Geopark Jembatan Ratapan Ibu (Hitam Putih)
Geopark Jembatan Ratapan Ibu (Hitam Putih). Foto: Ijot Goblin
Dibangun pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1834, Jembatan Ratapan Ibu bukan sekadar sarana penyeberangan di atas aliran Batang Agam, melainkan saksi bisu dari peristiwa kelam perjuangan rakyat Payakumbuh. Nama jembatan ini abadi untuk mengenang kepedihan para ibu Minangkabau yang meratapi putra-putra terbaik mereka saat dieksekusi oleh tentara Belanda dan dijatuhkan ke aliran sungai.
Dokumentasi Geopark Jembatan Ratapan Ibu Hitam Putih menghadirkan sudut pandang artistik yang sarat akan emosi. Pendekatan fotografi monokrom sengaja mempertegas tekstur batu tua, garis arsitektur klasik, serta kontras pencahayaan yang kuat. Nada hitam dan putih ini berhasil mengeliminasi distraksi warna, membawa siapapun yang memandangnya masuk ke dalam keheningan sejarah dan perenungan mendalam.
Lewat jepretan bernyawa dari Ijot Goblin, monumen bersejarah ini tampil begitu anggun sekaligus melankolis—sebuah pengingat visual yang kuat akan pentingnya merawat ingatan kolektif, menghargai jasa para pahlawan, dan menjaga warisan cagar budaya di pusat Kota Payakumbuh.
