dr. Sjofjan Rassat
dr. Sjofjan Rassat, lahir di Payakumbuh pada 23 Oktober 1892, adalah sosok dokter Indonesia yang mengabdikan dirinya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Lulus dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada tahun 1918, ia memulai karirnya di Bangkinang, kemudian melanjutkan pengabdiannya di Kayutanam, Padang, dan Jakarta. Kiprahnya yang panjang dan penuh dedikasi menjadikannya salah satu pelopor kesehatan masyarakat di Indonesia. Sjofjan Rassat lahir dari keluarga terpandang. Ayahnya, Rassat Soetan Saidi, adalah seorang tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh di Payakumbuh. Pendidikan kedokteran yang ditempuhnya di STOVIA, sekolah kedokteran bergengsi pada masa itu, memberinya landasan yang kuat untuk berkontribusi dalam bidang kesehatan.
Selama bertugas di Kayutanam dan Padang, dr. Sjofjan Rassat menunjukkan perhatian besar pada kesehatan lingkungan dan pencegahan penyakit. Ia aktif mengkampanyekan penggunaan kakus yang sehat, memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat, dan melatih kader-kader kesehatan. Ia juga berperan penting dalam pengembangan fasilitas kesehatan, termasuk membantu INS Kayutanam memperoleh tanah untuk praktik siswa dan memimpin rumah sakit jiwa dan bersalin di Padang. Salah satu kontribusi pentingnya adalah ketika ia meminta fatwa kepada ulama Minangkabau terkait kontroversi tusukan limpa (miltpunctie). Upaya ini menunjukkan bahwa dr. Sjofjan Rassat tidak hanya menguasai ilmu kedokteran modern, tetapi juga memahami pentingnya pendekatan budaya dan agama dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Setelah pindah ke Jakarta pada tahun 1939, dr. Sjofjan Rassat terus berkiprah dalam bidang kesehatan. Ia bertugas di bidang pemberantasan malaria dan kemudian menjadi dokter Istana Merdeka atas permintaan Menteri Kesehatan Johannes Leimena. Dedikasinya dalam melayani masyarakat dan negara terus berlanjut hingga masa pensiunnya pada tahun 1963. dr. Sjofjan Rassat meninggal dunia di Bandung pada 4 Mei 1966, meninggalkan warisan berharga dalam dunia kesehatan Indonesia. Karya-karya tulisnya, seperti "Hidup Sehat" dan "Ibu dan Anak: Pemeliharaan Wanita Hamil dan Baji," menjadi sumber informasi penting bagi masyarakat.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh