-anak muda seperti Makngah Sjamsir Sjarif yang kala itu mencari perlindungan.

Di masa-masa sulit itulah, kebaikan tangan Etek Sukar menjadi penyelamat hidup banyak orang. Ia memberi makan, menyediakan tempat bernaung, dan merawat harapan di tengah pekatnya kabut perang saudara.

Sunyinya Lentera yang Padam

Kini, lentera dari Sumpur Kudus itu telah padam untuk selamanya. Bersamaan dengan berpulangnya Etek Sukar sore itu, satu lagi gerbang komunikasi langsung dengan masa lalu telah tertutup. Kita tidak bisa lagi mendengar langsung bagaimana getaran suaranya saat menceritakan deru pesawat Cocodot Belanda, atau bagaimana ketegaran hatinya melepas sang suami ke medan laga.

Pesan WhatsApp dari California terjauh menjadi bukti shahih: jasa perempuan dari pedalaman Sumpur Kudus ini melampaui batas waktu dan geografi. Etek Sukar mungkin tidak pernah tertulis dalam buku-buku teks sejarah sekolahan yang kaku. Nama beliau tidak dipahat di monumen-monumen megah.

Namun, di hati para pejuang yang pernah diselamatkannya, dan di dalam ingatan kita yang beruntung pernah mendengarkan kisahnya, Etek Sukar adalah pahlawan dalam senyap. Selamat jalan, Etek. Tunai sudah tugasmu menjadi saksi bagi tegaknya negeri ini.

 Afrinaldi, tinggal di Sumpur Kudus

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url