Laboratorium Psychology Manusia


Oleh Adal Bonai

Di ruang yang membatasi langkah dan kebebasan, manusia justru dipaksa berjalan lebih jauh ke dalam dirinya sendiri. Ketika dunia luar mengecil, suara batin terdengar semakin keras. Topeng perlahan runtuh, dan yang tersisa bukan hanya kesalahan, tetapi jejak panjang dari luka yang belum pernah diberi nama.

Perilaku yang dianggap buruk tidak selalu lahir dari niat jahat. Terkadang, perilaku itu terbentuk sebagai cara bertahan dari pengalaman yang terlalu berat untuk dipahami. Di balik amarah mungkin tersimpan ketakutan. Di balik kekerasan mungkin ada rasa tidak berdaya. Di balik penolakan terhadap orang lain, mungkin ada seseorang yang dahulu terlalu sering ditolak.

Namun, luka bukan pembenaran untuk terus melukai. Memahami akar suatu kesalahan tidak berarti menghapus tanggung jawab. Justru melalui pemahaman, manusia mulai berani menghadapi akibat dari tindakannya dan memutus pola yang selama ini menguasai hidupnya.

Di tengah keterbatasan, saya mengenal pemikiran tentang *"logotherapy", bahwa manusia membutuhkan makna untuk bertahan. Kita mungkin tidak selalu dapat memilih keadaan yang terjadi, tetapi masih memiliki ruang di dalam diri untuk menentukan sikap, memberi arti pada penderitaan, dan memilih akan menjadi manusia seperti apa setelah melewatinya.

Ketika banyak hal tidak lagi dapat dikendalikan, manusia masih dapat mencari sesuatu yang tidak mudah dirampas yaitu "makna". Penderitaan tidak otomatis menjadikan seseorang lebih baik. Namun, ketika penderitaan dipahami, dihadapi, dan diberi arah, ia dapat menjadi awal dari perubahan.

Laboratorium Psychology Manusia bukan sekadar ruang untuk melihat siapa yang bersalah. Ini adalah ruang untuk membongkar manusia sampai ke bagian paling dalam: luka, ketakutan, pilihan, tanggung jawab, dan makna hidup.

Bukan hanya bertanya, “Kesalahan apa yang telah dilakukan?” Tetapi juga, “Luka apa yang membentuknya, dan makna apa yang dapat menghentikannya dari mengulangi kesalahan yang sama?

Sebab terkadang, sebelum seseorang melakukan kesalahan kepada dunia, ada bagian dalam dirinya yang lebih dahulu dilukai oleh dunia. Namun pada akhirnya, ia tetap harus memilih untuk terus hidup sebagai hasil dari lukanya, atau mulai membangun dirinya melalui makna.

Adal Bonai adalah pendiri ROE (Recovery Oriented Education), yang mengintegrasikan psikoterapi Islam, kearifan budaya Minangkabau, dan pendekatan berbasis trauma dalam pendampingan pemulihan. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url