Kolonel Caj Yuni Hermon
Kolonel Caj Yuni Hermon merupakan putra terbaik dari Padang Japang, Nagari VII Koto Talago, Kabupaten Lima Puluh Kota, yang membawa harum nama tanah kelahirannya di kancah militer nasional. Lahir pada tahun 1961, perjalanan hidup beliau mencerminkan filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah." Sebagai seorang putra daerah, ia tidak hanya tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Minangkabau, tetapi juga ditempa oleh semangat pengabdian yang tinggi kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam struktur sosial adat, beliau memegang peranan penting sebagai seorang pemangku adat dengan gelar Datuk Bosea dari Suku Sipisang. Gelar ini bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan amanah besar untuk membimbing kaumnya dan menjaga kelestarian tradisi di tengah arus modernisasi. Integritas beliau sebagai seorang perwira TNI yang juga seorang pemuka adat menunjukkan bahwa karier militer dan tanggung jawab sosial-kultural dapat berjalan beriringan secara harmonis.
Jejak intelektual dan kepemimpinan beliau telah terlihat sejak masa muda, khususnya saat menjadi mahasiswa di IAIN (kini UIN) Imam Bonjol Padang. Pada era 1980-an, beliau aktif sebagai anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) IAIN Imam Bonjol, sebuah organisasi yang menjadi kawah candradimuka bagi pembentukan karakter disiplin dan jiwa patriotisme. Pengalaman di Menwa inilah yang menjadi fondasi kokoh sebelum beliau akhirnya memantapkan langkah untuk berkarier secara profesional di dunia militer. Dalam sebuah perbincangan akrab dengan penyair ternama Adri Sandra, Kolonel Yuni Hermon mengungkapkan bahwa pembentukan jati dirinya tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh spiritual di kampung halaman. Salah satu sosok yang paling berpengaruh bagi beliau adalah Engku Hasan Padang Kandih, seorang ulama kharismatik dari Padang Japang. Ajaran dan keteladanan dari Engku Hasan inilah yang menanamkan prinsip moral yang kuat, sehingga beliau dikenal sebagai perwira yang tetap religius dan rendah hati dalam menjalankan tugas negara.
Karier militer beliau mencapai puncaknya melalui berbagai posisi strategis, termasuk saat menjabat sebagai Staf Khusus Pangdam II/Sriwijaya. Penugasan ini merupakan bukti kepercayaan pimpinan TNI atas kompetensi dan kapabilitas beliau dalam memberikan telaah serta pertimbangan strategis bagi komando wilayah di Sumatera Selatan. Kehadiran beliau di lingkaran utama Kodam II/Sriwijaya menunjukkan bahwa putra Lima Puluh Kota memiliki daya saing yang tinggi di tingkat regional maupun nasional. Kenangan manis pengabdian beliau juga tertambat kuat di Kota Palembang, di mana beliau berdinas sekitar sepuluh tahun yang lalu. Selama masa dinasnya di "Bumi Sriwijaya," beliau dikenal sebagai perwira yang mampu menjalin komunikasi baik dengan berbagai lapisan masyarakat. Masa-masa di Palembang tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan kariernya, di mana beliau berhasil mengimplementasikan keahlian di bidang ajudan jenderal (Caj) untuk mendukung efektivitas organisasi militer.
Secara keseluruhan, perjalanan hidup Kolonel Caj Yuni Hermon Dt. Bosea adalah representasi dari perpaduan tiga pilar utama: agama, adat, dan negara. Dari Padang Japang hingga ke Palembang, beliau telah membuktikan bahwa akar budaya yang kuat dan pendidikan agama yang matang adalah modal utama dalam meraih kesuksesan. Beliau menjadi inspirasi bagi generasi muda di Nagari VII Koto Talago bahwa pengabdian kepada tanah air adalah bentuk ibadah yang luhur, tanpa pernah melupakan identitas diri sebagai putra Minangkabau.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh