Drs Abrar
Drs Abrar menjadi Bupati Pesisir Selatan periode periode 1972–1980. Beliau lahir 15 Juli 1932 dan meninggal dunia 10 Juni 1999 di Padang. Beliau berasal dari Bungo Tanjuang, Nagari Maek, suku Pitopang. Salah satu putra Luhak Limo Puluah yang pernah menjadi bapati di Kabupaten Pesisir Selatan (periode 1972-1980) adalah Drs. Abrar. Beliau juga pernah menjadi direktur Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Bukittinggi (1967). Suku Pitopang. Beliau lahir di Bungo Tanjuang, Nagari Maek, Lima Puluh Kota, pada 15 Juli 1932 dan meninggal dunia 10 Juni 1999 di Padang. Beliau teman sekamar Hasan Basri Durin sewaktu kuliah di UGM.
Drs. Abrar, lahir di Maek, Lima Puluh Kota, pada tanggal 15 Juli 1932, adalah birokat dan bupati Kabupaten Pesisir Selatan (1972-1980). Drs. Abrar tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana, ayahnya, Rusli, dan ibunya, Saleha, menanamkan nilai-nilai luhur yang kelak membimbing langkahnya dalam meniti kehidupan. Kehidupan masa kecilnya diwarnai oleh kebersamaan dengan saudara kandungnya, Siti, dan saudara seibunya, Samsul Bahri. Akar keluarga yang kuat ini menjadi landasan kokoh bagi perkembangan kepribadian dan semangat pengabdian Drs. Abrar di kemudian hari.
Perjalanan pendidikan Drs. Abrar dimulai di Sekolah Dasar Maek, tempat ia menimba ilmu dasar. Ketekunannya membawanya melanjutkan pendidikan ke SMP 1 Payakumbuh, sebuah kota yang kelak memiliki ikatan emosional tersendiri baginya. Semangat untuk meraih ilmu yang lebih tinggi mengantarkannya ke Yogyakarta, di mana ia menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Yogyakarta. Kota pelajar ini tentu memberikan warna dan perspektif baru dalam pembentukan intelektualnya. Puncak pendidikan formalnya diraih di Universitas Gajah Mada, di mana ia berhasil menyelesaikan Sarjana Ilmu Sosial Politik. Sayangnya, tahun kelulusannya tidak tercatat, namun keberhasilannya meraih gelar sarjana menandai kesiapannya untuk berkontribusi lebih luas bagi bangsa dan negara.
Karier Drs. Abrar sebagai abdi negara dimulai dengan penempatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kalimantan Barat. Pengalaman bertugas di luar tanah kelahirannya tentu memberikan wawasan yang berharga tentang keberagaman dan tantangan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia. Dedikasinya membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Sumatera Barat, di mana ia melanjutkan pengabdiannya sebagai PNS di Kantor Gubernur Provinsi Sumatera Barat. Jenjang kariernya terus menanjak, dengan amanah yang dipercayakan kepadanya sebagai Direktur APDN Bukittinggi, sebuah institusi penting dalam mencetak kader-kader pemerintahan daerah. Sebelum mengemban tugas yang lebih tinggi, ia sempat kembali bertugas sebagai asisten di Kantor Gubernur Provinsi Sumatera Barat, memperkaya pengalaman birokrasinya.
Sebuah tonggak penting dalam karier Drs. Abrar yaitu ketika ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Pesisir Selatan dari tahun 1972 hingga 1980. Selama delapan tahun memimpin Pesisir Selatan, Drs. Abrar tentu menghadapi berbagai dinamika pembangunan dan tantangan sosial. Kepemimpinannya diyakini memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan daerah tersebut, meskipun detail konkret mengenai program dan kebijakan selama masa jabatannya tidak disebutkan. Setelah mengakhiri masa baktinya sebagai bupati, Drs. Abrar kembali mengemban amanah di tingkat provinsi, menjabat sebagai Kepala BKPMD Provinsi Sumatera Barat dan kemudian sebagai Pembantu Gubernur Wilayah I Provinsi Sumatera Barat. Kepercayaan yang terus diberikan kepadanya menunjukkan kompetensi dan dedikasinya dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.
Pengalaman dan integritas Drs. Abrar kembali diuji ketika ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Inspektorat Provinsi Sumatera Barat dan Kepala Kantor BP7 Provinsi Sumatera Barat. Kedua posisi ini menuntut ketelitian, kejujuran, dan komitmen yang tinggi dalam menjaga tata kelola pemerintahan yang baik dan mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila. Kiprahnya di berbagai posisi strategis di pemerintahan Provinsi Sumatera Barat menunjukkan loyalitas dan pengabdiannya yang tak kenal lelah bagi kemajuan daerahnya.
Dalam kehidupan pribadinya, Drs. Abrar membangun bahtera rumah tangga dengan Nurma Djambi pada tanggal 26 November 1961. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran empat orang anak yang membanggakan: Prof. Dr. Ir. Maria Endo Mahata, MS, Ir. Nora Endo Mahata, M.Sc, Putri Golon Endo Mahata, SH, M.M. Keberhasilan anak-anaknya dalam berbagai bidang menjadi cerminan dari pendidikan dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh Drs. Abrar dan Ibu Nurma dalam keluarga.
Setelah mengabdikan diri sepenuhnya bagi masyarakat dan negara, Drs. Abrar menghembuskan napas terakhir di Kota Padang pada tanggal 10 Juni 1999. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekan-rekan sejawatnya. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman Umum Tunggul Hitam Padang, menjadi peristirahatan terakhir bagi seorang putra Maek yang telah menorehkan jejak pengabdian yang berarti bagi Sumatera Barat.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh